Internasional
Analis Israel: Tak Ada yang Mampu Menghantam AS Seefektif Iran Sejak Perang Vietnam

Ahlulbait Indonesia, 18 Juli 2026 — Analis keamanan Israel, Alon Mizrahi, menyatakan kemampuan militer Iran dalam menghadapi pasukan Amerika Serikat melampaui berbagai perhitungan strategis yang selama ini berkembang. Menurutnya, belum ada angkatan bersenjata yang mampu memberikan pukulan seefektif Iran terhadap militer AS sejak Perang Vietnam.
Dalam unggahan di platform X pada Sabtu (18/7/26), Mizrahi menilai efektivitas operasi militer Iran berada di luar kalkulasi Washington dan para sekutunya.

“Tidak ada tentara dalam sejarah, selain Viet Cong di Vietnam, yang mampu menghantam pasukan Amerika dengan efektivitas dan ketepatan seperti yang dilakukan angkatan bersenjata Iran,” tulisnya.
Ia juga melontarkan kritik tajam terhadap militer Amerika Serikat dengan mengatakan bahwa Washington belum pernah benar-benar berhadapan dengan kekuatan militer yang setara.
Mizrahi lebih lanjut menulis bahwa konfrontasi tersebut telah menimbulkan tekanan psikologis yang signifikan di kalangan personel militer Amerika, bahkan menyebut sebagian dari mereka mengalami “keruntuhan psikologis”.
Menurutnya, salah satu keunggulan utama Iran terletak pada kemampuan intelijen dan penguasaan medan operasi. Dikatakannya seluruh posisi militer Amerika Serikat di Asia Barat telah dipetakan, setiap pangkalan berada dalam jangkauan serangan, dan seluruh fasilitas penting AS terus berada di bawah pengawasan Iran.
Mizrahi menggambarkan pola tempur Iran sebagai perpaduan antara teknologi militer modern dengan semangat tempur yang berakar pada nilai-nilai nasional dan keagamaan. Ia menyebut kombinasi tersebut menciptakan dinamika peperangan yang sulit diprediksi.
Ia juga menilai Iran belum mengerahkan seluruh kemampuan militernya.
“Iran baru menggunakan sebagian kecil dari kapasitasnya. Eskalasi konflik ini masih memiliki banyak tingkatan,” ujarnya.
Menutup analisanya, Mizrahi menyebut konflik yang sedang berlangsung memiliki dimensi historis yang jauh melampaui konflik regional. Ia menggambarkannya sebagai “pertempuran terbesar dan paling epik sejak kemenangan Tentara Merah atas Jerman Nazi pada Perang Dunia II.”
Dalam beberapa hari terakhir, Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan. Iran menyebut Washington kembali menyerang wilayahnya, termasuk infrastruktur sipil seperti jembatan, fasilitas desalinasi air, dan pembangkit listrik. Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan telah menyerang sejumlah posisi militer Amerika Serikat di kawasan dan memperingatkan bahwa respons yang lebih keras akan menyusul. []






