Ikuti Kami Di Medsos

Editorial

Iran International dan Jejak Proyek Keamanan di Balik Jaringan Media

Published

on

Iran International, jaringan media berbahasa Persia yang berbasis di London, menjadi sorotan terkait struktur pendanaan, kepemilikan, dan posisi editorialnya dalam pertarungan geopolitik Iran.
Iran International, jaringan media berbahasa Persia yang berbasis di London, menjadi sorotan terkait struktur pendanaan, kepemilikan, dan posisi editorialnya dalam pertarungan geopolitik Iran.

Oleh: Redaksi Media ABI

Jakarta, 10 September 2026 – Pada 31 Agustus 2026, Iran International menerbitkan laporan mengenai rencana Unit 4000 Korps Garda Revolusi Islam Iran untuk menyerang kapal, jalur pelayaran, dan pelabuhan di Asia Timur. Laporan Mojtaba Pourmohsen menyebut Selat Malaka, Selat Bangka, Tanjung Priok, serta sejumlah pelabuhan di China sebagai lokasi yang disebut masuk dalam rencana tersebut.

Laporan itu juga menyebut sejumlah warga Indonesia dan tokoh keagamaan sebagai bagian dari jaringan perekrutan yang dikaitkan dengan operasi tersebut. Namun, sumber utama laporan bersifat anonim dan tidak disertai bukti independen yang dapat diperiksa publik untuk menguji keseluruhan informasi.

Baca juga: ANNAS dan Narasi yang Menguji Kebhinekaan

Laporan mengenai operasi lintas negara, perekrutan warga negara lain, dan rencana serangan terhadap jalur pelayaran internasional menuntut standar verifikasi yang tinggi. Sumber boleh dirahasiakan, tetapi bukti tidak semestinya ikut menghilang ke dalam kerahasiaan.

Jika informasi tersebut benar-benar berasal dari data intelijen, memiliki nilai operasional, dan dapat diverifikasi, publikasinya ke ruang terbuka justru menimbulkan pertanyaan. Semakin tinggi nilai strategis sebuah informasi, semakin penting pula kejelasan mengenai sumber, proses verifikasi, dan bagaimana informasi tersebut sampai ke media. Dunia intelijen menjaga rahasia, dunia media menjual berita. Ketika keduanya bertemu, pembaca berhak bertanya siapa yang paling diuntungkan dari terbukanya informasi tersebut.

Karena itu, persoalannya bukan semata apakah informasi tersebut menarik bagi publik. Persoalannya terletak pada nilai strategis informasi dan kredibilitas proses yang membuatnya sampai ke ruang publik. Jika sebuah laporan membawa klaim dengan bobot intelijen, standar pembuktiannya semestinya ikut membawa bobot yang sama.

Persoalannya kemudian tidak berhenti pada satu laporan. Mengapa Iran International begitu jauh memasuki wilayah pemberitaan keamanan, operasi rahasia, jaringan perekrutan, dan konflik geopolitik?

Untuk menjawabnya, perhatian perlu diarahkan pada apa yang diberitakan sekaligus struktur uang dan kepemilikan yang menopang jaringan tersebut.

Baca juga: Organisasi sebagai Suluk Sosial, Jalan Penghambaan Kolektif, dan Disiplin Ideologis

Uang dan Kepemilikan yang Sulit Diabaikan

Financial Times pada 28 Mei 2026 melaporkan bahwa Volant Media UK, perusahaan induk Iran International, memperoleh penghapusan utang sekitar £650 juta melalui pertukaran utang menjadi saham pada Desember 2025. Pada akhir 2024, Volant tercatat mengalami akumulasi kerugian lebih dari £410 juta dan memiliki utang sekitar £482 juta kepada entitas terkait.

Financial Times juga mencatat perpindahan saham awal Volant kepada Info-Cast Cayman Limited, perusahaan yang terdaftar di Kepulauan Cayman. Direktur tunggal perusahaan tersebut bernama Saleh Hussain Aldowais, nama yang juga tercatat sebagai COO Saudi Research and Media Group, salah satu kelompok media terbesar di Arab Saudi. SRMG tidak memberikan tanggapan kepada Financial Times mengenai hubungan tersebut.

Angka £650 juta bukan bukti bahwa pemerintah Saudi mengendalikan Iran International. Perusahaan offshore juga tidak otomatis berarti menjalankan operasi rahasia. Kalau setiap perusahaan yang memiliki alamat di Cayman langsung dianggap bagian dari konspirasi, dunia bisnis mungkin membutuhkan lebih banyak detektif daripada akuntan.

