Kegiatan ABI
HMP DPP ABI Rintis Tradisi Intelektual Kader melalui Diskusi Jihad Tabyin

Jakarta, 11 Oktober 2026 — Informasi tentang suatu peristiwa kini mudah diperoleh dari berbagai sumber. Namun, memahami apa yang sebenarnya terjadi membutuhkan upaya lebih jauh, mulai dari memeriksa sumber dan menelusuri konteks hingga mengenali kepentingan di balik pemberitaan. Persoalan ini menjadi latar diskusi “Jihad Tabyin dan Rintisan Tradisi Intelektual Kader ABI” yang diselenggarakan Departemen Humas, Media, dan Penerangan (HMP) Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia (DPP ABI), Minggu, 11 Oktober 2026, pukul 14.30 WIB melalui Zoom Meeting.
Baca juga: Ketua HMP DPP ABI Sambangi Samarinda, Tekankan Kesiapan Spiritual Umat
Diskusi ini berangkat dari kebutuhan membangun kebiasaan mengkaji persoalan secara mendalam di kalangan kader. Perubahan sosial, politik, ekonomi, dan geopolitik berlangsung cepat, sementara informasi yang beredar tidak selalu memberikan gambaran utuh. Mengikuti perkembangan saja tidak cukup. Kader perlu memahami latar belakang suatu peristiwa, memeriksa informasi, dan mempertimbangkan berbagai sudut pandang sebelum menarik kesimpulan.
Gagasan Jihad Tabyin menjadi salah satu pijakan pembahasan. Tabyin, yang berarti penjelasan, menuntut pemahaman yang memadai terhadap persoalan yang hendak diterangkan. Penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan memerlukan ketelitian dalam memeriksa informasi, pemahaman terhadap konteks, serta argumentasi yang kuat.
Sekretaris Jenderal DPP ABI, Sayyid Ali Ridha Assegaff, dijadwalkan sebagai keynote speaker. Diskusi akan dipandu Luthfi Awaludin Bashori dari Media ABI dengan menghadirkan empat narasumber yang membawa perspektif media, geopolitik, pengalaman lapangan, dan pemikiran Islam.
Muhlisin Turkan dari Media ABI akan membahas “Membaca Realitas di Tengah Arus Informasi dan Pertarungan Narasi”. Tema ini menyoroti cara memeriksa sumber, membedakan fakta dari opini, serta mengenali kepentingan yang memengaruhi penyajian informasi. Pembahasan tersebut mengajak peserta mencermati bagaimana pemberitaan membentuk persepsi publik dan mengapa informasi perlu dibaca secara kritis.
Sayyid Mahdi Yahya dari POROS PERLAWANAN akan mengulas “Membaca Realitas Geopolitik: Perubahan Kekuatan dan Pertarungan Kepentingan”. Pembahasan mencakup hubungan antaraktor serta kepentingan politik, ekonomi, dan keamanan yang memengaruhi perkembangan kawasan, termasuk dinamika Poros Perlawanan.
Baca juga: DPD ABI Kutai Kartanegara Sambut Ketua HMP DPP, Tekankan Pengabdian dan Kesiapan Umat
Sementara itu, Sayyid Mahdi Alattas dari Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) Iran akan mengangkat “Perspektif Lapangan: Membaca Iran dari Pengalaman dan Perubahan yang Berlangsung”. Pengalaman dan pengamatan langsung diharapkan memperkaya pemahaman mengenai kehidupan masyarakat Iran, perkembangan pendidikan, dan perubahan sosial. Perspektif ini juga dapat menjadi pembanding bagi informasi yang diperoleh melalui pemberitaan dan analisis politik.
Hasan Zakaria dari Muslim Menjawab akan membahas “Memahami Persoalan Masyarakat dalam Perspektif Islam”. Tema ini mengajak peserta menelaah persoalan keadilan, pendidikan, ekonomi, kebudayaan, dan perubahan sosial melalui perspektif Islam, dengan memperhatikan hubungan antara nilai-nilai yang diyakini dan kenyataan yang dihadapi masyarakat.
Keempat tema tersebut menawarkan sudut pandang berbeda untuk membaca realitas. Informasi media, dinamika geopolitik, pengalaman lapangan, dan pemikiran Islam diharapkan dapat memperluas wawasan peserta sekaligus mendorong kebiasaan memeriksa informasi sebelum menerima suatu kesimpulan.
Bagi HMP DPP ABI, kajian tidak berhenti pada pembahasan di ruang diskusi. Pemahaman yang diperoleh perlu dijelaskan dan dipertemukan dengan pengalaman masyarakat. Karena itu, dialog menjadi bagian penting dalam kerangka forum ini.
Pengalaman, pertanyaan, dan kritik masyarakat dapat membantu menguji relevansi suatu gagasan. Melalui dialog, hal-hal yang luput dari pembahasan dapat ditemukan, argumentasi dapat diperbaiki, dan kesimpulan yang belum cukup kuat dapat ditinjau kembali. Menjelaskan persoalan perlu disertai kesediaan untuk mendengarkan.
Baca juga: Dari Surat hingga Arsip, ABI Jawa Barat Benahi Kerja Kesekretariatan
Proses tersebut menjadi landasan untuk merumuskan respons yang lebih terarah. Respons tidak selalu berbentuk keputusan organisasi atau tindakan langsung. Pendalaman kajian, penyusunan gagasan, dan rekomendasi untuk pembahasan berikutnya juga dapat menjadi bagian dari upaya memahami persoalan secara bertanggung jawab.
HMP DPP ABI belum menempatkan pembentukan lembaga atau pusat kajian sebagai sasaran langsung forum ini. Langkah awal yang hendak dirintis adalah kebiasaan berpikir dan mengkaji di kalangan kader. Gagasan mengenai kelompok kajian, jaringan pengamat, dan bentuk kerja bersama lainnya masih terbuka untuk dijajaki.
Upaya ini membutuhkan kesinambungan. Membaca, memeriksa sumber, berdiskusi, menyusun argumentasi, dan menguji gagasan perlu menjadi kebiasaan kader, bukan hanya dilakukan ketika sebuah forum berlangsung. Dari proses yang terus dipelihara, diharapkan tumbuh tradisi kajian yang membantu kader memahami persoalan secara lebih jernih dan menyampaikan pandangan secara bertanggung jawab.
Melalui diskusi ini, HMP DPP ABI mengajak kader ABI dan masyarakat yang memiliki perhatian terhadap persoalan strategis untuk memperluas wawasan, bertukar pandangan, dan mendalami cara membaca realitas di tengah arus informasi serta perubahan geopolitik. Forum ini diharapkan menjadi langkah awal untuk menumbuhkan tradisi intelektual yang berkelanjutan di kalangan kader ABI. []

Departemen Humas, Media, dan Penerangan (HMP) DPP Ahlulbait Indonesia menggelar diskusi “Jihad Tabyin dan Rintisan Tradisi Intelektual Kader ABI” untuk mendorong kebiasaan mengkaji, bertukar perspektif, dan memahami persoalan strategis secara lebih mendalam.
Baca juga: Membaca Gagasan Ketua Umum ABI Tentang Pekan Persatuan Umat dalam Semangat Maulid Nabi







