Pendidikan
Perang Media dan Cara Iran Melihat Pertarungan dengan Amerika

Media ABI, 10 September 2026 – Amerika Serikat digambarkan sebagai kekuatan yang ingin menggenggam dunia, menundukkan Iran, menggerakkan kapal perang, dan memerintah melalui rasa takut. Gambaran itu menjadi pijakan artikel Fars News Agency yang terbit pada Rabu, 9 September 2026, ketika membahas pertarungan Iran dengan Amerika yang berlangsung bukan hanya di medan tempur, tetapi juga melalui perang media.
Baca juga: Mengapa Washington Mengecilkan Arti Penting Kendaraan Nirawak yang Disita Iran
Citra Amerika sebagai kekuatan yang tidak terkalahkan, menurut Fars, mulai mengalami keretakan. Negara yang selama bertahun-tahun mampu mengirim kekuatan militernya ke berbagai penjuru dunia dan memaksakan kehendaknya kepada negara lain kini menghadapi perlawanan yang tidak mudah dipatahkan.
Tekanan dan serangan terhadap Iran juga disebut tidak berhasil memaksa Teheran menyerah. Dari sinilah muncul keyakinan bahwa kemenangan kebenaran atas kebatilan semakin dekat dengan kenyataan.
Iran ditempa perang dan tekanan
Sejak Republik Islam berdiri, Iran menghadapi perang, ancaman, dan tekanan yang datang silih berganti. Upaya untuk menggagalkan negara baru tersebut disebut tidak berhasil. Sebaliknya, pengalaman panjang itu ikut membentuk kemampuan pertahanan, ilmu pengetahuan, dan teknologi Iran.
Negara yang dahulu harus mencari bantuan dari pihak lain untuk memenuhi kebutuhan pertahanannya kini digambarkan telah mampu membangun kekuatannya sendiri.
Namun, capaian terbesar tidak ditempatkan pada persenjataan. Istilah فتحالفتوح atau “kemenangan terbesar” justru diarahkan kepada manusia yang lahir dari pengalaman Revolusi Islam, manusia yang memiliki kesadaran, keteguhan, dan kemauan untuk terus berjuang.
Masyarakat yang mampu bertahan dalam tekanan dipandang sebagai kekuatan utama. Ancaman tidak selalu berakhir sebagai kelemahan. Dalam pengalaman Iran, tekanan justru dapat menjadi dorongan untuk memperkuat kemampuan dan memperluas pengaruh.
Baca juga: Iran Sulap Perang AS-Israel Jadi Laboratorium Teknologi Militer
Gagasan itu kemudian dibawa ke Lebanon, Palestina, Irak, Yaman, dan sejumlah wilayah lain di dunia Islam. Munculnya kelompok dan masyarakat yang menolak tunduk kepada kekuatan yang dianggap menindas dipandang sebagai bagian dari kebangkitan kesadaran.
Melihat perang dari ukuran yang berbeda
Perang biasanya dibaca melalui jumlah korban, rudal yang ditembakkan, wilayah yang hancur, dan infrastruktur yang rusak. Fars menawarkan ukuran lain.
Keteguhan para pejuang, pengelolaan Selat Hormuz, meluasnya wilayah perlawanan, penyebaran gagasan para pemimpin Revolusi Islam, serta kesulitan yang dihadapi lawan di medan konflik dipandang sebagai tanda yang tidak kalah penting.
Pandangan itu dikaitkan dengan ayat Al-Qur’an, “وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ”, yang berarti bahwa pertolongan kepada orang-orang beriman merupakan janji Allah.
Dari sini Fars mengajukan pertanyaan yang menjadi inti tulisannya. Siapa yang sebenarnya sedang berada dalam posisi terdesak dan menuju kemunduran?
Iran digambarkan sebagai bangsa dengan sejarah panjang yang mengakar, membawa gagasan tentang perdamaian dan kemuliaan manusia, serta mengemban misi untuk memperjuangkan keadilan global.
Amerika dan sistem dominasi yang dikaitkan dengannya ditempatkan dalam gambaran yang berlawanan. Pendudukan wilayah, penguasaan kekayaan bangsa lain, kekerasan terhadap masyarakat yang lemah, serta upaya memengaruhi pikiran dan kehendak manusia disebut sebagai bagian dari cara kerja sistem tersebut.
Baca juga: Hindari Serangan Iran, AS Pertimbangkan Pangkalan Militer Bawah Tanah
Fars kemudian mengutip pandangan bahwa kemenangan akhir kebenaran atas kebatilan dan Islam atas kekufuran kini dianggap lebih dekat dengan kenyataan dibandingkan masa-masa sebelumnya.
Pertarungan juga terjadi di ruang informasi
Medan perang bukan satu-satunya tempat berlangsungnya pertarungan. Narasi, persepsi, dan rasa takut juga menjadi bagian dari konflik.
Amerika digambarkan memiliki kekuatan militer dan ekonomi yang besar, sekaligus kemampuan membentuk cara dunia melihat sebuah peristiwa. Karena itu, keteguhan dan kesadaran dianggap sama pentingnya dalam menghadapi tekanan.
Islam, dalam kerangka tulisan Fars, telah melewati perjalanan panjang sejak masa awal hingga sekarang. Berbagai tekanan dan gejolak tidak menghapus keberadaannya, tetapi justru dipandang membawa dunia Islam menuju fase yang menentukan.
Di ujung tulisan, pesan itu kembali pada persatuan umat Islam. Persatuan dipandang sebagai syarat penting untuk menghadapi apa yang disebut sebagai kekufuran global.
Bagi Fars, perang media tidak hanya bertujuan memenangkan sebuah narasi. Pertarungan yang lebih dalam adalah mempertahankan keberanian agar sebuah masyarakat tidak menyerah sebelum pertempuran benar-benar berakhir. Dalam kerangka itulah keteguhan dan kesadaran ditempatkan sebagai penawar terhadap rasa takut yang dibangun oleh perang media. []
Baca juga: Rudal Balistik IRGC Hantam Fasilitas F-35, F-16, dan F-15 di Pangkalan AS







