Internasional
Trump Kembali Membungkus Ancaman dengan Diplomasi

Ahlulbait Indonesia, 28 Juli 2026 – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memadukan retorika diplomasi dengan ancaman militer terhadap Iran. Saat mengklaim Washington tengah menjalankan perundingan serius dengan Teheran, ia pada saat yang sama menegaskan siap kembali melancarkan operasi militer apabila pembicaraan tersebut gagal mencapai kesepakatan.
Baca juga: CENTCOM Buntu di Iran Selatan, Desak Operasi Dihentikan
Dalam wawancara dengan Channel 12 Israel pada Senin (27/7), Trump mengatakan Amerika Serikat sedang melakukan negosiasi yang serius dengan Iran.
“Kami sedang melakukan negosiasi yang serius dengan Iran. Jika negosiasi itu gagal, kami akan kembali melakukan operasi militer berskala besar,” ujarnya.
Trump juga berupaya membenarkan serangan militer Amerika sebelumnya terhadap Iran, meski serangan tersebut dilakukan ketika perundingan tidak langsung antara Teheran dan Washington masih berlangsung. Menurutnya, keputusan menghentikan operasi militer diambil setelah negara-negara mediator meminta agar diplomasi diberi kesempatan.
“Saya tidak akan membiarkan negosiasi berlangsung terlalu lama. Waktu untuk mencapai kesepakatan sangat singkat. Saya memutuskan menghentikan serangan terhadap Iran karena negara-negara mediator meminta kesempatan bagi perundingan. Mereka meminta saya untuk tidak melakukan operasi militer, dan saya yakin Iran ingin mencapai kesepakatan. Namun jika negosiasi gagal, saya siap mengambil tindakan militer yang lebih kuat,” katanya.
Baca juga: Militer Iran Siaga Penuh: Musuh Akan Dikubur di Luar Perbatasan
Pernyataan Trump kembali mengingatkan pada pola kebijakan Washington terhadap Iran. Dua serangan militer Amerika sebelumnya justru terjadi ketika perundingan tidak langsung masih berlangsung. Bagi Teheran, fakta tersebut memperkuat pandangan bahwa Washington menjalankan diplomasi dan tekanan militer secara bersamaan, sehingga klaim komitmennya terhadap proses negosiasi dinilai tidak sejalan dengan tindakan di lapangan.
Pola itu bukan kali pertama muncul. Setiap kali isu Iran kembali mengemuka, perundingan diumumkan, ultimatum segera menyusul. Ancaman militer dilontarkan, lalu diplomasi kembali ditawarkan. Siklus tersebut terus berulang hingga batas antara dialog dan tekanan militer semakin kabur. Yang berganti hanya waktu, tempat, dan redaksi pernyataannya; polanya tetap sama. []
Baca juga: The Atlantic: Trump Kehabisan Waktu Membuka Selat Hormuz







