Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Soal Program Nuklir, Iran Tak Akan Tunduk pada Tekanan

Published

on

Behrus Kamalvandi menyampaikan posisi Iran mengenai program nuklir negaranya dalam Konferensi Umum ke-70 IAEA.
Behrus Kamalvandi menyampaikan posisi Iran mengenai program nuklir negaranya dalam Konferensi Umum ke-70 IAEA.

Media ABI, 16 September 2026 – Iran tidak akan tunduk pada tekanan terkait program nuklirnya. Penegasan itu disampaikan Behrus Kamalvandi, juru bicara sekaligus Wakil Urusan Internasional, Hukum, dan Parlemen Organisasi Energi Atom Iran, dalam Konferensi Umum ke-70 Badan Energi Atom Internasional atau IAEA.

Baca juga: Dua Kali Diminta MBS, Trump Tolak Serang Yaman

Mehr News Agency melaporkan pada Rabu (16/9/2026) bahwa dalam pidatonya Kamalvandi menegaskan kembali posisi Iran bahwa kegiatan nuklir negaranya bersifat damai. Dia juga mempertanyakan dasar tuduhan terhadap program nuklir Iran serta sikap IAEA dalam menjalankan fungsi pengawasan.

Iran Pertahankan Program Nuklirnya

Kamalvandi mengatakan teknologi nuklir telah dikembangkan di Iran selama sekitar 80 tahun, sedangkan Organisasi Energi Atom Iran telah berdiri selama 52 tahun. Iran, menurut dia, termasuk negara pertama yang bergabung dengan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir atau NPT dan selama ini menjalankan komitmennya dengan transparansi serta itikad baik.

Selama lebih dari 25 tahun, Iran menghadapi tekanan dan sanksi terkait persoalan nuklir. Kamalvandi mengatakan Teheran tetap mengikuti perundingan dan kesepakatan yang telah dicapai, termasuk JCPOA yang disepakati pada 2015.

Kamalvandi juga menyinggung keputusan Amerika Serikat keluar dari JCPOA. Menurut dia, Iran tetap menjalankan komitmennya secara sepihak selama sekitar 5,1 tahun setelah keluarnya Washington. Dia merujuk pada 15 laporan berturut-turut Direktur Jenderal IAEA sebelumnya kepada Dewan Gubernur yang menurutnya menyatakan pelaksanaan komitmen Iran dalam kesepakatan tersebut.

Perundingan untuk menghidupkan kembali JCPOA, menurut Kamalvandi, dimulai pada 2022 dan kembali berlangsung setelah pergantian pemerintahan di Amerika Serikat. Ketika kedua pihak telah sepakat membahas persoalan teknis di IAEA, Israel kemudian melancarkan serangan militer terhadap Iran.

Kamalvandi Pertanyakan Dasar Tuduhan

Kamalvandi mempertanyakan apakah inspeksi berulang yang dilakukan IAEA terhadap fasilitas nuklir Iran pernah menghasilkan laporan mengenai penyimpangan program tersebut.

Dia juga mempersoalkan pernyataan Direktur Jenderal IAEA mengenai Iran yang dinilainya bersifat politis dan provokatif. Menurut Kamalvandi, jika terdapat temuan mengenai penyimpangan program nuklir Iran, temuan tersebut harus didasarkan pada hasil pemeriksaan.

Baca juga: Ansarullah Bantah Tuduhan Saudi soal Drone Sasar Makkah

Dalam pidatonya, dia juga menuduh pembentukan kasus mengenai program nuklir Iran didasarkan pada laporan yang tidak benar dengan keterlibatan kelompok yang memusuhi Iran dan badan intelijen. Menurut Kamalvandi, informasi tersebut kemudian menjadi dasar tekanan, sanksi, sabotase industri, dan pembunuhan terhadap ilmuwan Iran.

