Internasional
Iran Ubah Strategi Pertahanan dengan Rudal Balistik Qasem Basir

Media ABI, 8 September 2026 – Iran mengubah strategi pertahanannya dari pola membalas setelah diserang menjadi penangkalan aktif, dengan rudal balistik Qasem Basir sebagai salah satu senjata utama untuk menghadapi ancaman sejak tahap awal.
Kantor Berita Iran, IRNA, dalam laporannya pada Selasa (8/9/2026), menyebut pendekatan baru itu memungkinkan Iran meningkatkan risiko dan biaya bagi pihak lawan ketika tanda-tanda ancaman serius mulai terdeteksi, sebelum berkembang menjadi serangan berskala penuh.
Baca juga: CNN Laporkan Markas CIA di Riyadh Hancur akibat Serangan Iran
Dengan strategi tersebut, Teheran ingin menentukan sendiri waktu dan lokasi respons ketika ancaman mencapai tahap yang dianggap kritis, bukan hanya menunggu serangan terjadi.
Perubahan ini didukung pengembangan rudal presisi, sistem pengintaian dan penentuan sasaran, kemampuan antikapal, pesawat nirawak, serta kapasitas operasi jarak jauh.
Qasem Basir menjadi salah satu unsur penting dalam penguatan kemampuan tersebut. Rudal berbahan bakar padat ini memiliki jangkauan sekitar 1.200 kilometer dan membawa hulu ledak seberat sekitar setengah ton.
Rudal ini menggunakan sistem pemandu elektro-optik dan pencari inframerah termal untuk mengunci sasaran. Sistem tersebut tidak bergantung pada navigasi GPS sehingga, menurut klaim Iran, tetap dapat beroperasi ketika menghadapi gangguan elektronik dan pengacauan sinyal.
Qasem Basir juga dirancang lebih ramping dan memiliki kemampuan manuver lebih tinggi dibandingkan rudal Haj Qasem. Desain tersebut ditujukan untuk meningkatkan peluang rudal menghindari sistem pertahanan udara lawan.
Baca juga: Iran dan Yaman Guncang Keunggulan Udara dan Laut Amerika
Iran mengklaim Qasem Basir mampu menembus sistem pertahanan udara canggih, termasuk THAAD dan Patriot milik Amerika Serikat. Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Tehran News melaporkan uji peluncuran Qasem Basir pada 17 April 2025 berhasil mengenai sasaran. Rudal tersebut, menurut laporan itu, tetap mencapai target meskipun mengalami gangguan frekuensi elektronik selama penerbangan.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei menegaskan setiap tanda ancaman dari pihak lawan akan mendapat respons tegas.
Selain Qasem Basir, Iran terus memperkuat sistem pengintaian udara, armada drone, kemampuan antikapal, dan kapasitas operasi jarak jauh untuk menghadapi target strategis serta meningkatkan risiko yang harus diperhitungkan pihak lawan sebelum memulai konfrontasi.
Qasem Basir menjadi bagian dari pengembangan kemampuan militer Iran yang kini diarahkan bukan hanya untuk membalas serangan, tetapi juga membangun kemampuan menghadapi ancaman sebelum konflik berkembang lebih jauh. []
Baca juga: Mantan Penasihat Obama: Ketahanan Iran Selalu Mengejutkan AS







