Kegiatan ABI
Litbang DPP ABI Dalami Kehidupan Beragama Komunitas Ahlul Bait di Kalimantan Timur

Tenggarong, 14 Oktober 2026 — Memahami kehidupan komunitas tidak cukup dengan menghimpun angka. Di balik data survei, terdapat pengalaman sosial, tantangan pendidikan, dinamika kaderisasi, serta persoalan keberlanjutan yang membutuhkan penjelasan lebih mendalam. Berangkat dari kebutuhan itu, Departemen Penelitian dan Pengembangan (Litbang) DPP Ahlulbait Indonesia (ABI) bersama DPW ABI Kalimantan Timur menggelar Focus Group Discussion (FGD) untuk mendalami hasil Survei Data Dasar Kehidupan Beragama Komunitas Ahlul Bait di Indonesia Tahun 2026.
Bertempat di Yayasan Abu Dzar Al-Ghifari, Tenggarong, Minggu (11/10), forum yang berlangsung pukul 15.00–18.00 WITA itu mempertemukan 35 peserta dari unsur DPW dan DPD ABI se-Kalimantan Timur, Muslimah ABI tingkat wilayah dan cabang, serta tokoh-tokoh komunitas Ahlul Bait setempat.
Baca juga: Sekjen DPP ABI Ingatkan Bahaya Respons Reaktif di Tengah Banjir Informasi
Diskusi ini menjadi ruang untuk membaca temuan survei melalui pengalaman langsung anggota komunitas. Angka-angka yang telah dihimpun ditelaah lebih jauh guna memahami kondisi di balik data, mengenali persoalan yang dihadapi di berbagai wilayah, sekaligus menemukan potensi yang dapat dikembangkan.

Ketua Umum DPW ABI Kalimantan Timur, Sayyid Thariq Assegaff, menekankan pentingnya penelitian sebagai sarana bagi organisasi untuk mengenali kondisi komunitas secara objektif.
“Melalui riset, kita dapat menemukan dan mengetahui wajah komunitas kita secara lebih objektif. Dari situ, kita bisa mengenali berbagai permasalahan yang ada sekaligus merumuskan solusi yang sesuai dengan kondisi nyata di lapangan,” ujarnya.
Menurut Thariq, pemahaman yang bertumpu pada kondisi nyata diperlukan agar program organisasi tidak disusun berdasarkan asumsi semata. Hasil penelitian perlu diterjemahkan menjadi langkah konkret yang menjawab kebutuhan komunitas.
Pandangan serupa disampaikan Ketua Departemen Litbang DPP ABI, Dr. Sabara Nuruddin. Ia menilai Kalimantan Timur memiliki modal organisasi yang penting, ditandai dengan tingkat keaktifan ABI di provinsi tersebut. Modal ini perlu diperkuat melalui pendataan dan pemahaman yang lebih mendalam mengenai kehidupan komunitas.
Sabara menjelaskan, pendalaman kualitatif diperlukan untuk melengkapi temuan kuantitatif. Survei memberikan gambaran mengenai kondisi komunitas, sedangkan diskusi memungkinkan peneliti memahami alasan, pengalaman, dan konteks sosial yang menjelaskan temuan tersebut.
Baca juga: DPW ABI Jabar Dorong Kerja Organisasi yang Berdampak Nyata
Kalimantan Timur Masuk Lima Besar Partisipasi Survei Nasional
Dalam survei nasional tahun 2026, Kalimantan Timur mencatat 242 responden, menempatkannya pada peringkat kelima berdasarkan jumlah partisipasi provinsi. Adapun Kota Balikpapan menyumbang 79 responden dan berada di peringkat keempat di antara kota dengan partisipasi tertinggi.
Angka tersebut memperlihatkan keterlibatan komunitas Kalimantan Timur dalam pendataan nasional. Namun, nilai pentingnya tidak berhenti pada jumlah responden. Data itu juga menjadi titik awal untuk memahami persebaran komunitas, kebutuhan anggota, dan kondisi yang beragam di setiap wilayah.
Ketua Departemen Organisasi dan Litbang DPW ABI Kalimantan Timur, Tamrin, mengatakan survei telah membuka gambaran yang lebih luas mengenai persebaran komunitas Ahlul Bait di provinsinya.
“Melalui survei yang dilakukan, kita menjadi tahu kondisi komunitas kita yang ternyata tersebar di seluruh Kalimantan Timur. Melalui FGD ini, kita ingin mendalami temuan-temuan tersebut agar bisa memahami persoalan yang dihadapi di masing-masing wilayah dan merumuskan langkah penguatan yang sesuai dengan kebutuhan komunitas,” kata Tamrin.
Persebaran tersebut menghadirkan kebutuhan untuk memahami kondisi komunitas secara lebih kontekstual. Persoalan yang dihadapi suatu wilayah belum tentu sama dengan wilayah lainnya. Karena itu, data nasional perlu dibaca bersama pengalaman lokal agar rekomendasi yang dihasilkan tidak bersifat seragam.

Baca juga: HMP DPP ABI Rintis Tradisi Intelektual Kader melalui Diskusi Jihad Tabyin
Menggali Tantangan, Menemukan Praktik Baik
Sejumlah isu menjadi perhatian dalam diskusi, mulai dari kehidupan sosial dan ekspresi identitas Ahlul Bait, stigma dan kesalahpahaman di ruang publik, hingga pendidikan, kaderisasi, dan keberlanjutan komunitas.
Peserta diajak menelaah pengalaman anggota dalam menjalani kehidupan sosial, memahami faktor yang memunculkan stigma, serta mengidentifikasi cara komunitas merespons situasi tersebut. Pembahasan juga mencakup proses pendidikan dan regenerasi generasi muda, penguatan kelembagaan, serta upaya mewariskan pengetahuan dan pengalaman kepada generasi berikutnya.
Di samping persoalan yang perlu diatasi, forum ini menggali praktik-praktik baik yang telah berkembang di Kalimantan Timur. Pengalaman tersebut berpotensi menjadi bahan pembelajaran bagi komunitas di daerah lain, dengan tetap mempertimbangkan perbedaan kondisi dan kebutuhan setempat.
Pendekatan ini menempatkan pengalaman anggota sebagai bagian penting dari proses penelitian. Pendalaman kualitatif bukan bertujuan menguji benar atau salahnya jawaban responden, melainkan menelusuri konteks di balik angka, memahami persoalan secara lebih utuh, serta mengidentifikasi sumber daya dan peluang pengembangan komunitas.
Hasil diskusi Kalimantan Timur akan dipadukan dengan temuan survei dan pendalaman kualitatif dari provinsi lain. Keseluruhan hasil tersebut menjadi bahan penyusunan laporan kualitatif dan naskah kebijakan (policy paper) yang memuat isu-isu strategis serta rekomendasi program bagi penguatan komunitas Ahlul Bait di Indonesia.
Melalui rangkaian penelitian ini, Litbang DPP ABI berupaya membangun landasan yang lebih kuat bagi pengembangan organisasi: mengenali kondisi komunitas berdasarkan data, memahami persoalannya melalui pengalaman nyata, lalu merumuskan respons yang sesuai dengan kebutuhan. Pada akhirnya, kualitas penelitian tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak data yang terkumpul, tetapi juga oleh sejauh mana temuan tersebut mampu membantu organisasi mengambil keputusan yang lebih tepat dan memperkuat keberlanjutan komunitas. []
Baca juga: Litbang DPP ABI Gali Kondisi Kehidupan Beragama Komunitas Ahlul Bait di Sulawesi Barat







