Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Financial Times: Bukan Lagi Washington, Teheran Kini Menentukan Tempo Perang

Published

on

Ahlulbait Indonesia, 2 Agustus 2026 – Selama puluhan tahun Amerika Serikat dikenal sebagai aktor yang menentukan arah eskalasi konflik di Timur Tengah. Namun, laporan terbaru Financial Times menunjukkan adanya perubahan yang mencolok. Media asal Inggris itu menilai Washington kini semakin berperang mengikuti tempo yang ditentukan Teheran, menandai bergesernya inisiatif strategis ke tangan Iran.

Dalam laporan berjudul Iran Sets the Pace in War with Trump yang diterbitkan pada Sabtu (2/8/2026), Financial Times menyebut bahwa setelah enam bulan konflik dengan pemerintahan Presiden Donald Trump, Iran berhasil meraih satu keuntungan strategis yang signifikan.

“Setelah enam bulan konflik dengan pemerintahan Presiden Donald Trump, Iran dinilai berhasil meraih satu keuntungan strategis yang signifikan. Washington kini semakin menjalankan perang mengikuti tempo yang ditentukan Teheran,” tulis Financial Times dalam pembukaan laporannya.

Menurut media tersebut, dalam dua pekan terakhir Iran tidak lagi sekadar merespons serangan Amerika Serikat, tetapi mulai mengambil inisiatif melalui serangan-serangan pendahuluan (pre-emptive attacks). Langkah itu dinilai bertujuan menguras kemampuan Washington sekaligus memberi tekanan kepada negara-negara Arab agar menerima kendali Iran atas Selat Hormuz.

Analis European Council on Foreign Relations (ECFR), Ellie Geranmayeh, yang diwawancarai Financial Times, menilai Teheran kini menunjukkan keberanian yang lebih besar untuk meningkatkan eskalasi lebih dahulu daripada sekadar bereaksi terhadap tindakan lawannya.

Menurut Geranmayeh, Iran ingin mengirim pesan bahwa meskipun Amerika Serikat dan Israel memulai perang, keduanya bukan pihak yang akan menentukan bagaimana konflik tersebut berakhir.

Financial Times juga menyoroti perubahan cara pandang para pengambil keputusan di Teheran setelah meningkatnya ketegangan beberapa bulan terakhir. Mengutip profesor Johns Hopkins University, Vali Nasr, media itu menyebut strategi Iran bukan diarahkan untuk meraih kemenangan militer secara langsung, melainkan memaksa Amerika Serikat menghitung ulang seluruh pilihan strategisnya.

“Mereka meningkatkan eskalasi dengan tujuan mengendalikan perilaku Amerika dan memaksa AS menghitung kembali pilihannya,” kata Nasr sebagaimana dikutip Financial Times. Ia menambahkan bahwa jika konflik berkembang menjadi perang regional, Amerika Serikat tidak lagi memiliki keleluasaan untuk memilih sendiri medan perangnya.

Laporan tersebut juga menggambarkan bahwa strategi Iran kini tidak hanya berfokus pada serangan militer, tetapi juga memperluas tekanan terhadap jalur-jalur pelayaran strategis dunia. Selain mempertahankan pengaruh di Selat Hormuz, tekanan juga disebut meluas ke Laut Merah melalui kelompok Asharullah di Yaman dan bahkan mendekati kawasan Terusan Suez setelah sebuah kapal milik Amerika di Pelabuhan Damietta, Mesir, diserang drone yang sumbernya belum dapat dipastikan.

Analis Center for Naval Analyses, Michael Connell, mengatakan kepada Financial Times bahwa ketiga jalur tersebut—Selat Hormuz, Bab el-Mandeb, dan Terusan Suez—merupakan titik-titik vital perdagangan global.

“Ini tentang mencekik jalur pelayaran. Ada tiga jalur pelayaran maritim paling penting di kawasan, dan kini serangan telah meluas ke atau mendekati ketiganya,” ujarnya.

Di sisi lain, Financial Times menilai strategi tersebut mulai memengaruhi postur militer Amerika Serikat di kawasan. Menurut laporan itu, meningkatnya serangan Iran terhadap Kuwait dan Bahrain memaksa Washington menyesuaikan penempatan pasukan dan personel militernya. Sejumlah kekuatan yang sebelumnya bertumpu pada pangkalan-pangkalan di kawasan Teluk disebut dipindahkan ke Yordania, Israel, dan lokasi lain yang dinilai lebih aman.

Meski menggambarkan Iran sebagai pihak yang berhasil merebut inisiatif strategis, Financial Times menegaskan bahwa langkah tersebut bukan tanpa risiko. Media itu mengutip sejumlah analis yang mengingatkan bahwa Teheran dapat salah memperhitungkan batas toleransi Washington sehingga memicu respons militer yang jauh lebih besar. Selain itu, tekanan ekonomi yang terus membebani Iran juga dinilai berpotensi memengaruhi keberlanjutan strategi jangka panjang negara tersebut.

Continue Reading