Internasional
Senator AS Akui Iran Masih Mampu Guncang Timur Tengah Jika Perang Pecah

Ahlulbait Indonesia, 1 Agustus 2026 – Senator Partai Demokrat Amerika Serikat, Jeff Merkley, mengakui bahwa Iran masih memiliki kemampuan untuk mengguncang stabilitas kawasan Timur Tengah apabila konflik berskala besar pecah antara Washington dan Teheran.
Menurut laporan Fars News Agency, Sabtu, 1 Agustus 2026, Merkley menyampaikan kekhawatiran tersebut saat sidang pembahasan anggaran tambahan Departemen Perang Amerika Serikat. Ia menilai kemampuan Iran tidak dapat diremehkan meskipun sebelumnya muncul klaim bahwa kekuatan angkatan laut negara itu telah dihancurkan.
“Iran dapat menutup Selat Hormuz meskipun ada klaim bahwa angkatan lautnya telah dihancurkan. Iran juga memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan di seluruh kawasan Timur Tengah,” kata Merkley sebagaimana dikutip Fars News Agency.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dunia. Gangguan terhadap jalur tersebut dinilai berpotensi memengaruhi pasokan energi global dan meningkatkan ketegangan di kawasan.
Selain menyoroti kemampuan militer Iran, Merkley juga mengingatkan dampak politik yang dapat muncul jika perang benar-benar terjadi. Menurut dia, konflik justru akan memperkuat posisi kelompok garis keras di Iran, sementara kalangan reformis yang selama ini mendorong penyelesaian sengketa melalui jalur diplomasi akan kehilangan pengaruh.
“Dalam situasi perang, posisi kelompok garis keras akan semakin menguat, sedangkan kelompok reformis akan melemah,” ujarnya.
Merkley menjelaskan bahwa salah satu gagasan utama gerakan reformis di Iran adalah menyelesaikan perselisihan dengan Amerika Serikat melalui negosiasi dan upaya meredakan ketegangan.
Namun, ia menilai pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa konflik justru terjadi ketika proses diplomasi masih berlangsung. Menurut laporan Fars News Agency, dua perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran terjadi ketika pemerintahan reformis di Teheran tengah menjalankan negosiasi dengan Washington, bahkan setelah Iran disebut memberikan sejumlah konsesi terkait program nuklirnya.
Pernyataan Merkley tersebut mencerminkan kekhawatiran bahwa eskalasi militer tidak hanya berisiko memperluas konflik di Timur Tengah, tetapi juga dapat mengubah dinamika politik di Iran sekaligus mengurangi peluang penyelesaian sengketa melalui jalur diplomasi.

