Internasional
Iran Perkuat Pertahanan Berbasis Drone, Evaluasi Pengalaman Perang dengan AS-Israel

Media ABI, 25 Oktober 2026 – Penguatan produksi drone, pengembangan sistem nirawak, dan peningkatan kesiapan menghadapi perang asimetris menjadi fokus kunjungan sejumlah komandan senior militer Iran ke pusat-pusat produksi drone. Langkah ini merupakan bagian dari evaluasi pertahanan berdasarkan pengalaman perang terakhir sekaligus upaya memperkuat kemampuan menghadapi ancaman militer.
Menurut Farsnews Agency, Minggu (25/10/2026), Mayor Jenderal Ali Abdollahi, Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata sekaligus Komandan Markas Pusat Khatam al-Anbiya, bersama Mayor Jenderal Amir Hatami, Panglima Angkatan Darat Republik Islam Iran, meninjau sejumlah pusat produksi dan pengembangan drone militer. Dalam kunjungan tersebut, keduanya menekankan penguatan kapasitas produksi dalam negeri, pemanfaatan pengalaman medan tempur, serta penyesuaian strategi pertahanan terhadap perkembangan peperangan modern.
Penguatan Drone dan Kesiapan Menghadapi Perang Asimetris
Saat meninjau capaian dan jalur produksi drone Angkatan Darat, Mayor Jenderal Ali Abdollahi menyoroti kesiapan, motivasi, dan inovasi para spesialis dalam negeri. Ia menekankan pentingnya menjadikan pengalaman perang terakhir sebagai landasan evaluasi dan pengembangan kemampuan angkatan bersenjata. Menurutnya, pengembangan jalur produksi drone dan peningkatan peralatan oleh para spesialis Angkatan Darat mencerminkan kemajuan kemampuan pertahanan Iran.
Abdollahi menegaskan bahwa jika agresi kembali terjadi, angkatan bersenjata Iran akan memberikan respons lebih tegas dibandingkan sebelumnya. Ia juga menekankan pentingnya penerapan metode berbeda dan penggunaan peralatan asimetris untuk menghadapi lawan dengan teknologi serta persenjataan canggih.
Pendekatan ini menempatkan pengembangan drone sebagai bagian dari strategi pertahanan yang lebih luas. Dalam perang asimetris, perbedaan teknologi, jumlah persenjataan, dan struktur militer menuntut strategi yang tidak semata-mata mengandalkan kesetaraan perangkat tempur. Diversifikasi persenjataan, fleksibilitas operasional, dan kapasitas produksi domestik menjadi unsur penting untuk menghadapi beragam ancaman.
Abdollahi juga menyoroti penggunaan kombinasi peralatan yang beragam dan relatif murah untuk menghadapi persenjataan lawan yang canggih dan mahal. Dalam kondisi tertentu, ancaman dari perangkat berbiaya relatif rendah dapat memaksa lawan meningkatkan kesiagaan, menggunakan amunisi yang lebih mahal, atau mengalokasikan sumber daya tambahan untuk pertahanan. Keunggulan biaya tersebut memiliki nilai strategis ketika didukung keandalan peralatan, kemampuan produksi, serta penggunaan yang tepat sesuai kebutuhan operasi.
Baca juga: Mantan Sekjen NATO: Dukungan untuk Ukraina Bukan Sedekah
Efektivitas drone, bagaimanapun, ditentukan oleh lebih dari sekadar harga dan jumlah produksi. Integrasi dengan sistem komando, kesiapan personel, pemeliharaan, dan koordinasi dengan unsur pertahanan lainnya turut menentukan kemampuan operasionalnya. Karena itu, penguatan persenjataan nirawak perlu berjalan seiring dengan peningkatan dukungan logistik dan kesiapan tempur.
Evaluasi Pengalaman Perang dan Penguatan Industri Pertahanan
Pentingnya evaluasi pengalaman perang juga disampaikan Mayor Jenderal Amir Hatami saat mengunjungi salah satu pusat produksi drone tempur ofensif Angkatan Darat. Hatami menyinggung pengalaman dua perang yang dipaksakan terhadap Iran dalam periode terakhir. Ia menekankan pentingnya meningkatkan kesiapan militer dan tidak menaruh kepercayaan kepada musuh.
