Internasional
Konflik dengan Iran Kembali Lambungkan Harga Bensin di AS

Ahlulbait Indonesia, 20 Juli 2026 – Kenaikan kembali harga bensin di Amerika Serikat setelah berlanjutnya perang dengan Iran memicu kekhawatiran di kalangan Partai Republik bahwa lonjakan inflasi akan merugikan mereka pada pemilihan sela mendatang.
Mengutip Axios pada Minggu (19/7/26), Partai Republik semula berharap penurunan harga bensin dapat meredakan kekhawatiran pemilih terhadap inflasi. Namun, berlanjutnya konflik dengan Iran kembali mendorong kenaikan harga bahan bakar dan mengurangi optimisme tersebut.
Donald Trump sebelumnya berulang kali menyatakan bahwa harga bensin akan “turun seperti batu” setelah perang berakhir. Namun, belum terlihat tanda-tanda konflik akan segera usai sehingga harga bahan bakar kembali mendekati 4 dolar AS per galon.
Baca juga: MQ-9 Berguguran, Langit Iran Jadi Neraka bagi Drone-drone Super Mahal AS
Berdasarkan data American Automobile Association (AAA), rata-rata harga bensin saat dimulainya serangan Amerika Serikat terhadap Iran berada di kisaran 2,98 dolar AS per galon. Harga kemudian melonjak hingga melampaui 4,50 dolar AS pada Mei, turun menjadi sekitar 3,75 dolar AS pada awal Juli, sebelum kembali naik mendekati 4 dolar AS seiring berlanjutnya konflik.
Profesor Universitas Stanford, John Krosnick, yang telah lama meneliti pengaruh harga bensin terhadap perilaku pemilih, mengatakan harga bahan bakar memiliki dampak politik yang besar karena dirasakan langsung oleh masyarakat setiap hari.
Dalam penelitiannya pada 2016 yang menganalisis data selama tiga dekade, Krosnick menyimpulkan bahwa setiap kenaikan 10 sen harga bensin rata-rata menurunkan tingkat persetujuan terhadap presiden sebesar 0,6 persen, dan dampaknya kerap meluas kepada partai yang sedang berkuasa.
Sejumlah analis menilai banyak pemilih akan mengaitkan kenaikan harga bensin dengan kebijakan pemerintahan Trump karena lonjakan tersebut terjadi di tengah perang dengan Iran.
Baca juga: AS Gempur Lokasi Pembangunan PLTN Darkhovin
Sementara itu, Desmond Lachman, peneliti senior di American Enterprise Institute dan mantan pejabat Dana Moneter Internasional (IMF), memperingatkan bahwa jika Selat Hormuz tetap tertutup, dampak ekonominya berpotensi merugikan Partai Republik menjelang pemilu sela. Menurutnya, Iran memahami bahwa kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap perekonomian Amerika Serikat sebelum pemungutan suara.
Hasil jajak pendapat bersama PBS, NPR, dan Marist juga menunjukkan hampir 80 persen warga Amerika menyatakan biaya bensin memberikan tekanan besar terhadap anggaran rumah tangga mereka.
Di sisi lain, Partai Republik dinilai belum memiliki capaian ekonomi yang signifikan untuk meredakan biaya hidup. Kongres yang dikuasai partai tersebut memang telah meloloskan rancangan undang-undang mengenai keterjangkauan perumahan, tetapi Trump justru mengkritiknya.
Dalam beberapa pekan terakhir, ia juga lebih banyak mengangkat kembali klaim yang belum terbukti mengenai kecurangan pemilu dibandingkan memusatkan perhatian pada inflasi dan perekonomian. []
Baca juga: Konfrontasi Meluas, Pangkalan AS Kembali Menjadi Sasaran Rudal dan Drone Iran






