Ikuti Kami Di Medsos

Daerah

Ujian Kesetiaan kepada Imam Mahdi di Tengah Badai Zaman

Published

on

Foto ilustrasi Masjid Jamkaran

Bekasi, 23 Mei 2026 — Kesetiaan kepada Imam Zaman af tidak cukup diwujudkan melalui kecintaan personal. Kesetiaan menuntut kesiapan kolektif umat untuk menghadapi perubahan zaman dan menjaga arah perjuangan bersama. Pesan tersebut disampaikan Ustadz Muhlisin Turkan dalam majlis doa Kumail di Husainiyah Bina Amal, Bekasi, Kamis malam (22/5/2026).

Baca juga: Madin Al-Kubro dan Madin Mahdiyah Probolinggo Kolaborasi Peringati Wiladah Imam Mahdi

Di hadapan puluhan jamaah yang menghadiri majlis doa Kumail, Ustadz Muhlisin membuka hikmah dengan hamdalah dan shalawat, sekaligus menyampaikan ucapan selamat atas Hari Pernikahan Dua Cahaya, Imam Ali bin Abi Thalib as dan Sayyidah Fatimah Az-Zahra as yang diperingati pada awal Dzulhijjah.

Dalam hikmahnya, Ustadz Muhlisin mengangkat penggalan doa keselamatan Imam Zaman af, hatta tuskinahu ardhaka thau’an, yang bermakna “hingga Engkau menjadikan hujjah-Mu mendiami bumi dalam keadaan diterima dengan kerelaan umat”. Penggalan doa tersebut menjadi pijakan tema “Tetap Setia di Tengah Badai Zaman” yang disampaikan dalam majlis itu.

Dalam pandangannya, kata “kerelaan” dalam doa tersebut mencerminkan harapan akan lahirnya masyarakat yang siap menyambut kepemimpinan Ilahi. Dari sikap itulah kehidupan umat dibangun, baik dalam dimensi pribadi maupun sosial.

Baca juga: Ketua Dewan Syura ABI Ustadz Husein Syahab: Milad Imam Mahdi Momentum Perkuat Akidah dan Sosialisasi Mahdawiyah

“Pada zaman ini, hujjah Allah adalah Imam Al-Mahdi af yang berada dalam masa kegaiban atas hikmah Ilahi,” ujarnya.

Ustadz Muhlisin menilai, kemunculan Imam Mahdi af berkaitan erat dengan kesiapan dan kerelaan umat dalam menyambut kepemimpinan beliau. Penantian tidak dipahami sebagai sikap pasif. Penantian merupakan proses membangun loyalitas, kesiapan bersama, dan keteguhan menghadapi ujian zaman. Kesiapan itu mencakup dimensi budaya, ekonomi, politik, sosial, pertahanan, hingga keamanan umat.

Dijelaskannya bahwa sejarah para imam suci menunjukkan bagaimana ketidaksiapan umat berujung pada kemazluman hujjah Allah. Imam Ali as, Imam Hasan as, Imam Husain as, hingga para imam setelahnya disebut menghadapi pengkhianatan dan lemahnya dukungan umat terhadap kepemimpinan mereka.

Menurutnya, kondisi itu terjadi karena umat berjalan sendiri-sendiri dalam orientasi yang bersifat individual sehingga melahirkan banyak celah dan kelemahan. Karena itu, penantian terhadap Imam Zaman af tidak cukup dibangun melalui kesiapan personal semata, meskipun hal tersebut sangat penting.

Baca juga: Landasan Pemerintahan Imam Mahdi

Yang dibutuhkan, lanjutnya, adalah penantian yang dilakukan secara kolektif melalui persatuan arah perjuangan, kesiapan bersama, dan kepemimpinan umat yang terorganisasi dalam menyambut kemunculan Imam Mahdi af.

Karena itu, Allah tidak menghendaki tragedi serupa kembali terulang pada Imam terakhir. Dalam pandangannya, salah satu hikmah kegaiban Imam Zaman af ialah menunggu kesiapan umat untuk menyambut kehadiran beliau secara sukarela, sadar, dan kolektif dalam satu barisan perjuangan.

“Jangan sampai Al-Hujjah yang terakhir mengalami apa yang dialami para pendahulunya,” tuturnya.

Dalam pandangannya, persatuan kepemimpinan umat menjadi hal penting pada masa kegaiban. Berbagai aktivitas keagamaan seperti yayasan, lembaga pendidikan, majelis ilmu, maupun husainiyah dinilai belum cukup membentuk kesiapan umat apabila tidak selaras dengan kepemimpinan dan bersama-sama.

Kepemimpinan tersebut merujuk pada otoritas fuqaha yang memenuhi syarat sebagaimana disebut dalam riwayat, yakni menjaga diri, menjaga agama, menentang hawa nafsu, dan taat kepada perintah Allah.

Baca juga: Manifestasi Keadilan: Risalah Imam Mahdi dan Peran Para Pengikutnya

Dalam kerangka itu, Wali Faqih dipandang sebagai representasi Imam Zaman af dalam membimbing dan mempersiapkan umat menuju kemunculan beliau.

Ditegaskannya, makna thau’an dalam doa tersebut bukan hanya berbicara tentang kerelaan dalam kesiapan individu, melainkan kerelaan kolektif umat dalam menyambut kehadiran Imam melalui persatuan dan perjuangan yang bergerak mewujudkan program Allah SWT.

Karena itu, dalam masa kegaiban, pengorbanan dinilai menjadi bagian penting dalam proses penantian. Ustadz Muhlisin mengutip firman Allah dalam Alquran, lan tanalul birra hatta tunfiqu mimma tuhibbun (QS Ali Imran: 92), bahwa kebajikan tidak akan diraih sebelum seseorang mengorbankan apa yang paling dicintainya, termasuk hal-hal yang menjadi kebutuhan paling mendasar dalam kehidupan.

Baca juga: Ketua Umum ABI Ustadz Zahir Yahya: Kesiapan Sambut Imam Mahdi Bersifat Kolektif

Menutup hikmah, Ustadz Muhlisin menyinggung Revolusi Islam Iran yang dibangun melalui sistem politik berbasis dukungan rakyat sebagai bagian dari proses persiapan kolektif umat dalam menyambut kepemimpinan Imam Mahdi af.

Sistem tersebut tidak dapat dipahami semata sebagai milik Iran atau pemimpinnya, melainkan bagian dari jalan perjuangan untuk mempersiapkan umat menuju kemunculan Imam Zaman af.

“Sekiranya sistem itu runtuh, maka umat harus membangunnya kembali dari awal,” ujarnya.

Hikmah malam itu menegaskan bahwa penantian bukan sikap diam. Kesetiaan kepada Imam justru diuji melalui kemampuan umat menjaga persatuan, pengorbanan, dan keteguhan arah perjuangan di tengah perubahan zaman. [Moh Elyas]

Baca juga: Penanti Sejati Imam Mahdi