Menurut Hatami, kesiapan Angkatan Darat telah meningkat, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, dalam hal peralatan untuk menghadapi perang asimetris. Ia juga menyatakan bahwa kemampuan Angkatan Darat di bidang drone dan sistem nirawak telah mencapai tingkat kematangan yang memadai. Sebagian peralatan disiapkan untuk menghadapi perang simetris, sedangkan sebagian lainnya dirancang bagi skenario asimetris. Pembagian tersebut mencerminkan penyesuaian kekuatan militer terhadap karakter ancaman yang berbeda.
Hatami turut menyoroti perkembangan program drone Arash serta kerja sama Angkatan Darat dengan Kementerian Pertahanan. Kerja sama tersebut diperkuat melalui nota kesepahaman berskala luas yang melibatkan infrastruktur produksi dan kapasitas para ahli, universitas, serta perusahaan berbasis pengetahuan. Kolaborasi ini menghubungkan kebutuhan operasional militer dengan kemampuan riset dan industri dalam negeri, sekaligus mendukung pengembangan serta penyempurnaan peralatan pertahanan.
Hatami menyatakan bahwa produksi, distribusi, dan pemeliharaan peralatan terus berlangsung, disertai pelatihan bagi personel penggunanya. Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kemampuan pertahanan yang berkelanjutan. Bagi Iran, penguatan kapasitas domestik juga merupakan agenda kemandirian pertahanan untuk mengurangi ketergantungan pada persenjataan luar negeri.
Baca juga: IRGC: Iran Akan Menjadi Kekuatan Adidaya Dunia
Keberlanjutan kemampuan tersebut ditopang bukan hanya oleh produksi, melainkan juga pemeliharaan, dukungan logistik, keandalan peralatan, dan kesiapan personel. Unsur-unsur ini menentukan sejauh mana kapasitas industri dapat diterjemahkan menjadi kemampuan operasional yang konsisten.
Penangkalan dan Pesan Strategis kepada Pihak Lawan
Kunjungan ke pusat-pusat produksi drone dan pernyataan kedua komandan menegaskan arah penguatan pertahanan Iran, baik melalui inovasi, produksi dalam negeri, maupun peningkatan kesiapan angkatan bersenjata. Kepada pihak luar negeri, Abdollahi menegaskan bahwa setiap agresi baru akan dihadapi dengan respons lebih tegas, sementara Hatami menekankan pentingnya kesiapan menghadapi ancaman.
Pesan tersebut mencerminkan sikap Iran bahwa setiap serangan terhadap negaranya akan menghadapi konsekuensi militer. Pengembangan kemampuan drone, penguatan industri pertahanan, dan penyesuaian strategi menghadapi perang asimetris menjadi bagian dari upaya memperkuat daya tangkal serta memperluas kapasitas respons.
Dalam strategi penangkalan, kesiapan tidak hanya disampaikan melalui pernyataan, tetapi dibangun melalui kemampuan produksi, keandalan persenjataan, koordinasi antarsatuan, dan kapasitas memberikan respons. Efektivitasnya pada akhirnya bergantung pada kemampuan operasional yang dapat dipertahankan serta perhitungan pihak lawan terhadap konsekuensi setiap tindakan militer.
Pengembangan drone, penguatan industri dalam negeri, dan pembelajaran dari perang terakhir memperlihatkan arah evaluasi pertahanan Iran: menjaga kesiapan, memperluas kapasitas respons, serta menyesuaikan perangkat dan metode pertahanan dengan perubahan medan tempur. Keberhasilan agenda tersebut tidak cukup diukur dari bertambahnya jalur produksi atau jumlah peralatan, melainkan dari kemampuan mengubah kapasitas industri dan kemajuan teknologi menjadi kesiapan operasional yang andal serta daya tangkal yang efektif. Bagi Iran, penguatan pertahanan berbasis drone merupakan bagian dari upaya menjaga kedaulatan dan menghadapi setiap ancaman militer. []
Baca juga: Middle East Forum: Dinasti Al Saud di Ambang Skenario Terburuk






