Internasional
Di Dekapan Imam Ridha: Perjalanan Terakhir Imam Ali Khamenei

Mashhad, 9 Juli 2026 – Malam belum benar-benar berakhir ketika Mashhad kehilangan kesunyiannya. Jalan-jalan yang mengarah ke Haram Suci Imam Ali ar-Ridha a.s. berubah menjadi arus manusia yang bergerak perlahan menuju satu titik. Tidak ada aba-aba. Tidak ada komando. Orang-orang datang dengan langkah yang sama, membawa bunga, potret, bendera-bendera hitam dan merah, serta doa yang dipanjatkan lirih di tengah udara pagi.
Di kejauhan, kubah emas Haram Imam Ridha mulai memantulkan cahaya matahari yang terbit perlahan. Sejak subuh jutaan pasang mata tertuju ke arah yang sama. Kota ziarah itu berubah menjadi ruang perjumpaan antara duka, penghormatan, keyakinan, dan kesetiaan.
Perjalanan panjang itu bermula beberapa hari sebelumnya. Dari Teheran, lalu Qom, Najaf, hingga Karbala, masyarakat memenuhi jalan-jalan untuk mengiringi jenazah pemimpin syahid Revolusi Islam, Imam Ali Khamenei. Kini, seluruh perjalanan bermuara di Mashhad, kota kelahirannya sekaligus kota yang menaungi makam Imam Ridha a.s., tempat yang dipilih sebagai peristirahatan terakhirnya.
Sejak malam sebelumnya, arus pelayat terus memasuki Mashhad. Kendaraan dari berbagai penjuru Iran berdatangan tanpa henti. Banyak yang memilih melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Haram Imam Ridha, sementara yang lain bertahan di sepanjang Jalan Imam Ridha agar tidak kehilangan kesempatan menyaksikan iring-iringan jenazah pemimpin yang melintas.
Di antara kerumunan tampak keluarga yang datang bersama anak-anak mereka, para lansia yang bertumpu pada tongkat, mahasiswa, ulama, pedagang, hingga para peziarah yang menempuh perjalanan berjam-jam dari kota-kota yang jauh. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, tetapi pagi itu dipertemukan oleh tujuan yang sama.
Pagi berlalu, tetapi rombongan belum juga tiba.
Penantian yang semula berlangsung dalam keheningan perlahan berubah menjadi lantunan doa, bacaan Al-Qur’an, dan zikir yang terdengar dari berbagai penjuru. Sesekali terdengar kabar yang beredar dari mulut ke mulut, namun tidak lama kemudian panitia menyampaikan pengumuman resmi. Prosesi pemakaman di Mashhad diundur hingga pukul 14.00 waktu setempat.
Penyebabnya bukan kendala di Mashhad. Rangkaian penghormatan di Najaf dan Karbala berlangsung lebih lama dari jadwal karena besarnya antusiasme masyarakat Irak yang mengiringi perjalanan jenazah.
Di tengah penantian itu, propinsi Quds Razavi mengeluarkan pengumuman mengenai pelaksanaan rangkaian penghormatan terakhir. Setelah prosesi pengantaran jenazah Imam Ali Khamenei melintasi Jalan Imam Ridha a.s., salat jenazah bagi para syuhada dijadwalkan berlangsung di Sahn Payambar A’zam serta sejumlah area lain di Kompleks Suci Makam Imam Ridha a.s.
Karena kapasitas kawasan haram telah mencapai batas, para pelayat yang hendak mengikuti salat jenazah diarahkan bergabung melalui ruas Jalan Shirazi, Navab Safavi, dan Tabarsi. Pengelola kompleks suci juga mengimbau masyarakat untuk tidak memasuki kawasan melalui Gerbang Bab al-Ridha a.s. dan Bab al-Jawad a.s. agar arus jamaah tetap terkendali.
Pada saat yang sama, Kepala Polisi Lalu Lintas Faraja mengumumkan pemberlakuan rekayasa lalu lintas di Mashhad. Pengaturan jalur masuk menuju kota diperketat, pemindahan penumpang kereta api dari wilayah yang terdampak terus dilakukan, sementara aparat kepolisian bersama seluruh unsur pelayanan darurat disiagakan penuh untuk mendukung kelancaran prosesi.
Tidak seorang pun meninggalkan tempatnya. Penantian menjadi bagian dari penghormatan.
Mereka tetap bertahan di sepanjang jalan. Sebagian membaca Al-Qur’an. Sebagian menggenggam tasbih. Sebagian lain memilih duduk bersandar di trotoar sambil memandang ke arah kubah emas Haram Imam Ridha yang berdiri tenang di kejauhan.
Menjelang tengah hari, jalan raya yang sejak malam dipenuhi para pelayat perlahan berubah menjadi hamparan saf-saf salat. Sajadah dibentangkan di atas trotoar, badan jalan, hingga ruang-ruang kosong di antara kerumunan. Ketika takbir pertama berkumandang, lautan manusia serentak terdiam.
