Internasional
National Interest: Hanya Mengandalkan Keunggulan Militer, AS Tak Akan Mampu Membuka Selat Hormuz

Ahlulbait Indonesia, 9 Juli 2026 – Meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali menempatkan Selat Hormuz sebagai salah satu titik paling strategis sekaligus paling rentan dalam sistem perdagangan energi global. Dalam analisis berjudul The Three Futures of the Strait of Hormuz yang ditulis Wasay Mir dan diterbitkan pada 17 Juli 2026, The National Interest mengulas tiga kemungkinan perkembangan yang dapat menentukan masa depan jalur pelayaran vital tersebut.
Menurut analisis itu, kondisi geografis memberikan Iran keunggulan strategis yang sulit diabaikan. Iran menguasai seluruh pesisir utara Selat Hormuz dan memperkuat posisinya melalui pangkalan militer di Bandar Abbas serta pulau-pulau strategis seperti Qeshm dan Larak. Dengan dukungan rudal pantai, kapal cepat, drone, dan kemampuan perang asimetris lainnya, Teheran mampu meningkatkan risiko pelayaran tanpa harus mengerahkan armada laut dalam jumlah besar.
Baca juga: Yaman Peringatkan Saudi Soal Risiko Serangan terhadap Infrastruktur Energi
Selat Hormuz merupakan satu-satunya jalur laut yang menghubungkan Teluk Persia dengan samudra terbuka. Sekitar 20 juta barel minyak per hari, selain gas alam dalam jumlah besar, melintasi selat ini. Sementara itu, jaringan pipa minyak di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab hanya mampu mengalihkan sebagian kecil volume tersebut. Karena itu, menurut The National Interest, menggantikan fungsi Selat Hormuz melalui jalur alternatif bukanlah pilihan yang realistis dalam kondisi saat ini.
Analisis tersebut kemudian menguraikan tiga skenario yang berpotensi menentukan masa depan Selat Hormuz.
Skenario pertama adalah penerapan pembatasan pelayaran secara selektif oleh Iran. Dalam situasi ini, Teheran dapat tetap mengizinkan kapal-kapal dari sejumlah negara, seperti China, Rusia, Turki, India, Pakistan, dan Irak, melintas, sementara akses bagi kapal-kapal dari negara-negara Barat dibatasi atau diperketat.
Skenario kedua adalah upaya Amerika Serikat dan sekutunya menjamin kebebasan navigasi melalui operasi militer. Namun, The National Interest menilai opsi tersebut menghadapi tantangan besar. Keunggulan geografis Iran, kemampuan perang asimetris, serta risiko eskalasi konflik membuat operasi militer tidak serta-merta mampu memulihkan situasi. Selain itu, penguasaan terhadap pangkalan militer maupun pelaksanaan operasi pengawalan kapal tidak otomatis berarti mampu mengendalikan Selat Hormuz secara efektif.
Baca juga: Iran Lumpuhkan Pangkalan Strategis AS di Kuwait dan Yordania, Sejumlah Pesawat Militer Hancur
Skenario ketiga adalah tercapainya penyelesaian politik yang membuka kembali jalur pelayaran sekaligus meredakan ketegangan di kawasan. Menurut analisis tersebut, kesepakatan yang mencakup pencabutan sebagian sanksi terhadap Iran sebagai imbalan atas komitmen terkait program nuklir, disertai jaminan kebebasan navigasi, dapat menjadi landasan bagi stabilitas yang lebih berkelanjutan. Pengalaman pada kesepakatan nuklir sebelumnya menunjukkan bahwa lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz sempat kembali berlangsung lebih normal ketika ketegangan mereda.
Sebagai penutup, The National Interest menyimpulkan bahwa Amerika Serikat perlu mengakui pendekatan yang semata-mata mengandalkan keunggulan militer belum mampu menyelesaikan konflik di Selat Hormuz. Karena itu, penyelesaian politik yang disertai kesepakatan mengenai keamanan pelayaran dan isu-isu yang menjadi sumber ketegangan dinilai sebagai satu-satunya jalan yang memiliki peluang untuk mengakhiri krisis secara berkelanjutan. []
Baca juga: Iran Perluas Serangan ke Pangkalan AS, Selat Hormuz Kian Menjadi Titik Krisis







