Internasional
Ehud Barak: Perang Baru dengan Iran Bisa Memperkuat Teheran

Media ABI, 3 November 2026 – Mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak memperingatkan konsekuensi serius dari petualangan militer baru terhadap Iran. Ia menuding Benjamin Netanyahu berupaya menyeret Israel ke dalam perang demi mempertahankan kekuasaan, meskipun langkah tersebut dinilainya bertentangan dengan kepentingan strategis dan kebutuhan keamanan Israel.
Baca juga: Pasukan AS di Timur Tengah Khawatir Perang dengan Iran Kembali Pecah
Dalam wawancara dengan radio berbahasa Ibrani FM 103 pada Senin (2/11/2026), Barak memperingatkan bahwa Netanyahu dapat menempuh langkah yang justru memperburuk posisi Israel. Ia juga menyoroti apa yang disebutnya sebagai kampanye kebohongan Netanyahu untuk menghindari kekalahan.
Barak: Netanyahu Berupaya Menyeret Israel ke Perang
“Sudah sebulan saya merasa sangat khawatir mengenai hal ini. Saya selalu diberi tahu bahwa hal semacam itu mustahil terjadi. Namun, saya mengatakan bahwa tidak ada tindakan yang tidak akan dilakukan Netanyahu. Netanyahu berusaha menyeret kita ke dalam perang,” ujar Barak.
Menurutnya, jika Netanyahu berhasil memicu perang baru, dampaknya akan sangat buruk bagi Israel. Konflik berikutnya, kata Barak, justru akan memperkuat Iran.
“Yang mengkhawatirkan, langkah ini dilakukan demi mempertahankan kekuasaan. Tidak ada informasi yang mengharuskan tindakan segera terhadap Iran, apalagi harus dilakukan sebelum enam atau delapan minggu lagi, ketika pemerintahan baru dibentuk,” katanya.
Mantan jenderal militer Israel itu menegaskan bahwa negaranya tidak boleh memulai konfrontasi atas inisiatif sendiri tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan tujuan dan peluang keberhasilannya.
“Kita tidak boleh memasuki konflik atas inisiatif sendiri tanpa terlebih dahulu bertanya dengan tenang: apa tujuannya, dan seberapa besar kemungkinan kita meraih kemenangan?” tegasnya.
Menjawab pertanyaan pembawa acara mengenai bagaimana langkah tersebut dapat menguntungkan Netanyahu dalam situasi saat ini, Barak mengatakan bahwa perang yang direkayasa dapat menciptakan keadaan darurat di Israel sekaligus mengganggu proses normal pengambilan sumpah anggota Knesset atau parlemen.
Baca juga:
- Barat Kian Tercekik Dampak Perang terhadap Iran
- Mantan Laksamana Israel: Serangan Baru ke Iran Tak Ada Faedahnya
- Yaman Peringatkan Maskapai Hindari Wilayah Udara Arab Saudi, kecuali Makkah dan Madinah
“Dalam masa perang, pemerintah memiliki kewenangan untuk mengeluarkan perintah pelarangan perkumpulan. Terjadinya suatu peristiwa tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya, yang dari sudut pandang Iran dapat dianggap sebagai sasaran yang sah, bisa berujung pada pembatalan upacara pengambilan sumpah anggota Knesset,” ujarnya.
Barak menilai keadaan tersebut dapat memicu desakan luas untuk membentuk pemerintahan persatuan. Situasi itu, menurutnya, akan mengacaukan proses politik dan mengalihkan seluruh agenda ke persoalan keamanan.
Barak Kritik Kegagalan Netanyahu Mencapai Tujuan Perang
Barak menegaskan bahwa persoalan konfrontasi dengan Iran seharusnya diserahkan kepada pemerintahan baru yang akan dibentuk. Ia menilai pemerintahan tersebut tidak semestinya dipimpin oleh sosok yang bertanggung jawab atas kegagalan 7 Oktober dan belum berhasil mencapai satu pun tujuan perang setelah tiga tahun.
“Persoalan menghadapi Iran harus diserahkan kepada pemerintahan baru yang akan dibentuk, pemerintahan tanpa orang yang bertanggung jawab atas kegagalan 7 Oktober dan tanpa sosok yang, setelah tiga tahun, bahkan belum berhasil mencapai satu pun tujuan perang,” kata Barak.
Ia juga mempertanyakan klaim Netanyahu yang menyatakan dapat menggulingkan pemerintahan Iran dalam hitungan hari. Barak membandingkan klaim tersebut dengan kegagalan Netanyahu, menurut penilaiannya, untuk menyingkirkan Hamas dari Jalur Gaza dan mencegah kelompok itu memerintah wilayah tersebut selama tiga tahun terakhir.
“Orang yang mengklaim akan menggulingkan pemerintahan Iran dalam beberapa hari ini, selama tiga tahun tidak mampu menyingkirkan Hamas di Gaza dan mencegahnya memerintah Gaza. Enam kali ia berjanji bahwa kita hanya tinggal selangkah lagi dari kemenangan penuh,” ujarnya.
Barak menilai Netanyahu tidak memiliki gambaran yang jelas tentang bagaimana mengakhiri perang. Ia menuding Netanyahu membutuhkan perang tanpa akhir agar masyarakat tidak mulai memperdebatkan rekam jejaknya yang kontroversial dan berbagai pelanggaran yang dituduhkan kepadanya. []
Baca juga: Arab Saudi Selatan Diguncang Ledakan, Peringatan Udara Dikeluarkan







