Ikuti Kami Di Medsos

Kegiatan ABI

DPW ABI DKI Jakarta Hadir dalam Ruang Dialog Lintas Keyakinan

Published

on

Dialog lintas keyakinan di Jakarta menjadi ruang bagi berbagai kelompok untuk saling mengenal, mengurangi prasangka, dan merawat kerukunan.
Dialog lintas keyakinan di Jakarta menjadi ruang bagi berbagai kelompok untuk saling mengenal, mengurangi prasangka, dan merawat kerukunan.

Jakarta, 20 Agustus 2026 — Perjumpaan lintas agama dan keyakinan tidak selalu berlangsung dalam forum besar. Kadang, ruang yang lebih sederhana justru memberi kesempatan kepada orang-orang dari latar berbeda untuk saling mengenal dan berbicara secara langsung.

Suasana semacam itu terasa dalam Dialog Interaktif Penghayat Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa Tahun 2026 yang digelar Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi DKI Jakarta di Orchardz Hotel Jayakarta, Jakarta Pusat, Kamis (20/8). Dewan Pimpinan Wilayah Ahlulbait Indonesia (DPW ABI) DKI Jakarta turut hadir dalam kegiatan yang diikuti sekitar 100 peserta tersebut.

DPW ABI DKI Jakarta bersama peserta Dialog Interaktif Penghayat Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa 2026 yang digelar Bakesbangpol Provinsi DKI Jakarta di Orchardz Hotel Jayakarta, Jakarta, Kamis (20/8/2026).

DPW ABI DKI Jakarta bersama peserta Dialog Interaktif Penghayat Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa 2026 yang digelar Bakesbangpol Provinsi DKI Jakarta di Orchardz Hotel Jayakarta, Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Baca juga: Departemen PSDM DPW ABI DKI Jakarta Gelar Pelatihan Budidaya Maggot BSF

Forum ini mempertemukan sejumlah organisasi keagamaan dan kemasyarakatan, antara lain Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI), Silaturahmi Haji dan Umroh (SAHI), DPW ABI DKI Jakarta, Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN), Forum Guru Pendidikan Agama Kristen Indonesia, serta Perkumpulan Pencak Silat Cempaka Putih Pusat Magetan.

Keragaman peserta membuat pembicaraan tidak berhenti pada persoalan penghayat kepercayaan. Toleransi, penghormatan terhadap perbedaan keyakinan, serta bagaimana kehidupan bersama tetap terjaga di tengah masyarakat Jakarta menjadi bagian penting dari dialog.

Dua narasumber mengisi sesi utama. Nofrizal, S.H., M.H. dari Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta membahas pengawasan aliran kepercayaan dan aliran keagamaan dalam masyarakat melalui fungsi PAKEM. Sementara Sulton Mu’minah, M.I.Kom., Staf Ahli Gubernur DKI Jakarta, berbicara mengenai pentingnya membangun toleransi bagi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Nofrizal mengingatkan bahwa kebebasan memeluk agama dan kepercayaan merupakan hak konstitusional setiap warga negara. Pada saat yang sama, kebebasan tersebut berjalan bersama kewajiban menghormati hak orang lain serta menjaga keamanan dan ketertiban umum.

Dalam kerangka itu, menurut Nofrizal, fungsi pengawasan Kejaksaan terhadap aliran kepercayaan dan aliran keagamaan diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara kebebasan warga negara dan kepentingan kehidupan bersama.

“Kebebasan beragama dan berkepercayaan merupakan hak yang dijamin konstitusi. Karena itu, kebebasan tersebut harus berjalan dengan tetap menghormati hak orang lain serta menjaga keamanan dan ketertiban umum. Pengawasan dilakukan dalam kerangka menjaga keseimbangan antara kebebasan warga negara dan kepentingan kehidupan bermasyarakat,” ujar Nofrizal.

Pembicaraan kemudian bergerak pada persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: bagaimana perbedaan tidak berubah menjadi jarak sosial.

Sulton Mu’minah menempatkan dialog sebagai salah satu jalan untuk membangun hubungan tersebut. Menurutnya, toleransi bukan hanya soal mengakui bahwa orang lain berbeda. Toleransi membutuhkan pertemuan, komunikasi, dan kesediaan untuk mendengar.

DPW ABI DKI Jakarta hadir dalam dialog lintas keyakinan bersama berbagai organisasi untuk memperkuat toleransi dan kerukunan di Jakarta.

DPW ABI DKI Jakarta hadir dalam dialog lintas keyakinan bersama berbagai organisasi untuk memperkuat toleransi dan kerukunan di Jakarta.

