Ikuti Kami Di Medsos

Daerah

Ustadz Zainal Nahrawi: Memaknai Al-Imam Husein AS Sebagai Simbol Kemanusiaan

Published

on

Bondowoso, 28 Juni 2026 – Peringatan Hari Asyura selalu menjadi momentum refleksi spiritual yang mendalam. Namun, di tengah masyarakat, tak jarang momentum ini disalahpahami dan terjebak dalam sekat-sekat sektarian. Sebuah pesan penting dan mencerahkan lahir dari mimbar Pondok Pesantren Al Musthafa, Jambesari, Bondowoso, pada Kamis (25/6).

Di hadapan sekitar 500 hadirin, Ustadz Zainal Nahrawi, Ketua Departemen Humas Media dan Penerangan (HMP) Dewan Pimpinan Wilayah Ahlulbait Indonesia (DPW ABI) Jawa Timur, menegaskan sebuah narasi luhur: perjuangan Al-Imam Husein AS melampaui batas-batas mazhab, etnis, dan bahkan agama.

Dalam ceramahnya, beliau memperingatkan umat agar tidak menjadikan kesalahpahaman sejarah sebagai awal mula perpecahan. Ada narasi sempit yang kerap beredar bahwa Al-Imam Husein AS dan peringatan Asyura secara eksklusif hanyalah milik penganut Syiah. Pandangan ini ditepis secara tegas dengan membedah kembali fakta sejarah di Padang Karbala.

Melampaui Sekat Identitas Kelompok

Perjalanan Al-Imam Husein AS keluar dari Makkah menuju Madinah, hingga akhirnya menemui syahadah di Karbala, bukanlah sebuah agenda sektarian. Ustadz Zainal Nahrawi menekankan bahwa gerakan tersebut tidak mewakili ego suatu entitas tertentu.

“Al-Imam Husein bukan milik orang Syiah saja, bukan milik Ahlussunnah wal Jamaah saja, bukan milik satu agama. Bukan pula milik satu klan atau satu etnis,” tegasnya di hadapan jamaah.

Untuk membuktikan universalitas perjuangan tersebut, beliau memaparkan komposisi Ashabul Husein (sahabat-sahabat Al-Imam Husein) yang gugur bersamanya membela kebenaran di Karbala. Barisan tersebut diisi oleh individu-individu dari latar belakang yang sangat majemuk, di antaranya:

Zuhair bin Qain: Seorang tokoh yang merepresentasikan kalangan Ahlussunnah wal Jamaah.
Wahab: Seorang pemuda yang memeluk agama Nasrani.
John: Seorang budak yang membebaskan jiwanya dengan berpihak pada jalan kebenaran.

Keberagaman para syuhada Karbala ini menjadi bukti sejarah yang tak terbantahkan bahwa panggilan Al-Imam Husein AS bukanlah panggilan kelompok, melainkan panggilan nurani.

Fondasi Kemanusiaan dan Anti-Kezaliman

Jika bukan milik satu agama atau mazhab, lantas milik siapakah Al-Imam Husein AS? Ustadz Zainal Nahrawi memberikan konklusi yang sangat relevan dengan kondisi zaman ini: Al-Imam Husein adalah milik mereka yang menjadikan kemanusiaan sebagai fondasi kehidupannya.

Beliau adalah representasi abadi bagi setiap insan yang menentang kezaliman, menolak perbudakan, dan melawan kesombongan para tiran. Siapa pun yang berdiri bersama kebenaran dan keadilan, pada hakikatnya, ia sedang berdiri bersama barisan Al-Imam Husein AS.

Oleh karena itu, membatasi sosok agung pembela nilai-nilai profetik ini hanya untuk satu kelompok adalah sebuah kekeliruan besar. Tragedi Karbala adalah tragedi kemanusiaan. Memperingati Asyura berarti memperingati tegaknya harga diri manusia di hadapan kebatilan.

Pesan dari Jambesari, Bondowoso ini patut menjadi renungan bersama. Sudah saatnya umat Islam, dan umat manusia secara luas, melihat Al-Imam Husein AS bukan sebagai titik perbedaan, melainkan sebagai titik temu—sebuah mercusuar yang menyatukan siapa saja yang merindukan tegaknya keadilan di muka bumi.

Continue Reading