Ikuti Kami Di Medsos

Tokoh

Syaikh Abbas Qummi, Ulama yang Merdeka

Published

on

Imam Khomeini qs dan Syaikh Abbas Qummi.
Syaikh Abbas Qummi dikenang sebagai ulama besar yang merdeka, sabar menghadapi cobaan, dan istiqamah menebarkan hidayah melalui akhlak dan ilmu. (Foto: Imam Khomeini qs dan Syaikh Abbas Qummi)

Oleh: Ustadz Muhammad Elyas
Ketua DPD ABI Bekasi, dan Pengajar Hauzah Ilmiah Shiddiqah Zahra Condet, Jakarta Timur

Ahlulbait Indonesia, 1 Juni 2026 — Imam Khomeini q.s, pada masa sebelum Revolusi Islam Iran selama beberapa tahun mengajar akhlak di Madrasah Mulla Shadiq, kemudian di Madrasah Faidhiyah, Qom. Dengan panduan kitab-kitab akhlak dan irfan, salah satunya yang beliau tulis hingga tuntas, Syarh Cehl Hadis (Syarah 40 Hadis) pada 4 Muharam 1358 H. Tema-temanya diambil dari riwayat-riwayat tentang akhlak yang beliau nukil, kemudian dibahas dengan muatan irfani. Pada hadis pertama dengan tema “Jehade Nafs” (Jihad Melawan Diri), beliau menyebutkan sanadnya yang bersambung melalui para guru besar fikih dan hadis hingga sampai kepada Tsiqatul Islam Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini q.s,. Adapun riwayat-riwayat dari Al-Kulaini yang terhimpun di dalam kitab hadis sahihnya, Al-Kafi, sanadnya beliau nukil hingga kepada para Imam suci Ahlulbait a.s,.

Baca juga: Pemimpin Baru Iran antara Spiritualitas dan Politik: Siapa Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei?

Naskah asli Syarah 40 Hadis tulisan tangan Imam hilang setelah rumah beliau di Qom digeruduk dan digeledah oleh tentara-tentara Savak. Namun, terdapat halaman-halaman coretan buku yang kebanyakan beliau tulis di kertas-kertas bekas atau di pinggir dan belakang surat-surat, yang tersimpan di perpustakaan umum Ayatullah Uzhma Golpaygani dalam jumlah banyak hingga hadis ke-29. Pasca Revolusi Islam, Imam mengingat-ingat sampai pada kemungkinan bahwa satu naskah lainnya terdapat di perpustakaan Ayatullah Mulla Ali Ma’sumi Hamadani.

Dengan demikian, naskah yang utuh akhirnya didapatkan. Ada pula naskah lain yang hanya memuat 13 hadis dan masih belum lengkap. Kitab ini kini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Sayyid Muhammad Gharawi pada tahun 1411 H, juga ke dalam bahasa Urdu dan Indonesia yang diterbitkan oleh Mizan, Jakarta, pada tahun 2004 M.

Menukil dari Syaikh Abbas Al-Qummi

Pada hadis pertama, Imam Khomeini mengatakan: “Hadis ini dikabarkan kepadaku dengan ijazah secara tulisan maupun lisan oleh sejumlah guru besar yang mulia, antara lain Syaikh Muhammad Ridha Al-Wafi dari keluarga Muhammad Taqi Al-Ishfahani saat beliau berada di kota Qom, dan Syaikh Abbas Al-Qummi, penulis kitab kumpulan doa Mafatih Al-Jinan. Kedua ulama ini menukil dari muhaddits (ahli hadis) Husein Al-Nuri…” dan seterusnya.

Pentahqiq menerangkan dalam catatan kaki kitab Imam ini tentang Syaikh Abbas Qummi (1294–1359 H), bahwa beliau:

  • Seorang ulama besar Syiah abad ke-14 H, salah satu di antara ulama besar yang riwayat-riwayat hadis mereka dinukil langsung oleh Imam Khomeini q.s, dengan ijazah mereka. Shahibul kitab Mafatihul Jinan ini berguru selama bertahun-tahun kepada Allamah Mirza Husain Nuri rahimahullah.
  • Seorang pentahqiq yang memiliki banyak karya, seperti Safinatul Bihar yang beliau tulis pada usia 27 tahun, Mafatihul Jinan, Muntahal Amal, dan lainnya.

