Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Gaza Panggung Politik Netanyahu, AS dan Negara Arab Bungkam

Published

on

Serangan Israel di Gaza terus berlangsung ketika Netanyahu menghadapi kalkulasi politik menjelang pemilu.
Serangan Israel di Gaza terus berlangsung ketika Netanyahu menghadapi kalkulasi politik menjelang pemilu.

Media ABI, 16 September 2026 – Kekerasan di Jalur Gaza terus berlangsung meski hampir setahun telah berlalu sejak gencatan senjata yang diumumkan pada Oktober tahun lalu. Di tengah pembicaraan mengenai upaya mempertahankan dan menyelesaikan kesepakatan tersebut, serangan Israel terhadap Gaza tetap berlanjut, termasuk operasi pembunuhan yang menyasar sejumlah tokoh Palestina.

Baca juga: Pakar Militer AS: Perang Iran Meruntuhkan Ilusi Amerika Tak Terkalahkan

Tasnim News Agency pada Rabu (16/9/26) melaporkan bahwa perkembangan tersebut berlangsung ketika Israel memasuki masa persiapan pemilu dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menghadapi perhitungan politik di dalam negeri. Dalam analisis Tasnim, situasi di Gaza telah menjadi bagian dari kalkulasi politik tersebut.

Amerika Serikat juga dinilai tidak memberikan tekanan yang cukup kepada Israel untuk menghentikan serangan, meski Washington berulang kali menyatakan sedang berupaya mempertahankan gencatan senjata di Gaza.

Pada Senin malam hingga Selasa dini hari, militer Israel menargetkan kendaraan yang ditumpangi Ahmad al-Batsh, komandan Brigade Jabalia al-Balad sekaligus anggota dewan militer Brigade Izzuddin al-Qassam, di kawasan al-Safatawi, utara Kota Gaza. Ia tewas dalam serangan tersebut.

Menurut Tasnim, al-Batsh sebelumnya selamat dari 42 upaya pembunuhan selama sepuluh tahun terakhir. Ia menjadi komandan senior kedua Brigade al-Qassam yang tewas dalam serangan Israel dalam kurun satu pekan, setelah Muhammad al-Yazouri, komandan Brigade Khan Yunis.

Pada hari yang sama, serangkaian serangan udara juga menyasar sejumlah lokasi di kawasan padat penduduk Gaza. Tasnim melaporkan sedikitnya sepuluh operasi penargetan dilakukan drone Israel dalam beberapa jam, termasuk serangan terhadap kendaraan dan kerumunan warga sipil.

Baca juga: Rudal dan Drone Yaman Hantam Pangkalan Saudi di Najran

Serangan terhadap warga sipil

Salah satu serangan drone menyasar lokasi berkumpulnya warga Palestina di kawasan Sheikh Radwan, utara Gaza. Tasnim melaporkan seorang petugas medis dan seorang anak tewas dalam serangan tersebut.

Sebuah kendaraan sipil di kawasan Sheikh Ajlin juga menjadi sasaran. Menurut laporan yang sama, sepuluh warga sipil terluka dan Nimer Arshi, yang disebut sebagai salah satu komandan Saraya al-Quds, tewas.

Pasukan Israel juga dilaporkan menembaki tenda-tenda pengungsi di Kamp Halawa, sebelah timur Jabalia. Seorang pria lanjut usia tewas dalam insiden tersebut.

Serangan drone lainnya dilaporkan mengenai lokasi berkumpulnya warga sipil di dekat Persimpangan ke-17 di Jalan al-Rashid dan menewaskan seorang warga Palestina. Di kawasan al-Jawazat, tiga warga sipil, termasuk seorang perempuan dan seorang anak, dilaporkan terluka akibat serangan drone.

Rangkaian kejadian tersebut, menurut Tasnim, menunjukkan bahwa pembunuhan dan serangan terarah telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di Gaza. Pada saat yang sama, perhatian negara-negara Arab dan pihak internasional terhadap kelanjutan konflik dinilai semakin berkurang.

Tasnim menyebut sejak gencatan senjata diumumkan pada Oktober tahun lalu, Israel telah melakukan sekitar 600 operasi pembunuhan di Jalur Gaza. Lebih dari 1.200 warga Palestina disebut tewas dalam periode tersebut. Laporan itu juga menyebut rata-rata korban harian akibat serangan Israel meningkat dari sekitar lima menjadi sepuluh orang dalam periode terakhir.

Baca juga: Jangan Sampai Diplomasi Iran Jadi “Pas Gol” untuk Trump

Di Washington, sejumlah pejabat Amerika, termasuk Jared Kushner, menantu Donald Trump, disebut beberapa kali meminta Hamas dan para mediator memahami situasi politik yang dihadapi Netanyahu. Pernyataan tersebut disampaikan bersamaan dengan klaim Washington mengenai upayanya menyelesaikan gencatan senjata di Gaza.

Trump sendiri, menurut Tasnim, menunjukkan sikap yang dinilai tidak memberikan perhatian besar terhadap perkembangan di Gaza. Dua hari sebelumnya di Irlandia, ia mengatakan bahwa apa yang terjadi di Gaza saat ini merupakan persoalan yang sangat kecil dan tidak penting.

Perkembangan tersebut membuat Gaza semakin tersisih dari perhatian internasional dan regional. Tasnim menilai kondisi ini dapat membuat ketidakpastian di Jalur Gaza terus berlangsung setidaknya hingga pemilu Israel, sementara serangan terhadap warga Palestina tetap berlanjut.

Dalam analisis Tasnim, Netanyahu berusaha mempertahankan citra bahwa pemerintahannya tetap berpegang pada tujuan utama perang di Gaza, termasuk pemindahan penduduk dan penguasaan wilayah tersebut. Tekanan dari pihak regional maupun internasional terhadap proses perundingan dinilai belum mengubah kebijakan Israel.

Atas dasar itu, Tasnim menggambarkan darah warga Palestina sebagai bagian dari kalkulasi politik dalam pemilu Israel. Laporan tersebut memperkirakan bahwa selama persoalan Gaza tetap berada dalam bayang-bayang kepentingan politik domestik Israel, sementara dukungan Amerika Serikat terus diberikan, kekerasan di Jalur Gaza berpotensi berlanjut. []

Baca juga: Buntu Hadapi Yaman, Saudi Minta Bantuan Israel