Kamalvandi membandingkan sikap IAEA terhadap serangan terhadap fasilitas nuklir Irak pada 1981 dengan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran. Dia mempertanyakan mengapa serangan terhadap fasilitas nuklir Iran tidak mendapat kecaman serupa dari Direktur Jenderal, Konferensi Umum, dan Dewan Gubernur IAEA.

Fasilitas Nuklir Tetap Diawasi

Menanggapi persoalan lokasi fasilitas nuklir Iran, Kamalvandi mengatakan pengamanan fasilitas penting di tempat yang aman tidak semestinya dianggap sebagai upaya penyembunyian.

Fasilitas nuklir sensitif Iran yang berada di bawah tanah, menurut dia, tetap diperiksa dan didatangi inspektur IAEA. Karena itu, Kamalvandi kembali menyatakan bahwa program nuklir Iran transparan dan bertujuan damai.

Dia juga menyoroti Country Programme Framework atau CPF Iran yang disebut telah diserahkan kepada IAEA lebih dari empat tahun lalu. Menurut Kamalvandi, dokumen tersebut belum mendapat tanggapan meskipun telah ditindaklanjuti.

Bagi Iran, pengalaman kerja sama dengan negara lain menjadi alasan untuk memperkuat kemampuan dalam negeri. Kamalvandi mengatakan ketergantungan pada kerja sama dan jaminan eksternal tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan strategis negara.

Baca juga: Saudi Gagal Total Ulangi Skenario Suriah di Yaman

Karena itu, Iran memilih mengembangkan kemampuan teknologinya sendiri, termasuk melengkapi siklus bahan bakar nuklir, dengan mengandalkan para ahli dan ilmuwan dalam negeri. Menurut Kamalvandi, serangan militer, sabotase, dan pembunuhan tidak akan menghilangkan kemampuan ilmu pengetahuan dan industri nuklir Iran yang telah berakar di negaranya.

Capaian Nuklir Iran

Sebagai bagian dari pemaparan mengenai program nuklir Iran, Kamalvandi menyebut sejumlah capaian Organisasi Energi Atom Iran.

Di bidang energi, dia mengatakan PLTN Bushehr berkapasitas 1.000 megawatt memperoleh nilai 100 dari 100 berdasarkan indikator kinerja WANO cabang Moskow untuk periode 2023 hingga 2025. Menurut Kamalvandi, Bushehr termasuk dalam 10 pembangkit nuklir terbaik di dunia dari sisi keselamatan dan produktivitas.

Produksi listrik Bushehr disebut telah melampaui 80 miliar kilowatt jam. Menurut perhitungan Organisasi Energi Atom Iran, produksi tersebut setara dengan penghematan 132 juta barel minyak mentah dan mencegah emisi lebih dari 86 juta ton berbagai polutan.

Di bidang kesehatan, Iran disebut memproduksi lebih dari 76 jenis radiofarmaka diagnostik, paliatif, dan terapeutik yang disalurkan ke 230 pusat kesehatan dan rumah sakit. Layanan tersebut, menurut Kamalvandi, telah dimanfaatkan lebih dari 1,5 juta pasien.

Baca juga: Pilot F-15 yang Disembunyikan Pentagon Muncul Tanpa Penyamaran di CBS

Teknologi nuklir juga digunakan di sejumlah sektor industri serta melalui 10 pusat iradiasi untuk sterilisasi, pengendalian mikroba dan hama pada produk pertanian, pangan, serta sejumlah produk dan peralatan medis.

Menutup pidatonya, Kamalvandi kembali menegaskan bahwa rakyat Iran tidak akan tunduk pada tekanan dan akan terus memperjuangkan apa yang disebutnya sebagai hak-hak yang sah.

Dia mengakhiri pidatonya dengan mengutip semboyan pemimpin yang disebutnya sebagai pemimpin syahid, Ayatullah Ali Khamenei, “Energi nuklir untuk semua, senjata nuklir untuk tidak seorang pun.” []

Baca juga: Pakar Militer AS: Perang Iran Meruntuhkan Ilusi Amerika Tak Terkalahkan