Ikuti Kami Di Medsos

14 Manusia Suci

Pidato Ustadz Miqdad Turkan: Imam Ja’far Shadiq Kunci Persatuan Umat Islam

Published

on

Ustadz Miqdad Turkan menyampaikan pidato peringatan Syahadah Imam Ja’far Shadiq di Media ABI, menegaskan teladannya sebagai fondasi persatuan umat Islam di tengah perbedaan mazhab. (Dok. ABI)

Jakarta, 15 April 2026 — Dalam momentum peringatan Syahadah Imam Ja’far Shadiq pada 25 Syawal 1447 H yang bertepatan dengan Selasa, 14 April 2026, dan disiarkan melalui kanal Media ABI, Ustadz Miqdad Turkan dari Dewan Syura ABI menyampaikan pidato bertajuk Mengapa Imam Ja’far Shadiq Menjadi Kunci Persatuan Umat Islam?. Beliau menegaskan bahwa warisan keilmuan dan keteladanan Imam Ja’far Shadiq bukan hanya bagian dari sejarah, melainkan fondasi strategis bagi persatuan umat Islam masa kini.

Berikut transkrip ceramah beliau.

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillahi Rabbil Alamin. Wassalallahu ala Sayyidina Muhammadin wa alihi tayyibin at tahirin.

Para pemirsa dimanapun Anda berada, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Dalam kesempatan ini kita akan berbicara tentang al-Imam Ja’afar Shadiq a.s,. Yang menurut pengikut Madhhab Ahlul Bait Rasulullah SAW, Imam Ja’afar Shadiq adalah salah satu imam yang memiliki peran penting dalam ajaran-ajaran Ahlul Bait.

Sehingga sebagian orang menyebutnya Imam Ja’far As-Shadiq sebagai Imam Madhab. Dan Madhab Ahlul Bait a.s, kemudian disebut sebagai Madhab Ja’fari. Menurut dalam Islam, Madhab itu sebenarnya tidak ada secara khusus.

Sebagaimana Allah SWT berfirman, “Innad-dina ‘indallahil-islam“. Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah adalah Islam. Itulah prinsip yang diajarkan oleh Allah SWT dalam Al-Quranul Karim. Al-Imam Ja’far As-Shadiq bukanlah sebagai pendiri Madhab. Tetapi Imam Ja’far As-Shadiq a.s, memiliki peran untuk menjelaskan agama Allah yang asli. Sebagaimana para Imam al-Maksumin a.s,, seperti Imam Ali bin Abi Talib, al-Imam al-Hasan, Imam al-Husain, Sayyidah Zahra, dan Imam Ali Zain al-Abidin, Imam Muhammad al-Baqir, mereka adalah orang-orang yang disebut sebagai penjelas Al-Quranul Karim. Penjelas agama Allah SWT yang diterima dari kakeknya Muhammad SAW.

Akan tetapi para Imam sebelum Imam Ja’far As-Shadiq, mereka tidak memiliki kesempatan luas seperti kesempatan yang dimiliki oleh Imam Ja’far As-Shadiq a.s,. Seperti kita ketahui semua, al-Imam Ali bin Abi Talib memiliki peran sangat singkat waktunya. Imam al-Hasan, Sayyidah Zahra terutama diantaranya. Imam al-Husan, Imam Ali Zain al-Abidin, mereka tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskan agama Allah yang diterima dari kakeknya Muhammad SAW. Karena mereka hidup dalam tekanan politik Bani Umayyah. Sementara Imam Ja’far As-Shadiq a.s,, seorang Imam yang memiliki kesempatan luas, karena beliau hidup di antara dua kekuasaan Bani Umayyah dan Abbasiyah.

Di tengah-tengah pergolakan permusuhan antara Umayyah dan Abbasiyah, maka Imam Ja’far As-Shadiq a.s, memanfaatkan kesempatan itu untuk mengajarkan ajaran Allah SWT yang diterima dari kakek-kakeknya. Oleh karena itu, dalam sejarah disebutkan bahwa Imam Ja’far As-Shadiq sempat mendirikan sebuah sekolahan, pesantren atau majlis ta’lim di Madinah al-Munawwarah yang kemudian didatangi banyak orang, bahkan ribuan. Para ulamak, baik itu dari ulama-ulama madhab tertentu, madhab Ahlul Bait, maupun yang lainnya mereka belajar dari Imam Ja’far As-Shadiq a.s,.

Salah satu contoh adalah apa yang disampaikan oleh Abu Hanifah, seorang pendiri madhab Hanafi. Beliau pernah mengatakan, “Lau la sanatani, lahalaka Nu‘manu.” Andai saja bukan karena dua tahun dia belajar bersama Imam Ja’far As-Shadiq a.s, maka Abu Hanifah merasa dirinya akan hancur, tersesat dari jalan Allah SWT.

Dan bukan hanya Imam Abu Hanifah saja yang pernah belajar dari Imam Ja’far As-Shadiq a.s,, tetapi juga Imam Malik, pendiri madhab Maliki juga belajar dari Imam Ja’far As-Shadiq a.s,. Jadi Imam Ja’far As-Shadiq adalah seorang ulama yang memiliki peran penting dalam pengembangan agama, dalam pengembangan ilmu, baik itu di bidang Fikih ataupun Tauhid dan yang lainnya. Coba kita lihat misalnya pengakuan dari para ulama-ulama Ahlul Sunnah wal Jamaah tentang Imam Ja’far As-Shadiq a.s,.

