Kegiatan ABI
DPD ABI Kediri Hadiri FGD SETARA Institute Bahas Indeks Kota Toleran

Kediri, 15 Juli 2026 — Dewan Pimpinan Daerah Ahlulbait Indonesia (DPD ABI) Kediri mengambil bagian dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan SETARA Institute sebagai forum bersama organisasi keagamaan dan masyarakat sipil untuk mengevaluasi dampak Indeks Kota Toleran (IKT) serta merumuskan langkah-langkah penguatan kehidupan yang harmonis, inklusif, dan berkeadaban di Kota Kediri.

Partisipasi DPD ABI Kediri dalam FGD SETARA Institute menegaskan komitmen organisasi terhadap penguatan toleransi, dialog lintas agama, dan kebinekaan. (Dok. ABI)
Forum yang berlangsung di Grand Surya Hotel ini mempertemukan berbagai organisasi keagamaan dan unsur masyarakat sipil, di antaranya Ahlulbait Indonesia (ABI), Nahdlatul Ulama (NU), Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI), serta perwakilan umat Kristen, Katolik, Hindu, dan Konghucu. Diskusi difokuskan pada pemanfaatan hasil riset IKT sebagai instrumen penguatan tata kelola toleransi di tingkat daerah.
Baca juga: Kolaborasi ABI Samarinda Gelar PTD untuk Mencetak Kader Unggul dan Siap Berkarya
Empat Agenda Evaluasi Indeks Kota Toleran
Perwakilan SETARA Institute, Ikhsan Yosarie, menjelaskan bahwa FGD merupakan bagian dari evaluasi terhadap implementasi hasil riset Indeks Kota Toleran sekaligus upaya memperkaya produk pengetahuan yang dikembangkan lembaganya. Melalui forum ini, SETARA Institute berupaya:
- mengidentifikasi pemanfaatan hasil riset IKT sebagai referensi dalam penyusunan kebijakan, program, dan strategi pemerintah daerah;
- menilai dampak IKT terhadap penguatan ekosistem toleransi di Kota Kediri;
- mengkaji faktor-faktor yang mendukung maupun menghambat implementasi nilai-nilai toleransi setelah publikasi IKT; serta
- menghimpun masukan dari organisasi masyarakat sipil guna meningkatkan kualitas riset IKT pada masa mendatang.
Baca juga: ABI Kediri Dukung Upaya Pelestarian Budaya Lewat Festival Jaman Biyen
DPD ABI Kediri: Pendekatan Budaya Perlu Diperkuat
Ketua DPD ABI Kediri, Juwaini, mengapresiasi penyelenggaraan FGD tersebut. Menurutnya, forum dialog yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan merupakan langkah strategis untuk mengevaluasi sekaligus memperkuat praktik toleransi di tingkat daerah.
“Baik daerah itu mempunyai skor tinggi maupun rendah, forum ini penting untuk mengevaluasi dan memperbaiki ekosistem toleransi agar menjadi lebih baik. Ini adalah tanggung jawab kita semua sebagai warga negara yang berjati diri bangsa, berasaskan Pancasila, dan bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa,” ujar Juwaini.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, organisasi kemasyarakatan, lembaga, komunitas, tokoh agama, tokoh spiritual, dan budayawan dalam menindaklanjuti berbagai temuan Indeks Kota Toleran.
Menurutnya, Kediri memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang menjadi modal sosial penting dalam membangun kehidupan yang harmonis. Karena itu, pendekatan budaya perlu mendapat ruang yang lebih besar dalam penguatan toleransi.
“Ke depan, forum seperti ini perlu diperluas dengan melibatkan para budayawan dan tokoh-tokoh spiritual. Kediri adalah kota berbudaya. Perilaku dan pendekatan budaya merupakan cermin sekaligus cara yang paling efektif dalam mewujudkan kehidupan yang harmoni, inklusif, dan toleran,” pungkasnya.
Keikutsertaan DPD ABI Kediri dalam forum ini mencerminkan komitmen organisasi untuk terus berkontribusi dalam penguatan nilai-nilai kebangsaan, dialog lintas iman, dan kolaborasi antarelemen masyarakat sebagai fondasi terciptanya kehidupan yang damai, inklusif, dan berkeadaban. [HMP DPD ABI Kabupaten Kediri]
Baca juga: Kolaborasi ABI Samarinda Gelar PTD untuk Mencetak Kader Unggul dan Siap Berkarya







