Internasional
Arab Saudi Terjebak dalam Jalan Buntu Strategis

Ahlulbait Indonesia, 6 Agustus 2026 – Foreign Policy menilai Arab Saudi menghadapi jalan buntu strategis di tengah meningkatnya ketegangan dengan Ansarullah Yaman. Dalam analisis yang dikutip Al Mayadeen pada Kamis (6/8/2026), majalah tersebut menyebut Riyadh terjepit di antara Iran dan Ansarullah, sementara kebijakan Amerika Serikat memperumit posisi kerajaan.
Menurut laporan tersebut, eskalasi terbaru antara Arab Saudi dan Ansarullah merupakan langkah yang tidak diperlukan dan lahir dari kesalahan perhitungan. Foreign Policy menilai alasan Riyadh terlibat dalam konfrontasi itu masih belum jelas dan memperkirakan Arab Saudi bertindak untuk mendukung pemerintahan yang berbasis di Aden.
Baca juga: WP: Trump Murka kepada Hegseth di Camp David akibat Salah Perhitungan Perang Iran
Majalah tersebut juga menyoroti serangan terhadap Bandara Internasional Sanaa. Menurut analisis tersebut, serangan itu bertujuan mencegah pendaratan pesawat yang disebut membawa delegasi Ansarullah pulang ke Yaman setelah menghadiri prosesi pemakaman Ayatullah Sayyid Ali Khamenei.
Foreign Policy menilai bahwa sekalipun penerbangan tersebut dianggap melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB, merusak landasan pacu bandara bukanlah pilihan yang rasional. Mengizinkan pesawat mendarat dinilai sebagai langkah yang lebih sederhana dan berisiko lebih rendah.
Majalah itu menambahkan dampak pengeboman bandara jauh lebih besar dibandingkan manfaat yang mungkin diperoleh sehingga Riyadh seharusnya dapat menghindari tindakan tersebut.
Riyadh Menghadapi Ansarullah Sendirian
Analisis tersebut menyebut Arab Saudi kini praktis menghadapi Ansarullah tanpa dukungan langsung dari negara-negara Arab di kawasan. Menurut Foreign Policy, sebagian besar negara tetangga tidak bersedia menanggung risiko konfrontasi dengan kelompok tersebut.
Majalah itu juga mengkritik kebijakan Washington yang dinilai memperumit posisi Riyadh. Menurut analisis tersebut, masa kepresidenan Donald Trump bertepatan dengan periode yang penuh tantangan bagi Arab Saudi.
Foreign Policy mengingatkan bahwa Riyadh sebelumnya menolak kesepakatan nuklir Iran yang dicapai pada masa Presiden Barack Obama. Namun pada era Trump, akses Arab Saudi terhadap teknologi nuklir justru dikaitkan dengan normalisasi hubungan dengan Israel, kebijakan yang dinilai merugikan kepentingan Riyadh.
Baca juga: Ansarullah Luncurkan Rudal Balistik, Ledakan Hebat Guncang Tanker Saudi di Teluk Aden
Majalah itu juga menilai operasi militer yang oleh Trump disebut “Epic Rage” memperkuat posisi Iran di hadapan negara-negara Arab di pesisir barat Teluk. Menurut analisis tersebut, terdapat kemungkinan Washington akan menarik diri dari konfrontasi dengan Iran setelah menemukan jalan keluar politik dan meninggalkan Arab Saudi beserta sekutu regional lainnya menghadapi dampak krisis.
Kebijakan Arab Saudi Perlu Dievaluasi
Pada bagian penutup, Foreign Policy menyebut 2026 menjadi tahun yang berat bagi Arab Saudi. Kebijakan Riyadh yang mengandalkan dukungan maupun kompromi dengan berbagai aktor dinilai belum memberikan hasil yang diharapkan.
Majalah tersebut menyimpulkan Arab Saudi memerlukan peninjauan ulang terhadap strategi kawasan serta pemahaman yang lebih mendalam mengenai dinamika geopolitik di sekitarnya apabila ingin mempertahankan pengaruhnya di Timur Tengah. []
Baca juga: The Telegraph: Trump Gagal Menghapus Warisan Qassim Soleimani