Namun, besarnya transaksi, struktur kepemilikan, serta hubungan personal yang tercatat dalam dokumen perusahaan tidak dapat diabaikan. Persoalan pendanaan karena itu tidak cukup dijawab dengan pernyataan bahwa Iran International dimiliki investor swasta.

Iran International juga membantah menerima pendanaan dari pemerintah atau lembaga negara mana pun, termasuk Arab Saudi dan Israel. Jaringan tersebut menyatakan pendanaan berasal dari investor komersial swasta dan menolak mengungkapkan identitas para investor.

Pernyataan tersebut merupakan posisi perusahaan. Pembaca tetap memiliki alasan kuat untuk mempertanyakan bagaimana sebuah jaringan media dapat menanggung kerugian ratusan juta pound sekaligus mempertahankan operasi internasional dalam skala besar.

Jejak Saudi Bukan Cerita Baru

Pertanyaan mengenai hubungan Iran International dengan jaringan kepentingan Saudi bukan persoalan yang baru muncul pada 2026.

Baca juga: Ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta: Mendidik Jiwa dan Menyembuhkan Luka Sosial

Investigasi The Guardian pada Oktober 2018 menyoroti dugaan hubungan finansial dan bisnis antara Iran International dengan kalangan yang memiliki kedekatan dengan lingkaran kekuasaan Saudi. Investigasi tersebut juga mengungkap struktur offshore serta hubungan sejumlah tokoh di sekitar perusahaan dengan jaringan bisnis media Saudi.

The Guardian memuat klaim sumber mengenai dukungan finansial Saudi dalam jumlah besar untuk pendirian jaringan tersebut. Iran International membantah klaim itu dan menegaskan bahwa jaringan tersebut dimiliki investor swasta serta tidak memiliki hubungan dengan pemerintah mana pun.

Klaim mengenai pendanaan Saudi belum dapat ditempatkan sebagai fakta yang terbukti. Namun, catatan mengenai hubungan bisnis dan struktur kepemilikan tersebut tetap relevan ketika temuan Financial Times pada 2026 kembali memperlihatkan nama dan jaringan yang bersinggungan dengan industri media Saudi.

Delapan tahun kemudian, Financial Times menemukan struktur keuangan Volant yang memperlihatkan transaksi utang dalam jumlah sangat besar, kepemilikan melalui perusahaan offshore, serta nama yang memiliki hubungan dengan industri media Saudi.

Tidak satu pun dari kedua laporan tersebut membuktikan kendali langsung pemerintah Saudi atas Iran International. Namun, keduanya memperlihatkan bahwa pertanyaan mengenai sumber modal, struktur kepemilikan, dan hubungan dengan jaringan kepentingan Saudi bukan isu baru. Pertanyaan itu telah mengikuti Iran International sejak awal keberadaannya.

Berita Masuk ke Medan Geopolitik

Iran International dikenal sebagai jaringan media yang sangat kritis terhadap pemerintah Iran. Pemberitaannya banyak menyoroti oposisi Iran, aktivitas militer dan keamanan, perang Iran-Israel, serta perkembangan politik Iran.

Tasnim News Agency melaporkan adanya hubungan Iran International dengan Israel, kelompok oposisi, jaringan separatis, dan pendukung Reza Pahlavi. Tasnim juga mencatat pergeseran pemberitaan jaringan tersebut ke isu militer, keamanan, dan operasi intelijen. Laporan ini menjadi relevan ketika dibaca bersama informasi mengenai struktur kepemilikan dan jaringan keuangan Iran International.

Baca juga: Kedaulatan, Konstitusi, dan Dukungan ABI terhadap Sikap Indonesia di Hadapan IOC

Arah pemberitaan juga perlu dibaca dari lingkungan politik tempat sebuah media beroperasi. Pilihan isu, sumber, narasumber, dan sudut pandang ikut membentuk cara publik memahami sebuah konflik.

Dalam persaingan geopolitik, informasi memiliki nilai strategis. Narasi yang dominan dapat memengaruhi cara sebuah peristiwa dipahami, siapa yang dipandang sebagai ancaman, dan siapa yang memperoleh legitimasi.

Karena itu, Iran International perlu dibaca melalui isi berita sekaligus struktur modal, kepemilikan, jaringan bisnis, sumber pemberitaan, dan arah editorialnya.

Ketika sebuah jaringan media beroperasi di tengah persaingan Iran, Israel, Arab Saudi, Amerika Serikat, dan kelompok oposisi Iran, pemberitaan dapat bersentuhan langsung dengan pertarungan geopolitik. Narasi yang diproduksi dalam lingkungan seperti itu berpotensi menjadi bagian dari perebutan pengaruh.

