Ikuti Kami Di Medsos

Opini

Nakba Tak Pernah Berakhir: Dari “Israel Raya” hingga Board of Peace

Published

on

Nakba tidak pernah benar-benar berakhir
Nakba tidak pernah benar-benar berakhir dari Israel Raya hingga Board of Peace (BOP). (Foto: IRNA)

Oleh: Muhlisin Turkan

Ahlulbait Indonesia | 17 Mei 2026 — Tujuh puluh delapan tahun telah berlalu sejak 15 Mei 1948. Namun bagi rakyat Palestina, Nakba bukan peristiwa yang selesai di halaman sejarah. Nakba bukan hanya tragedi pengusiran massal, penghancuran desa-desa, atau terciptanya jutaan pengungsi Palestina. Nakba adalah kehilangan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, lalu hidup dalam ingatan orang-orang yang bahkan lahir jauh setelah tanah mereka dirampas.

Baca juga: Nakba Day Bukan Hari Merdeka, Tapi Hari Petaka!

Kunci Rumah yang Tak Lagi Memiliki Pintu

Di banyak kamp pengungsian Palestina, masih ada keluarga yang menyimpan kunci rumah dari tahun 1948. Kunci-kunci tua itu diwariskan seperti peninggalan terakhir dari kehidupan yang pernah utuh. Sebagiannya sudah berkarat. Sebagiannya tidak lagi cocok dengan pintu mana pun karena rumah yang dahulu mereka buka telah lama dihancurkan atau berdiri di atas tanah yang kini diduduki orang lain. Namun kunci-kunci itu tetap disimpan sebagai cara untuk menjaga ingatan bahwa mereka pernah memiliki rumah, halaman, pohon zaitun, dan kehidupan yang direnggut secara paksa.

Anak-anak Palestina tumbuh mendengar nama desa yang tidak pernah mereka lihat. Mereka mengenal kampung halaman melalui cerita orang tua dan kakek-nenek mereka tentang jalan sempit yang dahulu ramai, aroma roti dari dapur rumah, atau kebun yang ditinggalkan terburu-buru ketika perang datang. Sebagian lahir di pengungsian. Sebagian meninggal sebelum sempat melihat tanah yang selama hidup disebut sebagai rumah.

Nakba tidak pernah benar-benar berakhir. Bentuknya hanya berubah mengikuti zaman. Dulu, dunia menyaksikannya melalui konvoi pengungsi dan desa-desa yang dibakar. Hari ini, Nakba hadir dalam bentuk yang lebih modern dan lebih sunyi. Pendudukan tidak selalu datang melalui tank dan serdadu. Pendudukan juga bekerja melalui blokade, penghancuran infrastruktur, tekanan ekonomi, rekayasa geopolitik, fragmentasi kawasan, dan diplomasi yang dibungkus bahasa perdamaian.

Baca juga: Hari Nakba: Petaka Penjajahan Zionis Itu Bermula

Gaza dan Kehidupan yang Perlahan Dibuat Mustahil

Di Gaza, kehancuran tidak lagi hanya tampak pada bangunan yang runtuh, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari yang perlahan kehilangan bentuk normalnya. Anak-anak tidur di tenda pengungsian sambil memeluk pakaian terakhir yang berhasil diselamatkan dari rumah mereka yang hancur. Banyak ibu merebus air seadanya untuk menenangkan anak-anak yang lapar, sementara para ayah berjalan berjam-jam mencari sinyal telepon demi memastikan anggota keluarga mereka masih hidup.

Sebagian keluarga hidup berbulan-bulan tanpa listrik. Sebagian lainnya menunggu kabar kerabat yang tertimbun di bawah reruntuhan dan tidak pernah ditemukan kembali. Di banyak tempat, orang-orang tidak lagi bertanya kapan perang akan selesai. Mereka hanya berharap bisa melewati malam berikutnya tanpa kehilangan anggota keluarga lain.

Sementara itu, di Tepi Barat, pengambilalihan tanah berlangsung lebih senyap tetapi tidak kalah menyakitkan. Permukiman ilegal terus meluas. Pos-pos pemeriksaan memisahkan kota dan keluarga. Perjalanan beberapa kilometer dapat berubah menjadi berjam-jam antrean, pemeriksaan, dan penghinaan yang terus berulang.

Selama bertahun-tahun, narasi resmi Barat menggambarkan Israel sebagai negara yang mempertahankan diri. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan sesuatu yang jauh lebih besar sedang berlangsung. Pendudukan bukan hanya dipertahankan, tetapi juga diperluas melalui perubahan peta politik dan rekayasa demografis yang terus mengubah wajah kawasan. Setiap perang kemudian melahirkan situasi baru yang perlahan dianggap normal.

