Internasional
Startup China Sulap Sanksi AS Jadi Poster Rekrutmen

Ahlulbait Indonesia | 14 Mei 2026 — Startup teknologi asal China MizarVision merespons sanksi Amerika Serikat dengan cara tidak biasa. Setelah dimasukkan ke dalam daftar sanksi Washington, perusahaan itu justru mengubah dokumen sanksi tersebut menjadi materi promosi perekrutan karyawan.
Baca juga: Berangkat ke China, Trump Tulis Surat Rahasia Jika Dirinya Tewas atau Terbunuh
Menurut laporan South China Morning Post yang dikutip Fars News Agency pada Kamis (14/5/2026), startup yang bergerak di bidang analisis citra satelit dan intelijen sumber terbuka itu belakangan menjadi perhatian setelah mempublikasikan sejumlah analisis mengenai pergerakan dan aktivitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Perusahaan tersebut dikenal dengan nama resmi Mintropy Technology Hangzhou dan bergerak dalam analisis data satelit komersial serta informasi sumber terbuka.
Dalam beberapa bulan terakhir, MizarVision menerbitkan sejumlah laporan dan citra yang berkaitan dengan pergerakan militer Amerika Serikat, termasuk aktivitas yang disebut terkait perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Kementerian Keuangan Amerika Serikat kemudian memasukkan perusahaan itu ke dalam daftar sanksi khusus dengan alasan mempublikasikan gambar dan informasi terkait operasi militer yang disebut “Epic Fury”.
Namun respons perusahaan China tersebut justru menarik perhatian luas di media sosial.
Alih-alih bersikap defensif, MizarVision mengunggah poster lowongan kerja yang menampilkan pemberitahuan resmi sanksi Amerika Serikat berdampingan dengan informasi perekrutan pegawai baru.
Langkah itu dipandang sebagai upaya mengubah tekanan politik Washington menjadi simbol kredibilitas dan kekuatan teknis perusahaan.
Baca juga: China Ingatkan Trump: Jangan Campuri Urusan Internal Iran
Dalam pernyataan yang diunggah di media sosial, startup tersebut menulis bahwa mereka selalu menghadapi tekanan eksternal dengan tenang.
“Dunia luar terkadang memberi kami kejutan, tetapi kami selalu menerimanya dengan senyuman dan terus melangkah maju,” tulis perusahaan itu.
MizarVision juga mengundang orang-orang yang, menurut mereka, “percaya pada keunggulan melalui kekuatan, mencintai rekayasa teknologi di tingkat medan tempur, dan mampu mengubah tekanan menjadi produktivitas” untuk bergabung dengan tim mereka.
Kasus tersebut kembali mencerminkan meningkatnya persaingan teknologi dan geopolitik antara China dan Amerika Serikat, terutama dalam bidang intelijen satelit, analisis data, dan teknologi pemantauan militer berbasis sipil.
Dalam beberapa tahun terakhir, Washington semakin memperketat pembatasan terhadap perusahaan-perusahaan teknologi China yang dianggap memiliki hubungan dengan kepentingan strategis Beijing maupun aktivitas militer negara tersebut.
Di sisi lain, sejumlah perusahaan China mulai memanfaatkan tekanan dan sanksi Barat sebagai bagian dari pembentukan citra nasionalisme teknologi dan ketahanan industri domestik. []
Baca juga: Indonesia – China Sepakat Dukung Palestina di PBB