Media atau Instrumen Pengaruh

Istilah media oposisi tidak lagi cukup untuk menjelaskan keseluruhan persoalan.

Iran International memang organisasi media. Namun, sebuah organisasi media dapat menjalankan fungsi politik yang jauh lebih luas daripada produksi berita. Distribusi informasi dapat berjalan bersama pembentukan opini, delegitimasi lawan, penguatan kelompok tertentu, dan perebutan pengaruh.

Tidak ada satu pun fakta di atas yang sendirian membuktikan bahwa Iran International merupakan lembaga intelijen. Kesimpulan seperti itu membutuhkan bukti langsung yang belum tersedia dalam laporan Financial Times maupun The Guardian.

Baca juga: Membaca Pesantren dengan Keadilan: Pesantren dan Bias Jurnalisme Kita

Persoalannya muncul ketika berbagai fakta tersebut dibaca secara bersamaan.

Laporan 31 Agustus 2026 menunjukkan keterlibatan Iran International dalam pemberitaan mengenai keamanan dan operasi rahasia. Struktur keuangan Volant memperlihatkan skala modal yang sangat besar. Investigasi The Guardian menunjukkan bahwa pertanyaan mengenai hubungan dengan kepentingan Saudi sudah muncul sejak awal keberadaan jaringan tersebut. Arah pemberitaannya juga memperlihatkan posisi politik yang kuat dalam konflik Iran.

Jika seluruh unsur itu ditempatkan dalam satu gambaran, Iran International lebih tepat dibaca sebagai institusi yang bergerak di persimpangan media, politik, dan kepentingan keamanan.

Dalam kerangka editorial ini, istilah proyek keamanan dan intelijen menunjuk pada fungsi strategis sebuah jaringan media ketika produksi informasi menjadi bagian dari kepentingan politik dan keamanan yang lebih luas. Istilah tersebut tidak berarti setiap wartawan di dalamnya merupakan agen intelijen atau terlibat dalam operasi intelijen.

Karena itu, memahami Iran International tidak cukup dengan menilai benar atau salahnya satu pemberitaan. Perlu dilihat pula siapa yang memiliki kapasitas untuk membiayai, mempertahankan, dan memperluas pengaruh sebuah jaringan media ketika jaringan tersebut bekerja di tengah konflik geopolitik.

Di layar, yang terlihat adalah berita. Di belakangnya terdapat modal, kepemilikan, jaringan bisnis, kepentingan politik, dan pilihan narasi. Dari sana, pertanyaan mengenai posisi sebuah media bergeser menjadi pertanyaan tentang kekuatan yang memungkinkan sebuah narasi terus hidup, berkembang, dan menjangkau publik.

Kesimpulan: Berita, Modal, dan Agenda di Belakangnya

Pada akhirnya, Iran International sulit dibaca hanya sebagai media yang menyampaikan berita. Skala pendanaan, struktur kepemilikan, jaringan bisnis, serta fokus pemberitaannya pada oposisi, keamanan, militer, dan operasi intelijen menunjukkan bahwa kontennya perlu ditempatkan dalam konteks geopolitik yang jauh lebih luas. Tentu, ini bukan berarti setiap pemberitaannya palsu atau setiap wartawannya menjalankan operasi intelijen. Bukti untuk kesimpulan tersebut belum tersedia. Namun, menganggap seluruh kontennya sebagai berita yang berdiri sendiri juga terlalu sederhana. Dalam pertarungan geopolitik, media dapat menjadi instrumen pembentukan persepsi dan perebutan pengaruh tanpa harus secara formal menjadi bagian dari lembaga intelijen.

Karena itu, pertanyaan terhadap Iran International tidak boleh berhenti pada apa yang diberitakan, tetapi juga siapa yang menopangnya, kepentingan apa yang mengitarinya, dan agenda apa yang mungkin bekerja di balik narasi yang disebarkan.

Ketika sebuah jaringan media ditopang modal besar dan beroperasi di tengah konflik geopolitik, sulit menganggap setiap kontennya hadir tanpa kepentingan yang jauh lebih luas. Berita tetap dapat menjadi berita, tetapi di baliknya bisa bekerja untuk kepentingan, strategi, dan agenda yang jauh lebih besar daripada apa yang tampak di layar. []

Baca juga: Kaderisasi ABI: Menjemput Masa Depan dengan Tiga Pilar

Rujukan:
1. The Guardian, 31 Oktober 2018, “Concern over UK-based Iranian TV channel’s links to Saudi Arabia”.
2. Financial Times, 28 Mei 2026, “Iranian dissident news network received £650mn of debt relief”.