Al-Dzahabi adalah salah satu tokoh Ahlul Sunnah wal Jamaah. Beliau menyebut Imam Ja’far As-Shadiq a.s, beliau mengatakan,“Kabirus sya’ni min a’immatil ‘ilmi kana aula bil amri min Abī Ja‘far al-Manshur.” Kata Dzahabi mengatakan Imam Ja’far As-Shadiq a.s, adalah orang besar. (Artinya: “Orang yang agung kedudukannya di antara para imam ilmu pengetahuan, lebih berhak terhadap urusan (kekuasaan/kepemimpinan) daripada Abu Ja’far al-Manshur.” Redaksi).

“Kabirus sya’ni”, adalah orang yang memiliki pengaruh sangat besar dari para pemimpin-pemimpin ilmu, para ulama, Imam Ja’far As-Shadiq a.s, memiliki pengaruh yang sangat luar biasa. Lalu beliau mengatakan dialah yang mestinya layak untuk mengembang kekhilafahan Bani Abbasiyah daripada Abu Ja’afar al-Mansur ad-Dawaniki.

Imam Ja’far As-Shadiq menurut pandangan al-Dzahabi adalah orang yang layak untuk memegang kepemimpinan umat Islam di zaman itu dibandingkan Khalifah al-Mansur ad-Dawaniki. Dilihat dari sisi mananya? Kedudukannya, makamnya, keilmuan yang dimiliki oleh Imam Ja’far As-Shadiq a.s,. Ini adalah pengakuan dari kelompok atau dari madhab lain, madhab Ahlu Sunnah wal-Jama’ah.

Bahkan Malik al-Nawawi menukil sebuah kisah, cerita dari Umar bin Abi Al-Miqdam. Abi Al-Miqdam mengatakan, “Kuntu iza nazartu ila Ja‘fari ibni Muammadin, ‘alimtu annahu min sulalatin nabiyyīn”. Beliau mengatakan, aku tahu ketika aku memandang kewajahnya Ja’afar ibn Muhammad, maka dia, saya tahu dia adalah keturunan Nabi SAW. (“Aku apabila melihat kepada Ja’far bin Muhammad, aku mengetahui bahwa dia adalah dari keturunan para nabi.” Redaksi)

Dan banyak ungkapan-ungkapan ulama lain tentang kebesaran dan keagungan Imam Ja’far As-Shadiq a.s,. Nah oleh karena itu, Imam Ja’far As-Shadiq yang sebagian orang disebut sebagai pendiri atau tokoh daripada madhab Syiah, madhab Ahlul Bait Rasulullah SAW, ternyata juga diakui keagungannya oleh seluruh kaum muslimin. Apapun mereka madhabnya, terutama dalam madhab empat itu sendiri.

Oleh karena itu saatnya kita kaum muslimin, apapun madhabnya, semua berasal dari unsur yang sama, dari Rasulullah dan dari Ahlul Bait Rasulullah SAW. Perbedaan berasal dari sebuah cara memahami dan metode yang digunakan untuk memahami teks-teks al-Quran dan riwayat-riwayat tersebut. Oleh karena itu, kewajiban kita kaum muslimin pada saat ini, apapun madhab kita, Syiahkah kita, Ahlus Sunnah wal-Jamaahkah kita, bermadhab Hanafi, Maliki, Syafie dan Hanbali, kita semua harus bersatu padu menuju kepada Allah SWT.

Perbedaan madhab sudah terjadi sejak zaman dulu. Dan itu sudah disepakati oleh kaum muslimin, tetapi hal itu telah membantu perkembangan umat Islam, membantu keilmuan dan khasanah keilmuan bagi umat Islam. Oleh karenanya sunni dan Syiah saatnya kita bersatu padu, melawan musuh-musuh Allah, melawan musuh umat Islam.

Siapa yang akan diuntungkan ketika kaum muslimin saling bertengkar dan kemudian membicarakan persoalan-persoalan yang sudah klasik, sudah lama terjadi tanpa ada duduk bersama, tanpa berangkat bersama, duduk bersama, bergandeng tangan, maka yang diuntungkan adalah musuh-musuh Allah SWT. Terutama sekarang ini, Zionisme Internasional Hegemoni Amerika berusaha untuk mengadu domba antar umat Islam agar pecah, mereka kemudian akan menguasai kita, mengendalikan kita, dan kita akan dijadikan sebagai budak-budak mereka. Dan itu Islam menolak itu semua, seperti yang diajarkan oleh Ahlul Bait Rasulullah SAW.

Para pemirsa yang dimuliakan oleh Allah, mudah-mudahan apa yang kita sampaikan yang singkat ini bermanfaat untuk kita semua dan mampu membangun, membangkitkan semangat serta kesadaran untuk membangun kebersamaan dan persatuan di antara kaum Muslimin. Hanya dengan persatuan umat Islam, maka Islam akan menjadi berwibawa. Dengan persatuan umat Islam, Islam akan menjadi lebih mulia dan dihormati.

Kaum Muslimin akan menjadi dihormati oleh seluruh dunia.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. []