Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Dua Kali Diminta MBS, Trump Tolak Serang Yaman

Published

on

Mohammed bin Salman dua kali meminta serangan udara AS terhadap posisi Ansarullah di Yaman, tetapi Donald Trump disebut menolak kedua permintaan itu.
Mohammed bin Salman dua kali meminta serangan udara AS terhadap posisi Ansarullah di Yaman, tetapi Donald Trump disebut menolak kedua permintaan itu.

Media ABI, 16 September 2026 – Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dua kali meminta Presiden Amerika Serikat Donald Trump melancarkan serangan udara terhadap posisi Ansarullah di Yaman. Kedua permintaan tersebut ditolak Trump, menurut laporan Mehr News Agency pada Rabu (16/9/26) yang mengutip sejumlah media Amerika, termasuk Axios.

Baca juga: Ansarullah Bantah Tuduhan Saudi soal Drone Sasar Makkah

Permintaan itu disampaikan setelah pasukan Ansarullah bergerak menuju kota pesisir Mokha dan mendekati Selat Bab al-Mandab. Washington disebut belum berencana melakukan intervensi militer langsung di Yaman dan memilih memberikan informasi serta data penargetan kepada pihak Saudi.

Sekitar 200 personel militer Amerika Serikat berada di Arab Saudi untuk menjalankan tugas konsultatif. Mereka tidak terlibat dalam operasi tempur.

Riyadh Meminta Intervensi Langsung

Perkembangan tersebut terjadi ketika pertempuran di Yaman kembali meningkat. Ansarullah disebut semakin menguasai jalur penting perdagangan dan ekspor minyak serta merebut sejumlah wilayah yang sebelumnya berada di bawah kendali pasukan yang didukung Saudi.

Permintaan serangan udara langsung kepada Washington menunjukkan bahwa Riyadh mengharapkan keterlibatan militer Amerika untuk menghadapi perkembangan tersebut. Namun, respons Trump tidak mengarah pada pembukaan operasi militer baru.

Washington memilih dukungan dalam bentuk informasi dan data penargetan, sementara keterlibatan personel militernya di Arab Saudi tetap berada pada peran konsultatif dan nonkombatan.

Sikap tersebut berlangsung ketika Amerika Serikat tengah menghadapi dampak konflik dengan Iran dan berupaya mengurangi keterlibatan militernya di sekitar Iran serta Selat Hormuz. Kondisi itu menjadi salah satu alasan yang disebut dalam laporan terkait keputusan Washington untuk tidak membuka front baru di Yaman.

Baca juga: Saudi Gagal Total Ulangi Skenario Suriah di Yaman

Kemampuan Pertahanan dari Dalam

Pengalaman Iran dalam menghadapi serangkaian konflik dengan Amerika Serikat dan Israel juga menjadi pembanding. Dalam perang 12 hari pada Juni 2025 dan konflik 40 hari yang disebut berlangsung pada Februari hingga April 2026, kemampuan pertahanan udara, rudal, drone, dan struktur komando yang dibangun di dalam negeri disebut membantu Iran mempertahankan kapasitas pertahanannya di tengah serangan.

Kasus Saudi memperlihatkan persoalan berbeda. Ketika bantuan militer langsung dari sekutu tidak diberikan, kemampuan nasional menjadi penopang utama untuk menghadapi tekanan keamanan.

Dua permintaan Mohammed bin Salman yang ditolak Trump sekaligus menunjukkan batas keterlibatan militer Amerika Serikat di Yaman. Washington tetap memberikan dukungan tertentu kepada Riyadh, tetapi tidak mengambil langkah yang diminta Saudi berupa serangan udara langsung terhadap posisi Ansarullah. []

Baca juga: Pilot F-15 yang Disembunyikan Pentagon Muncul Tanpa Penyamaran di CBS