Internasional
Reuters: Iran Akan Menghentikan Serangan jika AS Menghentikan Agresi

Ahlulbait Indonesia, 27 Juli 2026 – Iran disebut akan menghentikan operasi militernya selama Amerika Serikat tidak kembali melancarkan serangan. Klaim tersebut disampaikan Reuters dengan mengutip seorang pejabat senior Iran, menyusul keputusan Presiden AS Donald Trump menghentikan secara mendadak kampanye serangan udara yang telah berlangsung selama hampir dua pekan.
Laporan IRNA pada Senin (27/7/2026) mengutip Reuters yang menyebut Pentagon mengakhiri serangan setelah 13 malam berturut-turut menggempur Iran. Sejak Jumat malam, tidak ada lagi laporan serangan AS hingga Sabtu dan Minggu. Pada saat yang sama, Iran juga menghentikan serangan balasannya terhadap negara-negara yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika.
Baca juga: CNN: Dua Wajah Trump, Ancam Iran di Depan Publik, Negosiasi di Balik Layar
Menurut pejabat senior Iran tersebut, sikap Teheran tidak berubah: “serangan dibalas dengan serangan.” Selama Amerika Serikat menghentikan agresinya, Iran juga akan menghentikan operasi militernya. Pesan itu disebut telah disampaikan kepada Washington. Namun, jika serangan kembali dilakukan, Iran siap memberikan balasan dalam skala besar.
Meski demikian, sumber tersebut menilai penghentian sementara operasi militer AS belum dapat dipandang sebagai perubahan kebijakan Washington. Menurutnya, pandangan yang berkembang di Teheran lebih didominasi pesimisme karena jeda itu diyakini bersifat taktis, bukan menandai perubahan sikap yang sesungguhnya. Iran, katanya, memiliki pengalaman panjang menghadapi apa yang dipandang sebagai tipu daya Amerika Serikat.
Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran sekaligus Kepala Pusat Studi Politik dan Internasional Kementerian Luar Negeri, Saeed Khatibzadeh, menegaskan bahwa tindakan Amerika Serikat merupakan serangan terhadap hukum internasional, diplomasi, dan prinsip-prinsip dasar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Berbicara dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN dan Konferensi Tingkat Menteri Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama Asia Tenggara (TAC), Khatibzadeh mengatakan diplomasi tengah dirongrong, sementara Piagam PBB yang selama lebih dari tujuh dekade menjadi fondasi tata internasional terus menjadi sasaran pelanggaran.
Baca juga: Invasi Darat ke Iran Akan Menenggelamkan AS dalam Rawa Perang
Ia menekankan bahwa diplomasi preventif sering kali tidak mendapat penghargaan karena keberhasilannya justru diukur dari konflik yang berhasil dicegah, krisis yang tidak pernah terjadi, dan nyawa yang berhasil diselamatkan.
Khatibzadeh menegaskan Iran tetap berkomitmen pada diplomasi yang tulus, dialog yang adil, dan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz. Namun, ia menegaskan Republik Islam Iran tidak akan membiarkan Amerika Serikat mendominasi Teluk Persia maupun Selat Hormuz.
“Iran, sebagaimana negara berdaulat lainnya, tidak dapat mengorbankan keamanan nasionalnya. Berdasarkan Piagam PBB, Republik Islam Iran memiliki hak untuk melakukan pembelaan diri yang sah terhadap setiap bentuk agresi,” tegasnya. []
Baca juga: Iran dalam Balutan Warna Hitam dan Merah