Baca juga: Mengenal Sosok Syaikh Thusi, Astronom Penyelamat Khazanah Islam

Satu Kisah dari Imam Khomeini

Sebuah kisah pada masa sebelum Revolusi Islam Iran dinukil langsung oleh Ayatullah Syaikh Alipanah Eshtehardi dari Imam Khomeini q.s, dalam kelas akhlaknya di Madrasah Faidhiyah, Qom:

“Saat itu matahari menganga di atas mobil yang kami tumpangi. Teriknya menyengat sampai ke ubun-ubun. Gurun yang membara dan tak bertepi mengaburkan pandangan kami. Mata menatap jauh, tetapi tak sesuatu pun terlihat. Tiba-tiba mobil dari Masyhad jurusan Tehran ini mogok. Sopir yang jangkung dan berkulit gelap buru-buru turun. Setelah memeriksa mobilnya, dia kembali ke dalam mobil dan marah-marah. ‘Ban bocor!!’ ujarnya. Kemudian menoleh kepada kami, para penumpang yang duduk di tengah. Melihatku seorang sayyid, dia tidak berkata apa-apa kepadaku, tetapi berpaling kepada Syaikh Abbas Qummi dan berkata: ‘Andai tadi saya tahu Anda, tidak akan saya perkenankan Anda naik! Gara-gara kesialan dari Anda, mobil jadi mogok dan membuang waktu di tengah gurun tandus ini. Sekarang turunlah! Anda tidak boleh naik lagi mobil ini!’”

Bukan salah si sopir. Rezim pada masa itu adalah thaghut dengan propaganda anti-Islam dan antiulama, sehingga banyak rakyat memandang rupa agamawan sebagai pembawa sial. Jika terjadi sesuatu dalam urusan mereka dan ada ulama di situ, maka dia yang disalahkan.

Almarhum Syaikh Abbas, tanpa protes sepatah kata pun, bangun mengambil barangnya dan turun dari mobil. Aku pun bangkit turun bersamanya, namun dicegahnya. Aku bersikeras untuk turun karena tak ingin membiarkan beliau sendirian. Akan tetapi, beliau menolakku untuk ikut bersamanya. Aku terus memaksa, tetapi beliau tetap melarangku, sampai beliau berkata, “Aku tidak rela kamu tetap tinggal denganku!” Sampai akhirnya aku merasa beliau semakin tidak berkenan bila aku ikut bersamanya. Maka aku mengucapkan, “Sampai jumpa!” kepada beliau, lalu kembali naik ke mobil.

Baca juga: Sayyid Murtadha: Ulama Idola Sepanjang Masa

Sopir Truk Bersyahadat

Setelah sekian lama, ketika bertemu beliau, aku bertanya tentang kejadian hari itu. Beliau bercerita: “Setelah kau pergi, lama sekali aku menunggu mobil. Setiap kali ada mobil melintas, aku mengangkat tangan, tetapi tidak dihiraukan. Hingga muncul sebuah truk bermuatan batu bata dan berhenti untukku. Saat aku sudah naik, sopirnya sangat baik hati dan ramah. Aku diterima dengan sangat baik olehnya. Kami cepat sekali saling mengenal dan cair dalam berbincang-bincang.

Dia seorang Armenia. Tujuannya ke Hamadan. Aku pun mengubah tujuanku menjadi ke Hamadan, karena sudah lama aku mencari satu makalah yang tidak aku temukan, selain yang aku ketahui ada di Perpustakaan Almarhum Akhund Hamadani. Di sana aku bisa menemukannya. Karena itu, aku juga ingin pergi ke sana.

