Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

AS Tak Mungkin Menang Cepat dalam Perang Melawan Iran

Published

on

Mantan diplomat Amerika Serikat Alan Eyre menilai Washington tidak memiliki strategi yang jelas untuk mengakhiri perang terhadap Iran dan tidak akan mampu meraih kemenangan cepat.
Mantan diplomat Amerika Serikat Alan Eyre menilai Washington tidak memiliki strategi yang jelas untuk mengakhiri perang terhadap Iran dan tidak akan mampu meraih kemenangan cepat.

Media ABI, 8 September 2026 – Mantan diplomat Amerika Serikat Alan Eyre menilai Washington tidak akan mampu meraih kemenangan cepat dalam perang melawan Iran. Di tengah belum adanya strategi yang jelas untuk mengakhiri konflik, Eyre mendesak pemerintah Amerika Serikat segera mencari jalan keluar dari perang yang, menurutnya, terus menggerus kredibilitas Washington di mata dunia.

Dalam wawancara dengan CNBC yang dikutip Fars News Agency pada Selasa, 8 September 2026, Eyre mengatakan salah satu akibat tragis perang terhadap Iran adalah terus merosotnya kredibilitas internasional Amerika Serikat. Eyre merupakan juru bicara pertama berbahasa Persia di Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada masa pemerintahan Presiden Barack Obama dan pernah menjadi perunding Amerika dalam pembicaraan yang mengarah pada kesepakatan nuklir.

Baca juga: Pembersihan Puing Gaza Berpotensi Hilangkan Bukti Kejahatan Israel

Menurut Eyre, cara Amerika Serikat menjalankan perang terhadap Iran berbeda dengan pendekatan Washington dalam perang-perang sebelumnya, ketika negara itu berusaha membangun dukungan internasional dan mencari legitimasi melalui sekutu serta berbagai forum multilateral.

“Dalam perang-perang sebelumnya, misalnya perang Irak, Amerika berusaha mengemukakan argumentasinya di tingkat internasional. Amerika mencari sekutu dan aktif dalam forum multinasional dan multilateral. Namun, dalam kasus ini, tidak satu pun dari hal tersebut terjadi,” katanya.

Eyre menyebut tindakan militer terhadap Iran sebagai langkah sepihak. Pemerintahan Presiden Donald Trump, menurutnya, tidak berkonsultasi dengan para sekutu, tetapi justru memberikan tekanan melalui ancaman sanksi terhadap negara-negara yang masih melakukan perdagangan dengan Iran.

“Kami tidak berkonsultasi dengan sekutu kami dan bahkan sekarang pun kami tidak melakukannya. Kami mengancam sekutu kami. Kami mengatakan kepada mereka bahwa jika kalian melakukan perdagangan apa pun dengan Iran, kami akan mengejar kalian melalui sanksi sekunder,” ujarnya.

Washington Dinilai Kehilangan Arah

Kritik Eyre juga diarahkan pada cara pemerintahan Trump menjalankan diplomasi. Menurutnya, salah satu penyebab perang tersebut terjadi adalah ketidakmampuan pemerintah saat ini dalam mengelola diplomasi, berbeda dengan pemerintahan-pemerintahan Amerika sebelumnya, baik dari Partai Republik maupun Demokrat.

“Pemerintah ini tidak memiliki orang-orang yang tepat. Mereka tidak tahu bagaimana menggunakan birokrasi pemerintahan. Mereka juga tidak terlalu tertarik pada diplomasi karena diplomasi membutuhkan waktu. Diplomasi adalah upaya yang panjang dan sulit,” katanya.

Baca juga: Pentagon Tolak Bayar Tunjangan Keluarga Tentara AS yang Tewas dalam Perang Iran

Menurut Eyre, pemerintahan Trump menginginkan hasil cepat, termasuk dalam perang melawan Iran. Namun, Washington tidak akan memperoleh kemenangan cepat seperti yang diharapkan.

“Pemerintah ini ingin masuk dengan sangat cepat dan keluar dengan sangat cepat,” katanya.

Eyre menilai Washington kini mengalami masalah dalam menjaga fokus strategis dan terus mengejar kemenangan cepat yang tidak akan diperoleh dalam perang tersebut. Akibatnya, pemerintah Amerika Serikat berada dalam kebingungan strategis dan tidak memiliki gambaran yang jelas mengenai cara mengakhiri konflik.

China Menyaksikan Pelemahan Amerika

Pandangan Eyre kemudian meluas pada posisi China, yang menurutnya sedang menyaksikan melemahnya posisi strategis Amerika Serikat. Dengan menyindir aktivitas Trump di media sosial, Eyre mengatakan China bekerja jauh lebih senyap dan tidak banyak menarik perhatian.

