Ikuti Kami Di Medsos

Daerah

Sekolah Bisnis ABI Dibuka, Ust. Zahir Yahya Tekankan Pentingnya Kemandirian Ekonomi

Published

on

BEKASI, 27 September 2026 — Ketua Umum Ahlulbait Indonesia (ABI) Ust. Zahir Yahya menekankan pentingnya kemandirian ekonomi sebagai fondasi bagi keberlangsungan dan perkembangan sebuah komunitas.

Hal itu disampaikan Ust. Zahir saat memberikan keynote speech dalam pembukaan Sekolah Bisnis ABI Jenjang 1 Batch 1 di Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Pertanian, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Jumat (25/9/2026).

Menurut Ust. Zahir, sebuah komunitas tidak cukup hanya membangun kekuatan di bidang sosial dan kelembagaan. Kemandirian ekonomi juga diperlukan agar komunitas memiliki kemampuan menentukan sendiri tata nilai, orientasi sosial, dan arah perjuangannya.

“Untuk menjadi komunitas yang bebas, kita harus terlebih dahulu menciptakan kemandirian, khususnya yang berbasis kepada kemandirian secara ekonomi,” ujar Ust. Zahir dalam sambutannya.

Ust. Zahir mengatakan, ekonomi bukan sekadar persoalan memenuhi kebutuhan hidup, tetapi berkaitan erat dengan kemampuan sebuah komunitas untuk bertahan dan berkembang.

“Ekonomi adalah faktor penting bagi pembentukan sebuah komunitas dan juga bagi keberlangsungan sebuah komunitas,” kata Ust. Zahir.

Karena itu, menurut Ust. Zahir, pemberdayaan ekonomi tidak boleh berhenti sebagai wacana. Komunitas perlu membangun ekosistem yang memberikan akses kepada anggotanya terhadap pengetahuan, keterampilan, teknologi, pasar, faktor produksi, dan jaringan distribusi.

Ust. Zahir menyebut Sekolah Bisnis ABI merupakan salah satu program dari Lembaga Inkubasi ABI yang diluncurkan Departemen Pemberdayaan Ekonomi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) ABI. Program tersebut ditujukan antara lain untuk membina dan mendampingi pelaku usaha, terutama usaha rintisan dan pelaku usaha pemula.

Pembukaan Sekolah Bisnis ABI Batch 1 digelar secara luring dan daring dari Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Pertanian, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Kegiatan ini diikuti sembilan tim peserta yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, baik secara langsung maupun melalui platform daring.

Selain peserta Sekolah Bisnis ABI, acara pembukaan turut dihadiri Ketua Umum ABI Ust. Zahir Yahya, Sekjen ABI Sayyid Ali Ridho, Ketua Pimpinan Nasional (Pimnas) Muslimah ABI Ustadzah Hayati Muhammad, dan Ketua Pimpinan Nasional (Pimnas) Pandu ABI Sayyid Muhammad Baqir Idrus Alatas. Kehadiran mereka menjadi bagian dari pembukaan program yang digagas Departemen Pemberdayaan Ekonomi DPP ABI.

Dalam keynote speech-nya, Ust. Zahir juga menekankan bahwa aktivitas ekonomi bagi seorang Muslim tidak terlepas dari nilai dan prinsip keyakinan. Menurut Ust. Zahir, kegiatan produksi, distribusi, konsumsi, pembiayaan, hingga investasi memiliki keterkaitan dengan prinsip agama.

Ust. Zahir kemudian menjelaskan tiga landasan yang perlu diperhatikan dalam aktivitas ekonomi, yakni keyakinan, norma hukum, dan moral. Ketiganya, menurut Ust. Zahir, menjadi kerangka yang membuat aktivitas ekonomi tidak sekadar berorientasi pada perolehan materi, tetapi juga memiliki dimensi spiritual dan sosial.

Ust. Zahir juga menekankan pentingnya membangun ekonomi secara bersama-sama di tengah komunitas. Ia mendorong agar kemandirian ekonomi tidak dimaknai sebagai keberhasilan individu semata.

“Jangan kaya sendiri, jangan mandiri sendiri, tetapi kaya bersama-sama, mandiri bersama-sama, dan mulia bersama-sama,” ujar Ust. Zahir.

Ketua Departemen Pemberdayaan Ekonomi DPP ABI, Sayyid Ali Reza

Sementara itu, Ketua Departemen Pemberdayaan Ekonomi DPP ABI, Sayyid Ali Reza, mengatakan Sekolah Bisnis ABI dibangun dengan empat pilar utama, yakni spiritual, edukasi, kemandirian komunitas, dan sosial.

Menurut Sayyid Ali Reza, aspek spiritual diperlukan agar kegiatan usaha tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga memperhatikan kejujuran, amanah, menepati janji, serta prinsip halal.

Adapun dari sisi edukasi, peserta akan mendapatkan pembekalan terkait manajemen keuangan, etika usaha, pemasaran, analisis kekuatan dan kelemahan usaha, pengambilan keputusan, hingga penyusunan rencana kerja.

“Harapan besar kami adalah mencetak pengusaha-pengusaha baru dan memperkuat pengusaha yang telah ada agar mandiri, tidak bergantung kepada pihak lain, serta mampu membuka lapangan kerja bagi sesamanya,” kata Sayyid Ali Reza.

Menurut Sayyid Ali Reza, pengembangan usaha juga diharapkan dapat membentuk jaringan ekonomi antarpelaku usaha dalam komunitas sehingga tercipta ekosistem yang saling mendukung.

Ia mengatakan, bisnis yang berkembang juga diharapkan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar dan masyarakat yang membutuhkan.

Selain pembukaan Sekolah Bisnis ABI, kegiatan tersebut dirangkaikan dengan Iqtishaduna Talk 3 yang mengangkat tema “Membuka Pasar Ekspor Produk Komunitas”.

Diskusi tersebut membahas peluang membawa produk-produk komunitas ke pasar yang lebih luas. Agenda ini menjadi ruang bagi peserta untuk memperoleh wawasan mengenai potensi pengembangan usaha hingga pasar ekspor.

Sekolah Bisnis ABI Batch 1 berlangsung selama tiga hari, yakni 25-27 September 2026. Program ini menjadi bagian dari upaya Departemen Pemberdayaan Ekonomi DPP ABI untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha sekaligus membangun kemandirian ekonomi di lingkungan komunitas Ahlulbait Indonesia.

Dalam sambutannya, Sayyid Ali Reza berharap program tersebut dapat menjadi langkah awal bagi terbentuknya komunitas yang lebih mandiri dan memiliki kemampuan mengembangkan potensi ekonominya.

“Semoga dengan ikhtiar ini kita semua dengan izin Allah menjadi komunitas yang mandiri, bebas, dan bermartabat,” ujar Sayyid Ali Reza.

Continue Reading