Internasional
The Economist: Invasi Darat AS ke Iran Bukan Opsi yang Realistis

Ahlulbait Indonesia, 28 Juli 2026 – Majalah Inggris The Economist menilai invasi darat bukanlah pilihan yang realistis bagi Amerika Serikat dalam menghadapi Iran. Penilaian itu tercermin dalam dua analisis terbarunya, The war in Iran isn’t over. What might happen next (22 Juli 2026) dan What are Donald Trump’s options in Iran? (26 Juli 2026), yang membahas berbagai opsi Washington setelah meningkatnya ketegangan dengan Teheran.
Baca juga: NBC News: Drone dan Rudal Iran Tembus Pertahanan Udara Amerika
Mengutip Fars News, Senin (27/7/2026), yang merujuk pada analisis The Economist, Washington pada dasarnya memiliki tiga pilihan jika konflik kembali meningkat. Ketiga opsi tersebut adalah memperluas serangan terhadap infrastruktur vital Iran, menyerang fasilitas nuklir, atau melancarkan operasi darat.
Di antara ketiga pilihan itu, operasi darat dipandang sebagai skenario yang paling sulit diwujudkan. Selain membutuhkan sumber daya militer yang sangat besar, langkah tersebut juga berisiko menimbulkan kerugian besar bagi pasukan Amerika Serikat.
The Economist menilai pengerahan pasukan ke wilayah Iran akan menghadapkan militer AS pada tantangan operasional yang kompleks. Risiko yang harus ditanggung dinilai jauh lebih besar daripada keuntungan strategis yang mungkin diperoleh.
Baca juga: Fasilitas Minyak Terpenting Arab Saudi Dilanda Kebakaran Besar
Salah satu skenario yang disoroti adalah kemungkinan upaya merebut Pulau Khark. Menurut analisis tersebut, operasi semacam itu dapat menempatkan pasukan Amerika pada posisi yang sangat rentan terhadap serangan balasan Iran. Risiko serupa juga diperkirakan akan muncul apabila Washington memilih operasi darat terhadap fasilitas nuklir Iran.
Analisis itu disampaikan setelah intensitas baku tembak antara Amerika Serikat dan Iran mereda dalam beberapa hari terakhir. Dalam situasi tersebut, The Economist menilai setiap opsi yang tersedia bagi Washington memiliki konsekuensi strategis masing-masing, tetapi operasi darat tetap menjadi pilihan dengan tingkat risiko paling tinggi.
Sebelumnya, kantor berita Rusia RIA Novosti, mengutip seorang pejabat militer Iran, melaporkan bahwa Republik Islam Iran telah menyiapkan diri menghadapi kemungkinan operasi darat Amerika Serikat apabila skenario tersebut benar-benar terjadi. []
Baca juga: Korban Tentara AS dalam Konflik Iran Tembus 624 Orang







