Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Rubio: Soal Iran, Sayangnya AS Tak Sejalan dengan Rusia

Published

on

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio berbicara mengenai Iran, Rusia, sanksi ekonomi, dan kebutuhan pertahanan dalam wawancara terbarunya.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio berbicara mengenai Iran, Rusia, sanksi ekonomi, dan kebutuhan pertahanan dalam wawancara terbarunya.

Media ABI, 3 September 2026 — Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mengakui Washington dan Moskow tidak sejalan dalam memandang situasi Iran saat ini. Pernyataan itu disampaikan di tengah upaya Amerika Serikat meningkatkan tekanan terhadap Teheran melalui sanksi dan mendesak negara-negara lain agar tidak membantu Iran menghindarinya.

Dalam wawancara dengan program Brian Kilmeade yang dikutip Fars News Agency pada Kamis, 3 September 2026, Rubio membahas sejumlah aspek serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran. Menyinggung hubungan Teheran dan Moskow, ia mengatakan perbedaan pandangan mengenai Iran menjadi salah satu hal yang memisahkan posisi Washington dan Rusia.

“Sayangnya, mengenai Iran, kami tidak sejalan dengan Rusia dalam pandangan kami terhadap situasi saat ini. Namun, Rusia dan Putin memiliki persoalan mereka sendiri yang menurut saya menyita sebagian besar waktu dan perhatian mereka,” kata Rubio.

Baca juga: Iran Publikasikan Rekaman Serangan ke Markas Armada Kelima AS di Bahrain

Dalam wawancara yang sama, Rubio memperingatkan negara-negara lain agar tidak membantu Iran menghindari sanksi Amerika Serikat. Washington, menurutnya, juga akan menjatuhkan sanksi terhadap negara yang mengambil langkah tersebut.

“Tidak ada negara yang boleh membantu Iran menghindari sanksi. Jika ada negara yang memutuskan untuk melakukannya, kami juga akan terpaksa menjatuhkan sanksi kepada mereka,” ujarnya.

Sejak melancarkan kampanye tekanan ekonomi terhadap Iran, Amerika Serikat berulang kali meminta negara-negara lain mengikuti langkah Washington. Namun, Fars melaporkan sejumlah mitra dagang Iran menolak tuntutan tersebut. Efektivitas kampanye baru ini pun dipertanyakan sejumlah pengamat.

Analis Brookings Institution, Suzanne Maloney, menyebut sanksi terbaru Amerika Serikat terhadap Iran lebih menyerupai pertunjukan politik. Menanggapi peluncuran kampanye ekonomi baru yang oleh Menteri Keuangan Scott Bessent disebut sebagai “hari D ekonomi”, Maloney mengatakan langkah tersebut, seperti yang telah diperkirakan sebelumnya, pada akhirnya hanya berupa “keributan dan propaganda”.

CNN, sebagaimana dikutip Fars, juga melaporkan pandangan sejumlah ahli yang meragukan kemampuan sanksi baru untuk membawa Amerika Serikat mencapai tujuannya. Mereka menyoroti pengalaman Iran menghadapi berbagai bentuk sanksi internasional selama hampir 47 tahun dan kemampuan negara itu bertahan di bawah tekanan ekonomi.

Baca juga: Mantan Menlu Jerman: Tak Ada Kekuatan yang Mampu Membuka Selat Hormuz

Klaim tentang Ekonomi Iran

Rubio juga mengulang sejumlah klaim mengenai kondisi ekonomi Iran. Ia menyebut ekonomi negara itu berada dalam keadaan “bencana” dan menuduh Teheran menggunakan seluruh dana yang diperolehnya untuk membiayai Hizbullah dan Hamas. Menurut Rubio, masyarakat Iran akan berada dalam kondisi yang lebih baik apabila pemerintah negara tersebut menggunakan setengah dari dananya untuk kepentingan rakyat.

Fars menyebut sejumlah pengamat memandang narasi seperti itu sebagai bagian dari upaya menciptakan perpecahan antara masyarakat dan pemerintah Iran, sekaligus menutupi dampak sanksi Amerika Serikat terhadap kehidupan ekonomi rakyat Iran. Rubio kemudian menambahkan tuduhan bahwa Iran menggunakan sumber daya keuangannya untuk membiayai kelompok-kelompok perlawanan dan pada akhirnya memperoleh senjata nuklir.

Persediaan Pertahanan Amerika Serikat

Rubio juga menyinggung berkurangnya persediaan rudal pertahanan udara di berbagai negara. Menurutnya, kebutuhan akan rudal pencegat kini menjadi salah satu kebutuhan pertahanan terbesar di dunia dan tidak hanya dirasakan oleh Ukraina.

“Seluruh dunia menginginkan lebih banyak rudal pencegat. Ini telah menjadi kebutuhan pertahanan terbesar di dunia, bukan hanya untuk Ukraina, tetapi di seluruh dunia. Negara-negara Timur Tengah menginginkannya,” kata Rubio.

Namun, ia menegaskan Amerika Serikat harus memastikan kebutuhan pertahanannya sendiri terpenuhi sebelum membantu negara lain. “Saya ingin mengingatkan masyarakat bahwa Amerika Serikat memiliki kebutuhan. Kami memiliki kebutuhan pertahanan sendiri dan kewajiban pertahanan sendiri. Sebelum dapat membantu orang lain, kami harus memastikan persediaan senjata kami selalu mencukupi,” ujarnya.

Sejumlah media Amerika Serikat sebelumnya melaporkan penurunan persediaan rudal dan sistem pertahanan udara Washington. Menurut Fars, laporan-laporan tersebut mengaitkan kondisi itu dengan terkurasnya stok persenjataan Amerika Serikat selama perang melawan Iran. Sejumlah perencana militer Amerika Serikat disebut kini mencemaskan berkurangnya daya tembak serta kemampuan negara tersebut menghadapi kemungkinan ancaman di masa mendatang. []

Baca juga: Citra Satelit Rekam Kerusakan Hanggar Jet Tempur Amerika di Yordania