Ikuti Kami Di Medsos

Kegiatan ABI

Pesan Tokoh Muhammadiyah di Forum ABI-Gusdurian: Perbedaan Tak Boleh Menjauhkan Kemanusiaan

Published

on

KH. Nurbani Yusuf mengingatkan forum ABI-Gusdurian Pasuruan bahwa perbedaan agama dan mazhab tidak boleh mengikis kemanusiaan.
KH. Nurbani Yusuf mengingatkan forum ABI-Gusdurian Pasuruan bahwa perbedaan agama dan mazhab tidak boleh mengikis kemanusiaan.

Pasuruan, 26 Agustus 2026 — Perbedaan agama dan mazhab tidak semestinya membuat manusia saling menjauh. Di tengah keragaman itu, yang justru perlu dirawat adalah rasa kemanusiaan. Pesan tersebut disampaikan KH. Dr. Nurbani Yusuf, M.Si., Pimpinan 11 PDM Muhammadiyah Kota Batu sekaligus Wakil Ketua MUI Kota Batu, dalam diskusi “Indonesia Adil bagi Yang Makmur” di Gedung Al Qurba, Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, Senin (24/8).

Forum ABI-Gusdurian Pasuruan mempertemukan lintas agama dan mazhab untuk membahas kemanusiaan, keadilan, serta kehidupan bersama.

Forum ABI-Gusdurian Pasuruan mempertemukan lintas agama dan mazhab untuk membahas kemanusiaan, keadilan, serta kehidupan bersama.

Baca juga: Pimcab Muslimah ABI Pasuruan Gelar Seminar Membangun Keluarga Sehat dan Berkualitas

Forum yang digelar Gusdurian Kabupaten Pasuruan bersama Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ahlulbait Indonesia (ABI) Kabupaten Pasuruan itu mempertemukan peserta dari berbagai agama, organisasi kemasyarakatan, dan mazhab. Perbedaan latar belakang justru menjadi konteks penting dalam pembicaraan tentang kemerdekaan, keadilan, dan kehidupan bersama.

Nurbani mengawali uraiannya dengan mengingatkan bahwa agama semestinya mempertemukan manusia. Ketika empati melemah, perbedaan identitas mudah berubah menjadi pertentangan, termasuk di antara kelompok yang berada dalam satu rumpun agama.

Ia kemudian membawa pembicaraan pada akar sejarah tiga agama Samawi, Islam, Kristen, dan Yahudi, yang memiliki hubungan melalui Nabi Ibrahim.

“Sesungguhnya pertalian kita umat Islam dengan umat Kristiani dengan umat Yahudi itu satu ayah lain ibu. Tunggal bapak, seje mbok, gegeran terus,” ujar Nurbani.

Ungkapan itu disampaikan dengan nada ringan, tetapi pesannya tegas. Perbedaan keyakinan tidak menghapus kenyataan bahwa manusia tetap memiliki martabat yang sama. Di sinilah Nurbani mengaitkannya dengan gagasan Gus Dur tentang “nguwongno wong”, atau memanusiakan manusia.

“Sebelum menjadi Islam, sebelum menjadi Kristen, sebelum menjadi Yahudi, kita itu manusia. Ini prinsip dari Gus Dur, ‘nguwongno wong’, memanusiakan manusia,” katanya.

Baca juga: ABI Pasuruan Ajak Warga Bershalawat Lewat Program Jumat Berkah Perdana

Dari hubungan antaragama, Nurbani kemudian menyinggung persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan berbangsa: keadilan dan korupsi. Ia mempertanyakan ironi masyarakat yang dikenal religius, tetapi masih menghadapi persoalan korupsi yang begitu kuat.

Persoalan tersebut, kata dia, tidak cukup dibebankan kepada pejabat atau pemimpin. Ada tanggung jawab moral yang juga berada di tengah masyarakat.

Mengutip pemikiran Al-Mawardi tentang tata negara, Nurbani mengatakan, “Pemimpin buruk lahir dari rakyat yang buruk.”

Pernyataan itu sekaligus menjadi kritik terhadap kebiasaan mencari sumber persoalan hanya di atas. Kualitas kepemimpinan, dalam pandangan tersebut, memiliki hubungan dengan kualitas masyarakat yang membentuk dan menopangnya.

Pembicaraan kemudian menyentuh hubungan agama dan politik. Nurbani mengingatkan bahwa agama dapat kehilangan fungsi sosialnya ketika terlalu jauh ditarik ke dalam perebutan kepentingan politik.

“Agama itu kalau sudah dimasuki politik, selesai. Perang agama itu semuanya perang politik,” ujarnya.

Baca juga: Muslimah ABI Pasuruan Perkuat Kaderisasi, Cetak Muslimah Tangguh dan Visioner

Bagi Nurbani, perbedaan keyakinan tidak perlu dipertentangkan selama masing-masing orang mampu menjalankan keyakinannya dengan baik dan menghormati orang lain. Ukuran keberagamaan, dalam kehidupan bersama, juga tampak dari bagaimana seseorang memperlakukan sesamanya.

“Nabi mengajak menjadi orang baik, menjadi Kristen yang baik, Muhammadiyah yang baik, Hindu yang baik. Kalau semuanya baik, akan tenteram,” tuturnya.

Gagasan itu menjadi titik temu dalam diskusi yang mempertemukan orang-orang dari latar belakang berbeda tersebut. Tidak ada tuntutan agar perbedaan menghilang. Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk hidup bersama tanpa kehilangan penghormatan kepada sesama manusia. [HMP Pasuruan]

Baca juga: ABI Pasuruan Perkuat Kolaborasi Lintas Iman dengan Dewan Gereja