Karena itu, ketika kembali muncul gagasan tentang wilayah “dari Nil hingga Eufrat”, dunia sebenarnya sedang mendengar gema lama yang tidak pernah benar-benar hilang. Pernyataan Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel Mike Huckabee mengenai hak Israel atas wilayah tersebut bukan hanya memicu kontroversi politik. Bagi banyak masyarakat Timur Tengah, pernyataan itu menghidupkan kembali ketakutan lama tentang ambisi yang terus bergerak mencari bentuk baru.

Konsep “Israel Raya” mungkin masih diperdebatkan dalam ruang akademik dan politik. Namun bagi rakyat Palestina yang kehilangan rumah, tanah, dan identitas selama puluhan tahun, gagasan itu terasa nyata dalam setiap permukiman baru yang dibangun, setiap rumah yang diratakan, dan setiap keluarga yang dipaksa pergi.

Baca juga: Nakba Day: Menjaga Ingatan, Menguatkan Perlawanan

Board of Peace dan Wajah Baru Nakba

Di tengah kehancuran itu, dunia internasional kembali berbicara tentang perdamaian. Salah satu yang paling banyak diperbincangkan adalah Board of Peace atau BoP yang dipromosikan sebagai forum internasional untuk rekonstruksi Gaza pascaperang. Di atas kertas, forum itu berbicara tentang kemanusiaan, pembangunan kembali, dan stabilitas kawasan. Namun di tengah jutaan warga Palestina yang kehilangan rumah dan hidup berpindah dari satu pengungsian ke pengungsian lain, muncul pertanyaan yang jauh lebih mendasar tentang rekonstruksi untuk siapa, dan Gaza seperti apa yang hendak dibangun setelah perang berakhir.

Pertanyaan itu menjadi penting karena sejarah Palestina berkali-kali menunjukkan bahwa proyek politik internasional sering datang dengan bahasa damai, tetapi berakhir memperkuat ketimpangan kekuasaan di lapangan. Di sinilah Nakba menemukan wajah modernnya.

Jika pada 1948 pengusiran dilakukan melalui operasi militer terbuka dan penghancuran desa-desa, maka pada era sekarang pengosongan wilayah dapat berlangsung melalui perang berkepanjangan, blokade ekonomi, tekanan kemanusiaan, dan skema diplomasi global yang perlahan mengubah struktur sosial suatu wilayah. Penduduk dipaksa pergi bukan hanya karena ancaman senjata, melainkan karena kehidupan perlahan dibuat mustahil dipertahankan. Ketika rumah sakit berhenti berfungsi, sekolah berubah menjadi puing, air bersih menghilang, dan tenda pengungsian menjadi satu-satunya tempat berlindung, maka pengusiran tidak lagi membutuhkan truk militer. Orang-orang akan pergi sendiri demi menyelamatkan anak-anak mereka.

Dan mungkin di situlah Board of Peace menjadi wajah paling sunyi dari Nakba modern yang sedang berlangsung.

Baca juga: Ada “Nakba” di Indonesia

Ironisnya, dunia internasional terus berbicara tentang “solusi dua negara” pada saat wilayah Palestina justru semakin menyusut dari tahun ke tahun. Diplomasi global menghasilkan konferensi, resolusi, dan pernyataan bersama, tetapi hampir tidak pernah menghasilkan tekanan nyata yang mampu menghentikan pendudukan.

Karena itu, Hari Nakba tidak pernah benar-benar menjadi seremoni tahunan bagi rakyat Palestina. Nakba adalah pengingat bahwa penjajahan modern dapat bertahan sangat lama ketika dunia mulai terbiasa melihat ketidakadilan sebagai bagian normal dari geopolitik.

Namun sejarah juga menunjukkan satu hal lain. Tidak ada pendudukan yang benar-benar abadi. Palestina mungkin dihancurkan berkali-kali, tetapi identitas rakyatnya tidak pernah benar-benar hilang. Dari kamp-kamp pengungsian di Lebanon hingga reruntuhan Gaza, dari jalan-jalan Yerusalem hingga diaspora Palestina di berbagai penjuru dunia, ingatan tentang tanah yang dirampas tetap hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Di banyak rumah pengungsian Palestina, kunci-kunci tua itu masih disimpan. Bukan karena mereka percaya pintu rumah lama mereka masih berdiri, tetapi karena mereka menolak membiarkan dunia lupa bahwa rumah itu pernah ada. []

Baca juga: ABI Galang Kurban Solidaritas untuk Palestina, Distribusi Hingga ke Gaza