Internasional
Konfrontasi Meluas, Pangkalan AS Kembali Menjadi Sasaran Rudal dan Drone Iran

Ahlulbait Indonesia, 19 Juli 2026 – Babak baru saling serang antara Iran dan Amerika Serikat kembali berlanjut pada Minggu (19/7/2026) dini hari. Setelah gagalnya pelaksanaan kesepakatan gencatan senjata antara Teheran dan Washington, eskalasi kini meluas ke sejumlah wilayah di Iran bagian selatan serta pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan, termasuk Kuwait.
Serangan AS Memicu Babak Baru Eskalasi
Menurut laporan Farsnews Agency, sejumlah wilayah di Iran bagian selatan menjadi sasaran serangan militer Amerika Serikat pada dini hari.
Sekitar pukul 01.30 waktu setempat, sebuah lokasi di sekitar Sirik diserang. Menurut keterangan resmi, tidak ada korban jiwa maupun kerusakan pada kawasan permukiman dan fasilitas komersial.
Sekitar pukul 02.10, serangan juga terjadi di sekitar Hajiabad tanpa menimbulkan korban maupun kerusakan pada kawasan sipil.
Baca juga: Iran Lumpuhkan Pangkalan Strategis AS di Kuwait dan Yordania, Sejumlah Pesawat Militer Hancur
Selanjutnya, sekitar pukul 03.40, Pulau Qeshm turut menjadi sasaran serangan. Otoritas setempat menyatakan tidak terdapat korban warga sipil maupun kerusakan terhadap infrastruktur sipil.
Serangan-serangan tersebut merupakan bagian dari rangkaian operasi udara Amerika Serikat yang telah berlangsung selama beberapa malam terakhir. Menurut sumber resmi Amerika, operasi itu ditujukan untuk menghancurkan infrastruktur militer, logistik, dan fasilitas maritim Iran.
Serangan tersebut segera memicu respons Teheran yang kali ini diarahkan langsung ke jaringan pendukung militer Amerika Serikat di kawasan, menandai meluasnya sasaran operasi Iran hingga di luar wilayahnya sendiri.
Iran Memperluas Respons ke Infrastruktur Militer Amerika
Hubungan Masyarakat Angkatan Darat Republik Islam Iran menyatakan bahwa sebagai respons atas berlanjutnya serangan Amerika Serikat, dua pangkalan penting militer AS di Kuwait menjadi sasaran serangan pesawat nirawak Iran.
Dalam pernyataannya disebutkan bahwa pada tahap ke-16 Operasi Sa’eqeh (Petir), Iran menyerang gudang amunisi militer Amerika di Kamp Al-Adairi serta radar Patriot dan radar pengawasan udara di Pangkalan Udara Ali Al-Salem, Kuwait.
Menurut Angkatan Darat Iran, Kamp Al-Adairi merupakan salah satu pusat logistik dan reorganisasi pasukan Amerika Serikat di kawasan yang berjarak sekitar 104 kilometer dari perbatasan Iran. Gangguan terhadap fasilitas tersebut dinilai dapat memengaruhi kemampuan dukungan operasi militer Amerika di kawasan.
Sementara itu, Pangkalan Udara Ali Al-Salem disebut sebagai pusat transportasi udara utama sekaligus gerbang masuk personel militer Amerika Serikat ke kawasan Asia Barat yang memiliki peran penting dalam strategi logistik Washington.
Hampir bersamaan dengan operasi tersebut, sejumlah laporan menyebut terjadi beberapa ledakan di kompleks Konsulat Amerika Serikat di Erbil, Irak. Sumber-sumber Irak juga melaporkan bahwa markas kelompok separatis yang bermarkas di Erbil turut menjadi sasaran serangan sehingga memicu kebakaran besar di kawasan tersebut.
Meluasnya operasi militer tersebut diikuti dengan pernyataan para pejabat tinggi Iran yang menegaskan sikap resmi pemerintah terhadap kelanjutan konflik.
Baca juga: Pemimpin Revolusi: “Tanda Tangan Presiden Amerika Tidak Bernilai dan Tidak Dapat Dipercaya”
Teheran Tegaskan Sikap melalui Jalur Militer
Komandan Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Mayor Jenderal Pilot Ali Abdollahi, memperingatkan Amerika Serikat agar tidak kembali melakukan apa yang disebutnya sebagai “tindakan brutal”. Ia menegaskan bahwa setiap bentuk agresi, intimidasi, maupun ambisi hegemonik Amerika akan dihadapi dengan respons yang tegas dan menghancurkan dari Angkatan Bersenjata Iran.
Menurut Abdollahi, kekuatan pertahanan dan persatuan nasional merupakan faktor utama dalam menghadapi tekanan Amerika Serikat, yang disebutnya berupaya memanfaatkan perpecahan internal setelah gagal mencapai tujuannya melalui konfrontasi militer.
Kepemimpinan Politik Perkuat Narasi Konfrontasi
Di tingkat politik, Pemimpin Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei, memberikan kerangka yang lebih luas mengenai arah konflik tersebut.
Dalam pesannya kepada rakyat Iran, Pemimpin Revolusi Islam menyatakan bahwa pelanggaran terhadap nota kesepahaman antara Presiden Iran dan Presiden Amerika Serikat kembali membuktikan bahwa komitmen Amerika tidak dapat dipercaya. Ia juga menekankan pentingnya menjaga persatuan nasional sebagai bagian dari upaya melindungi kepentingan dan keamanan negara.
Tekanan Mulai Merambah Politik Domestik Amerika
Sementara itu, eskalasi konflik juga mulai memunculkan tekanan politik di Washington seiring meningkatnya kritik terhadap biaya militer dan korban yang ditimbulkan.
Sejumlah media melaporkan bahwa beberapa anggota Kongres mulai menyalahkan Presiden Donald Trump dan Menteri Pertahanannya atas jatuhnya korban di kalangan militer Amerika. Berdasarkan laporan tersebut, sekitar 13 personel militer Amerika dilaporkan mengalami luka-luka dalam sepekan terakhir.
Seorang jenderal purnawirawan Angkatan Darat Amerika Serikat juga mengatakan dalam wawancara dengan Al Jazeera bahwa kepulangan mayat prajurit Amerika dalam kantong jenazah akan menjadi beban politik bagi pemerintahan Donald Trump.
Rangkaian perkembangan tersebut menunjukkan bahwa konfrontasi Iran–Amerika kini telah bergerak melampaui sekadar saling balas serangan. Operasi militer berlangsung beriringan dengan upaya membangun tekanan politik, menjaga legitimasi domestik, serta memengaruhi kalkulasi strategis lawan. Dengan demikian, arah konflik ke depan diperkirakan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer masing-masing pihak, tetapi juga oleh daya tahan politik dan kemampuan kedua negara mengelola tekanan di tingkat regional maupun internasional. []






