Ikuti Kami Di Medsos

Daerah

DPW ABI Kalimantan Timur Gelar Pendidikan Tingkat Menengah, Perkuat Kaderisasi Organisasi

Published

on

Kaderisasi ABI Kalimantan Timur memadukan pembelajaran keislaman, kepemimpinan, kesadaran politik, dan praktik melalui outbound.
Peserta Pendidikan Tingkat Menengah (PTM) DPW ABI Kalimantan Timur mengikuti rangkaian kaderisasi di Yayasan Az Zahra, Balikpapan, 15–17 Agustus 2026, dengan materi kepemimpinan, bela negara, kesadaran politik, dan pengabdian organisasi.

Balikpapan, 18 Agustus 2026 — Dewan Pimpinan Wilayah Ahlulbait Indonesia (DPW ABI) Kalimantan Timur kembali memperkuat sistem kaderisasi melalui Pendidikan Tingkat Menengah (PTM) yang digelar selama tiga hari, 15-17 Agustus 2026, di Yayasan Az Zahra, Balikpapan.

Mengangkat tema “Mencetak Kader Mahdawi sebagai Penghidmat Organisasi”, kegiatan tersebut dirancang untuk membekali kader dengan pengetahuan keislaman, kepemimpinan, kesadaran berorganisasi, bela negara, serta kemampuan membaca dinamika sosial dan politik.

Baca juga: Pelantikan DPW ABI Kalimantan Timur Sekaligus Memperingati Isra Mikraj 1441 H 

Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ustaz Alamsyah, kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne ABI.

Sekretaris DPW ABI Kalimantan Timur Ahmad Fauzi, S.Pd., M.Pd., membuka kegiatan secara resmi. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kualitas sumber daya manusia bagi keberlangsungan organisasi.

“Di dalam organisasi yang paling vital itu SDM-nya, bukan dari sistemnya, tetapi dari manusianya. Maka untuk membesarkan organisasi, yang perlu dibesarkan yaitu human resource-nya,” ujar Ahmad Fauzi.

Menurut dia, sistem organisasi yang baik tidak akan berjalan optimal tanpa kader yang memiliki kapasitas, integritas, loyalitas, dan kesediaan untuk mengabdikan diri kepada masyarakat.

Kaderisasi Dibangun secara Terstruktur

Dalam PTM tersebut, DPP ABI menghadirkan tiga instruktur, yakni Wakil Sekretaris Jenderal DPP ABI Arif, Ustaz Muhammad Jawad, dan Habib Muhammad Abbas Alhasni.

Materi yang diberikan mencakup kepemimpinan, bela negara, kesadaran politik, serta kemampuan membangun respons proaktif terhadap berbagai persoalan sosial dan organisasi.

Ustaz Muhammad Jawad, misalnya, mengajak peserta memahami kepemimpinan dan bela negara dari perspektif Islam dengan merujuk pada nilai-nilai Al-Qur’an.

Ia menekankan bahwa keberhasilan seorang kader tidak semata-mata diukur dari kemampuannya menyampaikan pendapat atau berargumentasi, tetapi dari seberapa jauh keberadaannya memberikan manfaat.

“Pertumbuhan berorganisasi seseorang tidak diukur dari sejauh mana bisa berargumentasi dan berorasi, tetapi diukur sejauh mana bisa berguna di dalam masyarakat dan di dalam organisasi,” kata Jawad.

Menurut dia, PTM merupakan bagian dari sistem kaderisasi yang dibangun DPP ABI secara terstruktur dan sistematis. Proses tersebut diharapkan tidak berhenti pada penguasaan materi, tetapi juga membentuk karakter dan kemampuan praktis kader.

Baca juga: DPW ABI Kalimantan Timur Adakan Halalbihalal dan Sosialisasi Buku Manifesto ABI

Kepemimpinan sebagai Amanah

Dalam materi kepemimpinan, Jawad menjelaskan bahwa kepemimpinan tidak semata-mata berkaitan dengan jabatan. Seorang pemimpin memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan kehidupan sosial menuju tujuan yang lebih baik.

Ia mengaitkan konsep tersebut dengan fungsi manusia sebagai khalifah yang memiliki tanggung jawab menjaga amanah, menyelesaikan perpecahan, dan menegakkan keadilan.

Sejumlah nilai seperti siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah juga menjadi bagian dari pembahasan mengenai karakter seorang pemimpin.

“Pemimpin dan fungsinya sebagai khalifah adalah menyelesaikan perpecahan dan menegakkan keadilan,” ujarnya.

Peserta juga diajak memahami bahwa kepemimpinan membutuhkan arah dan nilai yang jelas. Dengan demikian, kemampuan memimpin tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengelola organisasi, tetapi juga dengan tanggung jawab moral dalam menjalankan amanah.

Bela Negara Tak Hanya Soal Pertahanan

Materi lain yang diberikan adalah bela negara dalam perspektif Islam.

Bela negara dalam pembahasan tersebut tidak hanya dimaknai sebagai upaya pertahanan secara fisik, tetapi juga mencakup tanggung jawab menjaga keamanan, keadilan, persatuan, ketertiban, dan keselamatan bersama.