Baca juga: Menjembatani Masyarakat dan Pemerintah, Peran Ormas Jadi Fokus Pertemuan DPW ABI DKI Jakarta dan Bakesbangpol

“Dialog memberi ruang bagi setiap pihak untuk saling mendengar dan memahami secara langsung. Dengan komunikasi yang terbuka, prasangka dapat dikurangi dan perbedaan tidak lagi menjadi sekat, tetapi menjadi kekuatan untuk membangun kerukunan. Karena itu, dialog perlu dijaga sebagai proses yang berkelanjutan,” katanya.

Ia juga menyebut sejumlah ruang dialog yang telah berkembang di masyarakat, seperti Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB), komunitas lintas iman, dan desa sadar kerukunan. Menurut Sulton, dialog akan berjalan lebih efektif apabila didukung fasilitator yang netral, niat baik dari seluruh pihak, serta komunikasi yang terus terpelihara.

Bagi DPW ABI DKI Jakarta, forum tersebut menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat kelompok-kelompok yang selama ini hidup berdampingan dalam ruang sosial yang sama.

Ketua DPW ABI DKI Jakarta, Anis Muhamad, mengapresiasi pertemuan tersebut, terutama karena forum melibatkan organisasi penghayat kepercayaan yang berhimpun dalam MLKI.

“Kami mengapresiasi pertemuan seperti ini karena memberi ruang bagi berbagai unsur masyarakat untuk saling mengenal dan berdiskusi secara langsung. Para personel ABI DKI juga berkesempatan berkenalan dan berdialog dengan peserta lainnya, khususnya dengan MLKI yang mewadahi berbagai organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa,” ujar Anis.

Menurut Anis, perjumpaan seperti ini penting karena kerukunan tidak lahir hanya dari aturan, tetapi juga dari kebiasaan untuk saling mengenal dan menghormati.

Ia mengaitkan hal tersebut dengan jaminan konstitusional mengenai kebebasan beragama dan berkepercayaan. Pasal 29 ayat (2) UUD 1945 menegaskan jaminan negara terhadap kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu. Pengakuan terhadap penghayat kepercayaan dalam pelayanan administrasi kependudukan juga telah ditegaskan melalui Putusan Mahkamah Konstitusi tahun 2016.

Baca juga: DPW ABI DKI Jakarta Distribusikan Ratusan Paket Daging Kurban kepada Warga Condet

“Pertemuan ini mengingatkan kita bahwa rajutan kebangsaan harus terus dijaga melalui sikap saling mengenal dan menghormati. Penghayat kepercayaan juga telah memperoleh pengakuan dalam pelayanan administrasi kependudukan. Karena itu, hak setiap warga negara untuk memilih dan menjalankan agama atau keyakinannya harus dihormati sesuai konstitusi,” kata Anis.

DPW ABI DKI Jakarta mengirimkan 10 perwakilan dalam kegiatan tersebut. Mereka adalah Ketua DPW ABI DKI Jakarta Anis Muhamad, Wakil Ketua Ahmad Rifai, Sekretaris Bambang Irianto, Ketua Departemen Organisasi Yopy Aries Triyanto, Ketua Departemen Litbang Ahmad Taufiq, Ketua Departemen HMP Pasrah Wicaksono, Sekretaris DPD ABI Kota Jakarta Selatan Syafiq Al Kaff, Ketua Departemen Organisasi DPD ABI Kota Jakarta Timur Abu Bakar Hartanto, anggota DPD ABI Kota Jakarta Utara Lukman, serta Ketua PIMWIL Pandu ABI DKI Jakarta Mochammad Syukri.

Dialog dipandu Gunadi, S.T., M.M., Bendahara FKUB DKI Jakarta, dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga mendapat ruang untuk menyampaikan pandangan dan bertukar pengalaman mengenai persoalan kerukunan di tengah masyarakat.

Kegiatan ditutup dengan foto bersama dan ramah tamah. Di luar sesi resmi, perjumpaan berlanjut dalam suasana yang lebih cair melalui makan siang bersama.

Bagi DPW ABI DKI Jakarta, pertemuan semacam ini memiliki arti lebih dari sebuah agenda kelembagaan. Ketika kelompok-kelompok yang berbeda keyakinan bersedia duduk dalam satu ruang, mendengar satu sama lain, dan berbicara tanpa prasangka, kerukunan memperoleh bentuknya yang paling nyata: bukan hanya slogan, melainkan hubungan sosial yang dibangun dari perjumpaan. []

Baca juga: DPW ABI DKI Jakarta Distribusikan Ratusan Paket Daging Kurban kepada Warga Condet