Orang Armenia ini baik dan merupakan warga daerah setempat, sehingga menjadi peluang bagiku untuk menyampaikan hadis-hadis yang aku hafal tentang hukum Islam, kebenaran, Tasyayu’, dan lainnya. Melihat dia antusias dan menyukainya, aku menjelaskan banyak hal kepadanya. Aku berusaha agar permasalahan dan hadis-hadis yang aku sampaikan dapat menggugah dirinya menjadi lebih hidup.

Hingga ketika sudah dekat Hamadan, aku melihat dia menangis bercucuran air mata. Dalam keadaannya yang demikian, aku diam seribu bahasa. Kami terus membisu sampai beberapa saat kemudian, setelah lama terdiam, dia sambil menangis berkata: ‘Apa yang telah Anda sampaikan dan yang saya pahami dari penjelasan Anda, Islam adalah agama yang benar dan kekal. Selama ini aku keliru! Aku bersaksi masuk Islam sekarang, dan bila aku pulang ke rumah akan aku ubah semua keluarga dan kerabatku yang mengikuti aku menjadi muslimin.’

Kemudian dia mengucapkan: ‘Asyhadu an la ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah…’”

Baca juga: Biografi Singkat Allamah al-Hilli

Hikmah dari Cobaan

Hikmah yang dapat diangkat dari kisah tersebut, di antaranya, jika diurai, adalah bahwa ketika ban mobil bocor dan sopir menurunkan beliau, kemudian datang truk menuju tempat yang beliau inginkan. Lebih penting dari itu, Allah memberikan pahala bagi beliau sejak saat itu hingga kemudian hari melalui anak keturunan orang tersebut yang lahir ke dunia sebagai muslim. Semua itu menjadi pahala dan kebaikan bagi Almarhum Syaikh Abbas Qummi.

Jiwa ulama besar yang saleh ini begitu patuh terhadap ketentuan Allah sehingga segenap wujudnya dipersembahkan di jalan-Nya. Di bawah inayah-Nya, jika kita mungkin pada saat itu dengan pandangan dangkal menjadi emosi dan ribut dengan sopir sambil berkata, “Apa salah kami!”, kita tidak akan rela diturunkan. Kita akan lengah bahwa kehendak Allah melalui diri kita adalah mengajak seseorang masuk Islam, agar Allah memberikan pahala yang besar atas kesabaran karena Dia dan agama-Nya.

Baca juga: Sayyid Ali Khamenei

Dalam kondisi ketika masyarakat berpandangan negatif terhadap ulama, Syaikh menanggung semua cobaan di jalan Allah dan agama-Nya. [Ali Muhammad Abdullah, Nihayatul Khair fil ‘Alam, juz 2]

Sebagai penutup, dari kisah beliau yang penuh hikmah ini, penulis ingin berbagi beberapa poin berikut:

Pertama, mushabarah atau kesabaran ulama seperti Syaikh Abbas Qummi yang konsisten menghadapi orang-orang yang tidak mengenali dan menghargai dirinya. Kendati seorang faqih dan ahli hadis, beliau tidak merasa lebih baik daripada yang lain.

Kedua, tanpa menuntut apa pun atas hak pribadi, beliau adalah mishdaq (contoh) dari QS Al-Furqan ayat 63, bahwa daripada terus melayani orang dungu berbicara, lebih baik mengucapkan “selamat tinggal” kepadanya.

Ketiga, walaupun dengan risiko ditinggal seorang diri di tengah gurun panas yang tak bertepi, beliau tidak ingin menyusahkan kawan safarnya dan siap menanggung sendiri kesulitan yang dihadapi. Dengan demikian, beliau adalah ulama yang merdeka, tidak bergantung kepada selain Allah.

Keempat, ulama pewaris seperti beliau adalah contoh dari ucapan Imam Ja’far Shadiq as: “Ja’far as telah mendidik Syiahnya dengan sebaik-baik didikan bagi mereka.”[]

Baca juga: Mengenal Cendekiawan Syiah Kontemporer, Ayatullah Jawadi Amuli