Kegiatan ABI
Muslim Menjawab: Memahami Persoalan Masyarakat dengan Membaca Perkembangan Zaman

Jakarta, 15 Oktober 2026 – Banyaknya informasi yang beredar tidak serta-merta membuat persoalan masyarakat lebih mudah dipahami. Sebuah peristiwa perlu dilihat dalam konteksnya, sementara informasi yang beredar perlu diperiksa agar tidak keliru dalam memahami keadaan. Hal itu disampaikan Hasan Zakaria dari Muslim Menjawab dalam diskusi “Jihad Tabyin dan Rintisan Tradisi Intelektual Kader ABI” yang digelar Departemen Humas, Media dan Penerangan (HMP) DPP Ahlulbait Indonesia (ABI), Ahad (11/10/2026), melalui Zoom Meeting. Membawakan tema “Memahami Persoalan Masyarakat dalam Perspektif Islam”, Hasan menguraikan pentingnya memahami perkembangan zaman dan kaitannya dengan tanggung jawab sosial umat.
Baca juga: Media ABI: Jihad Tabyin Menuntut Tradisi Intelektual Berkelanjutan
Memahami Zaman untuk Membaca Persoalan
Zakaria menjelaskan bahwa Islam mencakup berbagai dimensi kehidupan, dari urusan spiritual hingga hubungan sosial, ekonomi, dan politik. Ia merujuk pemikiran Imam Khomeini yang menempatkan ajaran Islam dalam kaitannya dengan kehidupan individu dan masyarakat.
Ia juga mengutip riwayat dari Imam Ja’far ash-Shadiq tentang pentingnya mengenal zaman agar tidak terjerumus dalam fitnah dan syubhat. Kemampuan memahami keadaan ini berkaitan dengan bashirah, yakni ketajaman pandangan dalam menilai persoalan dan membedakan kebenaran dari kekeliruan.
Menurutnya, informasi yang menyesatkan dapat memengaruhi cara masyarakat memahami kenyataan. Karena itu, penguasaan informasi perlu disertai kemampuan menelaah konteks, memeriksa sumber, dan mengenali kepentingan yang menyertainya.
Tiga Pola yang Perlu Diwaspadai
Dalam pemaparannya, Hasan Zakaria menyebut tiga pola yang menurutnya dapat melemahkan masyarakat: tadh’if atau pelemahan, takhrib atau perusakan, dan tahrif atau pemutarbalikan fakta.
Pelemahan, menurut penjelasannya, dapat menumbuhkan rasa tidak berdaya. Respons yang ia tekankan ialah memperkuat keimanan, pengetahuan, serta pembinaan melalui kajian dan pelatihan. Sementara itu, perusakan dihadapi dengan semangat kerja dan pengabdian, termasuk upaya membangun kembali kemampuan masyarakat.
Adapun pemutarbalikan fakta membutuhkan kewaspadaan dan ketajaman berpikir agar informasi yang keliru tidak diterima sebagai kebenaran. Dalam kerangka ini Menurut Zakaria, ketiga pola tersebut menuntut penguatan pengetahuan sekaligus kemampuan masyarakat memahami persoalan secara utuh.
Baca juga: Ketum ABI Ingatkan: Ketangguhan Sejati Teruji saat Mengendalikan Hawa Nafsu
Memeriksa Berita sebelum Mengambil Sikap
Zakaria lebih lanjut mengaitkan tanggung jawab terhadap informasi dengan QS. Al-Hujurat ayat 6, yang memerintahkan orang beriman memeriksa berita sebelum mengambil tindakan. Pesan ini relevan ketika kabar yang belum teruji dapat menyebar luas dan memicu kesalahpahaman.
Dalam kerja Jihad Tabyin, pemeriksaan informasi menjadi bagian penting sebelum sebuah penjelasan disampaikan kepada publik. Bagi kehumasan dan media, hal itu berarti memastikan sumber, ketepatan fakta, dan konteks pemberitaan. Klarifikasi pun perlu ditopang bukti agar tidak menimbulkan kekeliruan baru.
Selain persoalan informasi, ia membahas dimensi sosial dalam ibadah, termasuk salat berjemaah, salat Jumat, dan haji. Ia memandang pertemuan tersebut sebagai ruang untuk memperkuat solidaritas, menyampaikan pengetahuan, dan membangun kepedulian terhadap persoalan bersama.
Salat Jumat, misalnya, dapat menjadi ruang pembahasan masalah keagamaan sekaligus sosial, politik, dan ekonomi. Persatuan yang dibangun, menurut pandangannya, bukan berarti menghapus perbedaan, melainkan menjaga kepentingan bersama dan memperkuat kesediaan untuk saling membantu.
Zakaria juga menyinggung keimanan, tawakal, dan keteguhan dalam menghadapi kesulitan sebagai bagian dari pandangan teologis Islam. Nilai-nilai tersebut Terkait erat dengan semangat bertahan, bekerja, dan mengabdi di tengah berbagai tantangan.
Baca juga: Litbang DPP ABI Dalami Kehidupan Beragama Komunitas Ahlul Bait di Kalimantan Timur
Merintis Tradisi Intelektual Kader ABI
Diskusi tersebut menghadirkan tiga narasumber lain: Muhlisin Turkan dari Media ABI, Sayyid Mahdi Yahya dari POROS PERLAWANAN, serta Sayyid Mahdi Al-Attas, perwakilan Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) Iran. Masing-masing membahas pertarungan narasi di media, dinamika geopolitik, dan pengalaman membaca perubahan di Iran.
Sekretaris Jenderal DPP ABI, Sayyid Ali Ridho Assegaf, bertindak sebagai pembicara kunci, sedangkan Luthfi Awaludin Bashori dari Media ABI memandu diskusi. Kegiatan yang diikuti 63 peserta ini menjadi bagian dari upaya HMP DPP ABI merintis ruang pertukaran gagasan di kalangan kader.
Melalui perspektif yang disampaikan, Hasan menekankan pentingnya memahami persoalan sebelum menjelaskan atau mengambil sikap. Dalam Jihad Tabyin, kecakapan berkomunikasi perlu berjalan bersama ketelitian memeriksa informasi dan kemampuan membaca konteks. Kebiasaan itulah yang perlu dibangun agar kader mampu menyampaikan penjelasan yang jernih dan dapat dipertanggungjawabkan. []
Baca juga: Sekjen DPP ABI Ingatkan Bahaya Respons Reaktif di Tengah Banjir Informasi







