Kegiatan ABI
HPI Iran: Membaca Iran Harus Berangkat dari Realitas Lapangan

Jakarta, 15 Oktober 2026 — Berita tentang suatu negara tidak selalu menggambarkan keadaan masyarakatnya secara utuh. Informasi yang disampaikan dengan cepat, tetapi minim pemeriksaan dan konteks, dapat membentuk persepsi yang berbeda dari kenyataan. Membaca situasi sebuah negara karena itu membutuhkan beragam sumber, pengamatan langsung, dan pengujian informasi secara cermat.
Persoalan tersebut menjadi pokok pemaparan Sayyid Mahdi Alattas, perwakilan Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) Iran, dalam diskusi “Jihad Tabyin dan Rintisan Tradisi Intelektual Kader ABI”, Minggu (11/10/2026). Membawakan tema “Perspektif Lapangan: Membaca Iran dari Pengalaman dan Perubahan yang Berlangsung”, Mahdi menguraikan dinamika Iran sekaligus pentingnya pengalaman langsung untuk menguji informasi dan memahami persoalan secara lebih utuh.
Baca juga: Media ABI: Jihad Tabyin Menuntut Tradisi Intelektual Berkelanjutan
Diskusi yang diselenggarakan Departemen Humas, Media, dan Penerangan (HMP) Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia (DPP ABI) melalui Zoom Meeting itu mengangkat pengalaman membaca perubahan di Iran serta kaitannya dengan kerja media dan pelaksanaan Jihad Tabyin.
Kemandirian di Tengah Tekanan
Mahdi mengawali pemaparannya dengan menelusuri pengalaman sejarah Iran, terutama perang delapan tahun melawan Irak. Menurutnya, pengalaman tersebut membentuk kesadaran bahwa pertahanan nasional tidak dapat sepenuhnya bergantung pada negara lain. Iran kemudian berupaya mengembangkan kemampuan pertahanan, industri dalam negeri, dan berbagai layanan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pihak luar.
Ia mencontohkan sejumlah platform digital lokal, seperti Aita, Bale, dan Rubika untuk komunikasi; Aparat untuk berbagi video; Digikala untuk perdagangan elektronik; serta Snapp dan Tapsi untuk transportasi daring.
Keberadaan layanan tersebut, dalam pandangan perwakilan HPI Iran itu, memperlihatkan upaya menjaga aktivitas masyarakat di tengah sanksi dan pembatasan internasional. Ketika akses terhadap layanan luar negeri terganggu, platform lokal dapat menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan komunikasi dan kegiatan sehari-hari.
Kemandirian nasional, menurut pemaparan tersebut, tidak hanya berkaitan dengan kemampuan militer. Keberlangsungan layanan, distribusi kebutuhan, dan aktivitas ekonomi masyarakat juga menentukan kemampuan sebuah negara menghadapi tekanan dari luar.
Ketahanan Masyarakat di Tengah Tekanan Ekonomi
Selain kemampuan pertahanan dan teknologi, Mahdi menyoroti daya adaptasi masyarakat sebagai unsur penting dalam memahami ketahanan Iran.
Berdasarkan pengalaman tinggal di Iran, ia menggambarkan masyarakat yang telah lama menghadapi ketidakpastian ekonomi, perubahan harga kebutuhan pokok, dan tekanan akibat sanksi. Perubahan harga dapat berlangsung tajam dalam waktu singkat, sementara aktivitas sehari-hari tetap berjalan meskipun keluhan mengenai kondisi ekonomi terus muncul.
Mahdi juga menilai tekanan dari luar dapat memperkuat solidaritas sebagian masyarakat Iran. Perbedaan suku, generasi, budaya, dan pandangan politik, menurut pengamatannya, tidak otomatis menghilangkan rasa kebersamaan ketika negara menghadapi ancaman.
Baca juga: Ketum ABI Ingatkan: Ketangguhan Sejati Teruji saat Mengendalikan Hawa Nafsu
Pandangan tersebut menjadi bagian dari analisisnya mengenai ketahanan Iran selama konflik. Meski demikian, pengalaman yang diamati di lapangan perlu dibandingkan dengan data ekonomi, kondisi sosial, dan pandangan berbagai kelompok masyarakat agar menghasilkan gambaran yang lebih menyeluruh.
Selat Hormuz dalam Perhitungan Strategis
Dalam membahas perubahan strategi pertahanan Iran, narasumber menyoroti posisi Selat Hormuz sebagai jalur penting perdagangan energi dunia. Menurutnya, letak geografis tersebut memberi Iran faktor strategis yang dapat memengaruhi perhitungan negara-negara lain.
Mahdi menilai posisi Selat Hormuz memperluas instrumen Iran dalam menghadapi tekanan internasional. Ketergantungan perdagangan energi pada jalur tersebut membuat perkembangan di kawasan Teluk memiliki konsekuensi yang melampaui wilayah negara-negara yang terlibat langsung.
Ia juga menyinggung pembatasan penerbangan dan tekanan terhadap konektivitas Iran. Dalam penjelasannya, efektivitas sanksi turut dipengaruhi oleh respons negara lain serta tersedianya jalur alternatif untuk mempertahankan hubungan ekonomi dan transportasi.
Pembahasan ini menunjukkan bahwa persaingan geopolitik tidak hanya berlangsung melalui persenjataan. Letak geografis, jaringan perdagangan, akses transportasi, dan ketergantungan ekonomi turut memengaruhi posisi tawar suatu negara.
Pemberitaan Berbeda dari Pengalaman Lapangan
Perbedaan antara sebagian pemberitaan tentang Iran dan keadaan yang diamati langsung menjadi salah satu perhatian utama dalam pemaparan Sayyid Mahdi.
