Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

New York Times: Netanyahu dan Panglima Militer Israel Berselisih soal Iran

Published

on

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Kepala Staf Militer Eyal Zamir dilaporkan berselisih mengenai rencana serangan terhadap Iran menjelang pemilu parlemen.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Kepala Staf Militer Eyal Zamir dilaporkan berselisih mengenai rencana serangan terhadap Iran menjelang pemilu parlemen.

Media ABI, 27 Oktober 2026 – Perselisihan antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Kepala Staf Militer Israel Eyal Zamir mengenai rencana serangan terhadap Iran menjelang pemilu parlemen Israel dilaporkan benar terjadi. Surat kabar The New York Times, yang mengutip sejumlah pejabat Israel, melaporkan adanya perbedaan pandangan tersebut, di tengah bantahan sejumlah pejabat Israel atas kabar perselisihan internal itu.

Baca juga: Iran Ancam Sasar Fasilitas Produksi Minyak di Kawasan jika Infrastruktur Diserang

Menurut laporan yang dikutip Kantor Berita Mehr, perbedaan pendapat Netanyahu dan Zamir berpusat pada rencana serangan terhadap Iran sebelum pemilu. Zamir disebut menentang rencana Netanyahu untuk melancarkan serangan terhadap Iran secara sepihak menjelang pemungutan suara.

Sehari sebelumnya, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengklaim bahwa perselisihan tersebut pada dasarnya tidak pernah terjadi. Namun, laporan The New York Times justru menyebut adanya penolakan dari Zamir terhadap rencana serangan tersebut.

Baca juga: 

Dalam beberapa hari terakhir, Zamir disebut telah menyampaikan kekhawatirannya atas tekanan Netanyahu agar Israel mengambil tindakan terhadap Iran secara sepihak. Menurut Zamir, langkah itu merupakan kekeliruan yang berisiko memicu serangan balasan Iran terhadap wilayah pendudukan.

Perselisihan mengenai pendekatan terhadap Iran itu juga disoroti Channel 12 Israel. Sehari sebelumnya, stasiun televisi tersebut melaporkan bahwa perbedaan pendapat antara Netanyahu dan Zamir telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. []

Baca juga: Foreign Policy: Taruhan Arab Saudi pada Trump Berakhir Petaka Keamanan