Internasional
Jenderal AS Akui Kekurangan Pasukan untuk Lindungi Israel dari Serangan Iran

Ahlulbait Indonesia, 1 Agustus 2026 – Seorang jenderal senior Amerika Serikat dilaporkan memperingatkan Pentagon bahwa pasukan yang berada di bawah komandonya tidak lagi mencukupi untuk terus melindungi Israel dari ancaman serangan rudal balistik Iran.
Laporan eksklusif The Washington Post yang terbit pada 1 Agustus 2026 mengungkapkan bahwa Panglima Komando Eropa Amerika Serikat (EUCOM) secara tertutup telah menyampaikan kekhawatiran tersebut kepada para pejabat Pentagon. Menurut laporan itu, keterbatasan armada kapal perusak Angkatan Laut AS menjadi faktor utama yang membatasi kemampuan Washington mempertahankan komitmen pertahanan bagi Israel.
Kapal-kapal perusak tersebut selama ini memainkan peran penting dalam mencegat rudal balistik yang ditembakkan Iran menuju wilayah Israel. Namun, tingginya kebutuhan operasional membuat jumlah kapal yang tersedia semakin terbatas.
Menurut The Washington Post, kondisi itu memaksa komandan militer Amerika untuk mulai memprioritaskan pertahanan wilayah Amerika Serikat dibanding mempertahankan tingkat perlindungan yang sama bagi Israel.
Laporan tersebut menggambarkan bagaimana perang yang terus berlangsung dengan Iran mulai memberikan tekanan nyata terhadap kesiapan militer Amerika Serikat. Selain meningkatnya kebutuhan personel dan aset tempur, stok sistem pertahanan udara dan kapal perang juga semakin terbebani akibat operasi yang berlangsung dalam waktu lama.
Kondisi ini menandai tantangan baru bagi Washington yang selama ini menjadi pendukung utama pertahanan Israel. Ketika ancaman rudal balistik Iran masih berlanjut, kemampuan Amerika untuk mempertahankan kehadiran militer dalam skala besar di kawasan disebut tidak lagi tanpa batas.
Laporan The Washington Post juga menunjukkan bahwa persoalan tersebut bukan semata-mata menyangkut Israel, tetapi juga kesiapan militer Amerika Serikat secara global. Dengan jumlah kapal perusak yang terbatas, Pentagon harus menentukan prioritas penempatan aset antara melindungi sekutu di Timur Tengah dan menjaga pertahanan kawasan lain, termasuk wilayah Amerika Serikat sendiri.
Temuan ini memperlihatkan bahwa konflik berkepanjangan di Timur Tengah mulai menguras sumber daya militer Amerika Serikat. Di tengah meningkatnya ancaman regional, Washington kini dihadapkan pada dilema strategis antara mempertahankan komitmen keamanan terhadap sekutunya dan memastikan kesiapan pertahanan nasional tetap terjaga.