Jawad mengaitkan materi tersebut dengan sejumlah nilai dalam Al-Qur’an, termasuk QS Al-Hajj ayat 39.

Para peserta juga diajak memahami pentingnya ketetapan hati, istiqamah, dan semangat maknawi dalam menjalankan perjuangan.

Pesan tersebut menekankan bahwa pengabdian seorang kader membutuhkan konsistensi. Semangat yang muncul sesaat dinilai tidak cukup untuk menghadapi tantangan organisasi dan kehidupan sosial yang terus berubah.

Baca juga: DPW ABI Kaltim Perkuat Konsolidasi Organisasi, Fokus pada Kinerja dan Kemandirian Ekonomi

Kader Didorong Memiliki Kesadaran Politik

Sementara itu, Habib Muhammad Abbas Alhasni membawakan materi mengenai kesadaran politik dan pentingnya membangun respons proaktif.

Ia menjelaskan bahwa politik atau siyasah dapat dipahami sebagai upaya mengarahkan kehidupan manusia menuju kondisi yang lebih baik berdasarkan nilai dan petunjuk agama.

Menurut Abbas, kesadaran politik seorang kader tidak seharusnya hanya dipahami dalam konteks politik praktis. Kader perlu memahami hubungan antara individu, aturan, masyarakat, serta berbagai kepentingan yang berkembang di dalam kehidupan sosial.

Ia juga menekankan pentingnya sikap proaktif. Menurut dia, seorang kader tidak cukup hanya menunggu perubahan, tetapi perlu mampu membaca keadaan, mengambil inisiatif, dan menerjemahkan harapan menjadi tindakan.

“Harapan adalah setiap esok adalah harapan, bahkan sedetik ke depan adalah harapan. Amal adalah sebuah kemestian ketika kita memiliki harapan,” ujarnya.

Dengan demikian, harapan tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi harus diwujudkan melalui kerja dan kontribusi nyata.

Materi Kaderisasi Diuji Melalui Outbound

Hari terakhir PTM bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Para peserta turut mengikuti upacara peringatan kemerdekaan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan.

Setelah upacara, peserta mengikuti kegiatan outbound yang dirancang untuk menerapkan materi yang telah mereka dapatkan selama dua hari sebelumnya.

Sebelum kegiatan dimulai, Arif memberikan pengantar mengenai pentingnya kemampuan memahami situasi dan mengambil peran.

“Dunia ini seperti permainan, tetapi jika kita tidak menguasainya maka kita yang akan dipermainkan,” ujar Arif.

Peserta kemudian mengikuti sejumlah permainan dan tantangan kelompok yang membutuhkan kerja sama, kepemimpinan, pengambilan keputusan, komunikasi, serta kemampuan menyelesaikan persoalan.

Melalui kegiatan tersebut, berbagai materi yang sebelumnya disampaikan di dalam kelas diterapkan secara langsung. Peserta tidak hanya dituntut memahami konsep kepemimpinan dan kerja sama, tetapi juga menguji kemampuan mereka dalam mengambil keputusan dan bertanggung jawab terhadap tugas kelompok.

Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kaderisasi tidak hanya membutuhkan kemampuan intelektual. Kader juga perlu memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, menjaga fokus, mengendalikan diri, serta menyelesaikan persoalan secara bersama-sama.

Baca juga: LI ABI Disiapkan sebagai Rumah Permanen Kemandirian Ekonomi Komunitas

Mencetak Kader yang Siap Mengabdi

Pelaksanaan PTM DPW ABI Kalimantan Timur menjadi bagian dari upaya memperkuat kaderisasi organisasi secara berkelanjutan.

Tema “Mencetak Kader Mahdawi sebagai Penghidmat Organisasi” menempatkan kader bukan hanya sebagai calon penerus struktur organisasi, tetapi juga sebagai individu yang diharapkan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Kader diharapkan memiliki pengetahuan keislaman dan kemampuan berorganisasi sekaligus karakter pengabdian, kepedulian sosial, semangat kebangsaan, serta kemampuan membaca perubahan di lingkungan sekitarnya.

Perpaduan antara materi keislaman, kepemimpinan, bela negara, kesadaran politik, dan praktik lapangan diharapkan dapat membentuk kader yang tidak hanya aktif dalam organisasi, tetapi juga mampu mengambil peran di tengah masyarakat.

Bagi DPW ABI Kalimantan Timur, proses tersebut merupakan investasi jangka panjang. Sebab, keberlangsungan organisasi tidak hanya bergantung pada sistem dan program kerja, tetapi juga pada kualitas manusia yang menjalankan dan mengembangkannya.

Melalui kaderisasi yang dilakukan secara berkelanjutan, DPW ABI Kalimantan Timur berharap lahir kader-kader yang memiliki kapasitas, integritas, dan kesiapan untuk mengabdikan diri bagi organisasi sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. [Nugraha]

Baca juga: Kembali Pimpin Rapat, Ketua DPW ABI Kaltim Dorong Akselerasi Program Organisasi