Ia menceritakan pengalamannya bertemu dengan sejumlah wartawan media nasional yang berkunjung ke Iran. Dalam pertemuan itu, menurut penuturannya, kecepatan publikasi menjadi salah satu pertimbangan penting dalam kerja media daring. Banyak informasi mengenai Iran, lanjutnya, beredar melalui penerjemahan berita dari media atau kanal lain.
Baca juga: Sekjen DPP ABI Ingatkan Bahaya Respons Reaktif di Tengah Banjir Informasi
Penerjemahan berita dapat mempercepat penyebaran informasi. Namun, tanpa pemeriksaan sumber dan konteks, proses tersebut berisiko membawa kekeliruan atau menyederhanakan persoalan yang sesungguhnya lebih kompleks.
Mahdi mencontohkan pemberitaan yang menggambarkan Iran sebagai negara yang mengalami kelumpuhan, dengan masyarakat diliputi ketakutan dan kegiatan sehari-hari terhenti. Gambaran itu, menurut pengalamannya, tidak sepenuhnya sesuai dengan keadaan yang ditemukan di lapangan.
Melalui HPI Iran, konten mengenai kehidupan sehari-hari selama perang dibuat untuk memperlihatkan situasi yang menurut pengamatan mereka belum banyak tergambarkan dalam sebagian pemberitaan. Dokumentasi tersebut menjadi bahan pembanding terhadap informasi yang beredar di ruang publik.
Namun, pengalaman langsung juga memiliki keterbatasan. Pengamatan seseorang terikat pada tempat, waktu, dan situasi tertentu. Kondisi yang terlihat di satu wilayah belum tentu mewakili seluruh keadaan sebuah negara.
Karena itu, pengalaman lapangan perlu diperiksa dan dibandingkan dengan sumber lain. Pengalaman dapat membuka sisi realitas yang luput dari pemberitaan, tetapi kesimpulan yang lebih luas tetap membutuhkan bukti pendukung.
Jihad Tabyin dan Tanggung Jawab Menguji Informasi
Sayyid Mahdi menghubungkan pengalaman lapangan dengan dua fungsi dalam pelaksanaan Jihad Tabyin. Pertama, pengalaman dapat digunakan untuk memeriksa informasi yang beredar. Kedua, pengalaman dapat menjadi bahan awal untuk menyusun berita atau konten yang kemudian diuji melalui data dan analisis konteks.
Sebagai contoh, ia menguraikan upaya HPI Iran merespons pemberitaan yang menggambarkan Iran sebagai negara gagal dan masyarakatnya kehilangan kepercayaan terhadap negaranya. Konten mengenai kehidupan sehari-hari digunakan untuk menghadirkan gambaran lapangan sebagai pembanding terhadap narasi tersebut.
Pendekatan ini mengandung pelajaran penting bagi kerja komunikasi: membantah sebuah berita tidak cukup dengan menerbitkan informasi yang berlawanan. Informasi tandingan juga harus diperiksa, ditempatkan dalam konteks yang tepat, dan didukung bukti yang dapat ditelusuri.
Baca juga: Litbang DPP ABI Dalami Kehidupan Beragama Komunitas Ahlul Bait di Kalimantan Timur
Jihad Tabyin menuntut kecermatan dalam membedakan fakta, tafsir, dan klaim yang masih membutuhkan pembuktian. Sumber perlu diperiksa, konteks harus dipahami, dan kesimpulan harus terbuka untuk diuji kembali ketika ditemukan bukti baru.
Dengan cara itu, pengalaman lapangan tidak menggantikan proses verifikasi, tetapi memperkaya bahan untuk memahami persoalan. Ketika pengamatan dibandingkan dengan data dan sumber lain, informasi memiliki dasar yang lebih kuat untuk dikembangkan menjadi pengetahuan.
Merintis Tradisi Intelektual Kader ABI
Diskusi tersebut juga menghadirkan Muhlisin Turkan dari Media ABI dengan tema “Membaca Realitas di Tengah Arus Informasi dan Pertarungan Narasi”; Sayyid Mahdi Yahya dari POROS PERLAWANAN yang membahas “Membaca Realitas Geopolitik: Perubahan Kekuatan dan Pertarungan Kepentingan”; serta Hasan Zakaria dari Muslim Menjawab dengan tema “Memahami Persoalan Masyarakat dalam Perspektif Islam”.
Sekretaris Jenderal DPP ABI, Sayyid Ali Ridho Assegaf, bertindak sebagai keynote speaker. Diskusi dipandu Luthfi Awaludin Bashori dari Media ABI.
Melalui forum ini, HMP DPP ABI merintis ruang pertukaran pengalaman dan gagasan untuk memperkuat kemampuan kader dalam membaca realitas, memahami persoalan, mendialogkan gagasan, dan merumuskan respons. Kader tidak cukup hanya menerima dan menyebarkan informasi, tetapi juga perlu menelaah sumber, memahami konteks, serta memeriksa dasar dari setiap kesimpulan.
Pemaparan Sayyid Mahdi menegaskan pentingnya mempertemukan pengalaman lapangan dengan ketelitian analisis. Pengalaman membantu membuka pemahaman terhadap realitas, sedangkan pengujian informasi menjaga agar pemahaman tersebut tidak berhenti pada kesan pribadi. Keduanya menjadi landasan bagi tradisi intelektual yang kritis dan bertanggung jawab. []
Baca juga: DPW ABI Jabar Dorong Kerja Organisasi yang Berdampak Nyata







