Internasional
Politico: Perang Iran Picu Perpecahan Pendukung Trump

Ahlulbait Indonesia, 29 Juli 2026 — Berlanjutnya perang dengan Iran memicu perpecahan di kalangan pendukung Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Sejumlah tokoh dari kubu “America First” dilaporkan khawatir Washington akan semakin terseret dalam konflik, terutama setelah pertemuan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan Trump.
Menurut Tasnim News Agency, Rabu (29/7), Politico melaporkan bahwa sebagian sekutu terdekat Trump khawatir Netanyahu kembali mendorong Presiden AS mengambil langkah yang memperpanjang konfrontasi dengan Iran. Kekhawatiran tersebut memperlihatkan semakin tajamnya perbedaan pandangan di kalangan pendukung Trump dan Partai Republik.
Baca juga: Politico: Negara Teluk Evaluasi Komitmen Investasi ke AS
Salah satu kritik paling keras datang dari mantan penasihat Gedung Putih, Steve Bannon. Ia menilai para pendukung Trump yang mengusung agenda “America First” semakin kecewa terhadap besarnya pengaruh Netanyahu dalam membentuk kebijakan luar negeri Washington.
“Semua pendukung sejati Trump yang bukan pendukung ‘Israel First’ marah,” kata Bannon.
Ia juga menilai kunjungan Netanyahu ke Gedung Putih selama 18 bulan terakhir berulang kali merugikan agenda “America First”.
Politico juga melaporkan bahwa banyak tokoh Partai Republik yang selama ini menentang intervensi militer berharap gencatan senjata yang tercapai baru-baru ini menjadi akhir permanen konflik. Namun, mereka kini khawatir Amerika Serikat justru akan terseret ke dalam perang berkepanjangan di Timur Tengah yang dapat berlangsung selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
Baca juga: Kematian Lindsey Graham Tinggalkan Kekosongan Strategis bagi Lobi Israel di Washington
Laporan itu turut mengutip hasil jajak pendapat yang menunjukkan semakin banyak pendukung Trump mempertanyakan manfaat melanjutkan perang dengan Iran, terutama jika harus dibayar dengan beban ekonomi yang lebih besar. Isu tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu tema politik utama menjelang pemilu berikutnya.
Di sisi lain, Trump disebut berada dalam posisi yang semakin sulit. Ia menghadapi dilema antara melanjutkan upaya diplomasi dengan Iran atau memenuhi tuntutan untuk meningkatkan tekanan militer, sembari menghadapi desakan dari sebagian basis pendukungnya agar Amerika Serikat tidak kembali terjerumus ke dalam konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
Politico menyimpulkan bahwa perang melawan Iran tidak hanya menciptakan kebuntuan strategis, tetapi juga memperlebar perpecahan di antara sekutu politik terdekat Trump serta meningkatkan kekhawatiran akan keterlibatan Amerika Serikat dalam perang yang berlarut-larut. []
Baca juga: Reset Ekonomi ala Trump: The Reality Show untuk Episode Tarif Global