“China selalu bekerja di belakang layar dan karena itu mereka tidak membuat banyak keributan. Mereka benar-benar kebalikan dari pemerintahan Trump. Mereka tidak muncul di Truth Social setiap lima menit dan menggunakan gambar yang dibuat kecerdasan buatan untuk menunjukkan apa yang akan mereka lakukan,” katanya.

Menurut Eyre, posisi China terhadap konflik tersebut memiliki dua sisi. Negara itu memperoleh sebagian besar energi dan kebutuhan pokoknya melalui kawasan Teluk Persia. Beijing disebut telah mengurangi impor dan melakukan sejumlah penyesuaian. Meski memiliki sumber energi terbarukan, pembatasan atau penutupan Selat Hormuz tetap tidak menguntungkan bagi China.

Pada saat yang sama, Eyre mengatakan Beijing sedang menyaksikan Amerika Serikat menghancurkan kredibilitas internasionalnya sendiri dan terus mengubah posisi serta strategi. Ia menggambarkan kondisi itu sebagai bentuk “bunuh diri sebagai negara adidaya”, ketika sebuah kekuatan besar justru merusak kepentingan strategisnya sendiri.

Eyre juga menyinggung menipisnya persediaan persenjataan presisi dan sistem pertahanan Pentagon. Menurutnya, sebagian besar amunisi yang dibutuhkan Amerika Serikat jika terjadi konfrontasi atau eskalasi di Laut China Selatan terkait Taiwan telah digunakan dalam konflik saat ini.

Baca juga: Iran Membongkar Titik Lemah Militer Amerika

“Kami telah menggunakan hampir seluruh amunisi yang akan kami butuhkan jika terjadi konfrontasi atau eskalasi di Laut China Selatan terkait Taiwan dan kemungkinan konflik di sana,” katanya.

Menurut Eyre, China kini hanya menyaksikan bagaimana Amerika Serikat terus merugikan kepentingan strategisnya sendiri di berbagai kawasan dunia.

Jalan Keluar dari Perang dan Dampak yang Tersisa

Ketika ditanya mengenai jalan keluar dari konflik, Eyre mengatakan salah satu persoalan utama adalah pemerintah Amerika Serikat tidak mencari nasihat ketika memutuskan memasuki perang maupun ketika kini perlu mencari jalan keluar. Menurutnya, langkah paling mendesak saat ini adalah memulihkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz secepat mungkin.

Eyre mengatakan kondisi tersebut mungkin mengharuskan Amerika Serikat menerima pengendalian sementara Selat Hormuz oleh Iran dan Oman, termasuk kemungkinan penerapan biaya layanan atau pungutan tertentu bagi kapal yang melintas. Ia berpendapat langkah itu tidak akan memberikan dampak besar terhadap harga global, meskipun negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk akan menanggung bagian biaya yang lebih besar dan kemungkinan tidak menyambutnya.

“Pada tahap ini, hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah keluar dari perang secepat mungkin dan mencapai kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri blokade laut, karena itulah yang sedang mereka upayakan,” katanya.

Eyre juga menyebut kemungkinan pembebasan sebagian aset Iran agar negara tersebut dapat mengakses sebagian dananya sendiri. Namun, menurutnya, pemerintahan Amerika Serikat menghadapi hambatan politik besar untuk mengambil langkah tersebut karena pembebasan aset Iran maupun penerimaan atas pengendalian Selat Hormuz oleh Iran dapat menjadi risiko politik yang sangat besar bagi Washington.

Mengenai kemungkinan perang berubah menjadi konflik berkepanjangan, Eyre mengatakan situasi saat ini tidak mungkin dipertahankan selama bertahun-tahun. Namun, peningkatan tekanan ekonomi dan militer terhadap Iran justru dapat meningkatkan kemungkinan eskalasi.

Baca juga: Seperempat Armada MQ-9 AS Hilang dalam Perang dengan Iran

“Semakin besar tekanan ekonomi dan militer terhadap Iran, semakin besar kemungkinan Iran meningkatkan eskalasi untuk menghentikan situasi ini,” katanya.

Eyre memperkirakan kondisi tersebut setidaknya akan berlangsung selama beberapa bulan ke depan hingga akhir tahun. Bahkan setelah konflik berakhir, dampaknya diperkirakan tidak akan segera hilang. Pasar asuransi maritim, menurutnya, dapat membutuhkan waktu enam bulan hingga satu tahun untuk kembali yakin memberikan perlindungan bagi pelayaran melalui Selat Hormuz, sementara rantai pasok global juga memerlukan waktu berbulan-bulan untuk kembali stabil.

“Krisis ini tidak akan segera hilang, tetapi saya berharap tidak akan berlangsung selama krisis lain seperti perang Rusia dan Ukraina serta konflik-konflik serupa,” kata Eyre. []

Baca juga: Mayjen Rezaei: Iran Uji Rudal Anti Perusak di Atas Kapal Perang AS