Di atas kepala mereka berkibar bendera-bendera merah dan hitam bertuliskan Ya Latsarat al-Husain dan Ya Latsarat al-Khamenei. Bagi para pelayat, kedua kalimat itu menjadi lambang penghormatan kepada para syuhada sekaligus ikrar untuk tetap memegang jalan perjuangan yang mereka yakini.
Tenda-tenda pelayanan berdiri hampir tanpa putus di sepanjang Jalan Imam Ridha. Relawan membagikan air minum, makanan, dan kebutuhan dasar kepada para pelayat yang terus berdatangan. Di belakang mereka, petugas kesehatan berjaga di pos-pos medis yang disiagakan Pemerintah Provinsi Khorasan Razavi, sementara aparat mengatur arus manusia agar prosesi tetap berjalan tertib.
Sesaat kemudian, semua mata beralih ke langit.
Dari kejauhan, sebuah pesawat perlahan memasuki wilayah udara Mashhad. Di kanan dan kirinya, jet-jet tempur Angkatan Udara Republik Islam Iran mengawal penerbangan yang membawa jenazah Imam Ali Khamenei beserta sejumlah anggota keluarganya setelah menyelesaikan rangkaian penghormatan di Najaf dan Karbala. Formasi itu tetap bertahan hingga pesawat menyentuh landasan Bandara Internasional Hashemi Nejad.
Bagi mereka yang menunggu sejak dini hari, kemunculan pesawat itu menjadi penanda berakhirnya penantian panjang.
Di landasan bandara, keluarga para syuhada menyambut kedatangan jenazah sebelum iring-iringan bergerak menuju Haram Imam Ridha a.s., tempat jutaan pelayat telah memenuhi jalan-jalan kota.
Di balik suasana penghormatan tersebut, eskalasi konflik juga meninggalkan dampak terhadap kehidupan masyarakat. Salah satu titik jalur rel Teheran–Mashhad menjadi sasaran serangan yang oleh otoritas Iran disebut dilakukan “musuh Zionis-Amerika”. Gangguan itu sempat menghentikan perjalanan kereta penumpang menuju Mashhad.
Setelah jalur kembali dibuka, ratusan penumpang dialihkan menggunakan armada bus agar tetap dapat mengikuti prosesi pemakaman, sementara penumpang lainnya melanjutkan perjalanan dengan kereta berikutnya. Di berbagai titik kedatangan, relawan telah menunggu untuk mengarahkan mereka menuju jalur prosesi.
Peristiwa di Mashhad juga menghadirkan tokoh-tokoh dari berbagai penjuru dunia Islam. Dari Nigeria hadir Pemimpin Syiah Sheikh Ibrahim Zakzaky. Dari Indonesia, delegasi Ahlulbait Indonesia (ABI) turut mengikuti prosesi, dipimpin Ketua Umum DPP ABI Ustadz Zahir Yahya bersama anggota Dewan Syura ABI Ustadz Husain Syahab serta jajaran Dewan Pimpinan Pusat dan Dewan Syura ABI.
Di sepanjang jalan, suasana berkabung berpadu dengan ekspresi politik. Di sela lantunan doa dan zikir, terdengar slogan-slogan anti-Amerika Serikat dan anti-rezim Zionis Israel yang bergema dari berbagai kelompok pelayat. Bagi banyak peserta, penghormatan kepada pemimpin syahid menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pandangan mereka terhadap perkembangan politik di kawasan.
Keheningan yang Berbicara
Ada yang menggenggam bunga tanpa mengucapkan sepatah kata. Ada yang memeluk potret sang pemimpin sambil menahan air mata. Ada keluarga yang mengangkat anak-anak mereka ke bahu agar dapat menyaksikan iring-iringan melintas. Ada pula para lansia yang tetap berdiri, meski harus bertumpu pada tongkat selama berjam-jam.
Menjelang sore, iring-iringan akhirnya memasuki kawasan Haram Imam Ridha a.s. Jutaan tangan kembali terangkat mengiringi doa, sementara pandangan para pelayat mengikuti perlahan laju rombongan menuju tempat pemakaman. Perjalanan yang dimulai dari Teheran, berlanjut ke Qom, Najaf, dan Karbala, akhirnya mencapai penghujungnya di Mashhad.
Matahari perlahan condong ke barat. Kubah emas Imam Ridha tetap memantulkan cahaya yang sama ketika iring-iringan menghilang di balik gerbang haram. Banyak pelayat masih berdiri di tempatnya. Sebagian menundukkan kepala. Sebagian lain memandang kubah itu lebih lama daripada biasanya.
Di bawah kubah emas itu, prosesi pemakaman Imam Ali Khamenei berlangsung.
Di luar gerbang haram, arus manusia belum bergerak. Banyak yang tetap terpaku di tempatnya, seakan enggan mengakhiri perjumpaan terakhir itu. Yang melangkah pun berjalan dalam diam, tanpa percakapan. Mata mereka sesekali kembali tertuju ke arah kubah emas. []









