Ikuti Kami Di Medsos

Persatuan

Haji sebagai Manifestasi Ketundukan kepada Allah dan Persatuan Umat Islam

Published

on

Haji dipahami bukan hanya ritual ibadah individual, tetapi juga ruang pembentukan solidaritas dan kesadaran umat Islam.
Haji sebagai manifestasi tauhid dan persatuan umat Islam dibahas dalam forum Majma' Taqrib Bainal Mazahib.

Jakarta, 26 Mei 2026 — Haji tidak hanya dipahami sebagai ritual ibadah individual, tetapi juga sebagai manifestasi tauhid yang membentuk solidaritas dan kesadaran sosial umat Islam. Perspektif tersebut mengemuka dalam webinar yang diselenggarakan Majma’ Taqrib Bainal Mazahib atau Lembaga Internasional untuk Pendekatan Antar Mazhab Islam pada 20 Mei 2026 melalui pemaparan Dr. Sayyid Abdullah Assegaf dari Universitas Brawijaya (UB) mengenai pemikiran Ali Syariati dan relevansinya terhadap dinamika dunia Islam kontemporer.

Baca juga: Fatwa Ayatullah Ali al-Sistani tentang Haji dalam Kondisi Tahun Ini

Presentasi bertajuk “Hajj as a Ritual of Monotheism and Comprehensive Islamic Politics: Ali Syariati’s Perspective and Its Relevance to the Awareness of the Resistance of the Ummah” itu menegaskan bahwa haji merupakan manifestasi tauhid yang menyatukan dimensi spiritual, historis, sosial, dan politik Islam dalam satu kesadaran kolektif.

Menurut Abdullah, Syariati memandang tauhid bukan hanya pengakuan teologis terhadap keesaan Tuhan, melainkan pandangan dunia yang menolak pemisahan agama dari perjuangan sosial. Dalam perspektif tersebut, ritual haji dipahami sebagai kritik terhadap ketimpangan modern, hegemoni politik, dan struktur penindasan global.

Penggunaan ihram dalam ibadah haji, lanjut Abdullah, merepresentasikan runtuhnya simbol status sosial dan kelas. Seluruh manusia ditempatkan setara di hadapan Tuhan. Kesetaraan itu menjadi pesan fundamental Islam yang menolak dominasi manusia atas manusia lain.

Abdullah juga mengulas simbolisme pengorbanan Nabi Ibrahim a.s. yang dalam pemikiran Syariati dipahami bukan semata kisah historis, melainkan energi revolusioner bagi perubahan sosial. Ritual kurban dimaknai sebagai penghancuran ego, kepentingan pribadi, dan rasa takut yang menghambat perjuangan menegakkan keadilan.

Sementara itu, ritual lempar jumrah disebut sebagai simbol perlawanan terhadap tirani politik, kolonialisme, kapitalisme eksploitatif, dan hegemoni budaya. Dalam kerangka tersebut, haji membentuk keberanian moral umat Islam untuk menghadapi ketidakadilan global.

Baca juga: Haji: Refleksi Memuliakan Perempuan

Sayyid Abdullah juga menyinggung relevansi pemikiran Syariati terhadap Revolusi Islam Iran. Syariati, kata dia, berhasil mentransformasikan simbol-simbol keagamaan menjadi energi sosial dan kesadaran historis yang memperkuat gerakan rakyat melawan rezim Shah yang otoriter dan pro-Barat.

Dalam konteks global saat ini, Abdullah menilai pesan haji tetap relevan di tengah dunia yang dilanda perang, ketimpangan ekonomi, islamofobia, dan krisis moral global. Haji, menurutnya, menghadirkan nilai kesederhanaan di tengah konsumerisme, solidaritas di tengah individualisme, serta keberanian melawan ketidakadilan.

Sayyid Abdullah menegaskan bahwa umat Islam perlu memandang haji sebagai sumber kebangkitan moral dan peradaban, bukan ritual formal tahunan semata. Spirit tauhid dalam haji, kata dia, harus melahirkan keberanian, keadilan, dan transformasi sosial yang nyata dalam kehidupan umat. []

Baca juga: Ketua Umum ABI: Haji Bukan Sekadar Ritual, Tapi Jalan Menuju Makrifah