Kegiatan ABI
Meniti Jalan Taklif, Membangun Organisasi Muslimah ABI

Jakarta, 19 Juli 2026 – Dalam semangat pengabdian dan penantian akan kehadiran Imam Zaman, Pimpinan Nasional Muslimah Ahlulbait Indonesia (Pimnas Muslimah ABI) menggelar Rapat Pleno bertema “Meniti Jalan Taklif, Menggapai Ridho Allah”. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 18 Juli 2026, pukul 09.00–16.30 WIB, di Kantor Dana Mustadhafin, Jakarta, dan dipandu oleh Wakil Sekretaris Pimnas Muslimah ABI, Zainab Aidid, sebagai pembawa acara.
Pertemuan ini menjadi momentum refleksi mendalam mengenai peran krusial perempuan dalam menopang peradaban dan menjawab tantangan zaman yang kian kompleks.
Baca juga: Sambut Tahun Ajaran Baru, Muslimah ABI Balikpapan Bagikan Lebih dari 100 Paket Alat Tulis
Refleksi Penantian: Mengubah Amanah Menjadi Aksi
Ketua Pimpinan Nasional (Pimnas) Muslimah ABI, Ustazah Hayati Muhammad, menekankan bahwa penantian (intizhar) bukanlah tindakan pasif, melainkan amanah besar yang harus dijalankan dengan kesungguhan penuh, bukan setengah hati. Beliau menyoroti keteladanan perempuan di Iran, Hizbullah Lebanon, dan Palestina yang telah menunjukkan daya juang luar biasa di tengah berbagai tekanan.
“Mengapa perjuangan kita tidak seperti mereka?” tanyanya.
Pertanyaan tersebut menjadi panggilan bagi setiap kader Muslimah ABI untuk lebih berperan nyata di tengah masyarakat, menciptakan generasi yang tangguh, serta mengoptimalkan berbagai program pembinaan dan pelatihan yang telah disediakan organisasi.
Capaian Strategis dan Arahan Pimpinan
Dalam laporan capaian, Sekretaris Pimnas Muslimah ABI, Syarifah Maisarah, memaparkan progres program yang telah dijalankan. Rekapitulasi pencapaian bidang pada Semester I periode Januari–Juni 2026 adalah sebagai berikut: Bidang Perak 135%, Bidang Pendidikan 94%, Bidang Kaderisasi 117,5%, Bidang Organisasi 85%, Bidang Sosekbudhum 64%, Bidang Litbang 56%, dan Bidang Humas 81%. Dengan demikian, rata-rata persentase pencapaian seluruh bidang mencapai 90,36%.
Penguatan Organisasi yang Kompatibel dengan Zaman
Dalam sambutan dan arahannya, Ust. Ahmad Hidayat menegaskan pentingnya menunaikan taklif (kewajiban agama) agar setiap individu dapat berdiri tegak di hadapan Imam Zaman dan Allah Swt.
Beliau juga menyoroti pencapaian Muslimah ABI yang mencapai 90 persen, jauh melampaui capaian DPP ABI yang berada pada angka 68 persen.
“Muslimah ABI harus memiliki positioning yang tepat untuk berdiri tegar di hadapan komunitas lainnya,” ujar Ustadz Ahmad Hidayat.
Empat Pilar Penguatan Organisasi Menjawab Tantangan Zaman
Untuk menjadi organisasi yang kompatibel dengan perkembangan zaman, menjaga nilai, sekaligus tetap mampu bersinergi, Ust. Ahmad Hidayat merumuskan empat poin utama penguatan organisasi.
1. Niat dan Identitas
Niat harus lahir dari makrifat. Organisasi bukan hanya berkegiatan, melainkan terus bergerak menuju penyempurnaan dengan tujuan yang jelas. Muslimah ABI harus hadir sebagai solusi nyata, bukan slogan, serta merepresentasikan nilai-nilai Islam di tengah ekosistem masyarakat.
2. Menjaga dan Berorientasi pada Problem Zaman
Muslimah ABI harus mampu mengobati berbagai penyakit sosial, mulai dari krisis keluarga seperti perceraian, stunting, dan KDRT melalui penguatan lembaga konseling dan Diniyyah, hingga krisis identitas akibat arus feminisme yang keliru. Para kader juga diajak meneladani sosok Syahidah Khonum Zahra Haddad yang hidup sederhana, namun sangat khidmat dalam melayani umat.
3. Ketahanan Ekonomi
Belajar dari ketangguhan perempuan di Iran yang menjadi tulang punggung keluarga dan masyarakat, Muslimah ABI didorong untuk membangun kekuatan mental serta ketahanan ekonomi keluarga sebagaimana diajarkan Imam Husein a.s.
4. Krisis Teknologi dan Informasi
Perempuan memegang peranan krusial sebagai Muddarisah (pendidik di rumah tangga), Muslihah (agen perbaikan sosial), dan Muqtashidah (penggerak ekonomi dan peradaban yang mandiri).
Baca juga: Silaturahim dan Refleksi Kader Muslimah ABI Jawa Timur: Transformasi Kader dari Potensi Menuju Aksi
Menuju Masa Depan: Jantung Peradaban
Dalam arahannya, Ustadz Ahmad Hidayat juga menekankan pentingnya membangun struktur organisasi yang ringan, tetapi berdampak besar. Birokrasi yang berbelit harus dihindari, sementara penguatan media serta kolaborasi melalui nota kesepahaman (MoU) dengan berbagai pihak perlu terus ditingkatkan.
Pimpinan juga menggarisbawahi pentingnya setiap kader menjaga kekuatan ruhani melalui tadabbur serta memastikan sistem kaderisasi berjalan secara optimal.
Pada akhirnya, perempuan diharapkan mampu menjadi jantung peradaban: kuat dalam akidah, luas wawasan, tangguh secara ekonomi, serta senantiasa hadir sebagai problem solver di tengah masyarakat.
Penantian yang dijalani dengan tulus, ikhlas, dan penuh semangat diharapkan menjadi jembatan untuk meraih ridho Allah Swt., sekaligus mempersiapkan kehadiran Imam Zaman melalui kerja-kerja nyata yang berdampak sistemik.
Rapat pleno kemudian dilanjutkan dengan sesi pembahasan Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) periode Juli–Desember 2026. Dalam sesi tersebut, masing-masing bidang memaparkan program kerja strategisnya, meliputi Bidang Organisasi, Perak (Perempuan, Anak, dan Keluarga), Sosekbudhum (Sosial, Ekonomi, Budaya, dan Hukum), Pendidikan, Kaderisasi, Litbang, serta Humas.
Suasana rapat berlangsung dinamis dan hangat. Setelah menerima berbagai masukan dan arahan dari Ketua Pimnas, seluruh pengurus Pimnas Muslimah ABI menyatakan komitmen untuk menyinergikan program-program tersebut demi tercapainya target organisasi yang telah ditetapkan. []
Baca juga: Muslimah ABI Lumajang Bersama PMI Gelar Donor Darah, Pererat Kedekatan dengan Masyarakat

Pimnas Muslimah ABI menggelar Rapat Pleno bertema Meniti Jalan Taklif, Menggapai Ridho Allah di Jakarta.











