Ikuti Kami Di Medsos

Kegiatan ABI

Sehari Setelah 17 Agustus, DPD ABI dan Warga Kediri Peringati Berdirinya NKRI

Published

on

DPD ABI Kediri bersama warga memperingati 18 Agustus 1945 sebagai Hari Berdirinya NKRI di Situs nDalem Pojok, Kediri.
DPD ABI Kediri terlibat dalam peringatan Hari Berdirinya NKRI yang telah digelar masyarakat Kediri Raya sejak 2018.

Kediri, 19 Agustus 2026 — Perayaan kemerdekaan di Kediri belum benar-benar selesai ketika kalender memasuki 18 Agustus. Sehari setelah upacara dan berbagai perayaan 17 Agustus, warga kembali berkumpul di Persada Sukarno, Situs nDalem Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri. Mereka datang untuk memperingati 18 Agustus 1945 sebagai hari berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Tasyakuran yang berlangsung Selasa (18/8) itu diikuti berbagai kalangan. Ada perwakilan Pemerintah Kabupaten Kediri, DPRD, Kemenag Jawa Timur, Polres, Kodim, pelajar, mahasiswa, organisasi kemasyarakatan, hingga komunitas dari berbagai wilayah Kediri Raya.

Baca juga: Hadapi Keterbatasan SDM, DPD dan Muslimah ABI Kediri Perkuat Kolaborasi Program Kerja

Dewan Pimpinan Daerah Ahlulbait Indonesia (DPD ABI) Kediri ikut berada di tengah kegiatan tersebut. Ketua DPD ABI Kediri Juwaini bersama Sekretaris Suswan Yunayke terlibat dalam kepanitiaan, khususnya pada bagian humas.

Sejak pagi, suasana di Situs nDalem Pojok diisi dengan kirab bendera Merah Putih, upacara kebangsaan, doa lintas agama, selamatan, dan santunan anak yatim. Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi kebangsaan yang membicarakan satu hal yang menjadi alasan utama peringatan tersebut: apa yang sebenarnya terjadi pada 17 dan 18 Agustus 1945.

Mayor Infanteri Ngatari, yang bertindak sebagai inspektur upacara, mengajak peserta melihat kembali rentang waktu yang sangat singkat antara Proklamasi dan pembentukan negara.

“Bangsa kita luar biasa dibanding bangsa-bangsa lain. Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, sehari setelah kemerdekaan, negara sudah terbentuk. Ini sekali lagi karena atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa. Karena itu, mari kita ajak seluruh anak bangsa untuk mensyukuri bukan hanya kemerdekaan, tapi juga berdirinya NKRI,” ujarnya.

Pembahasan kemudian beralih pada istilah yang selama ini lazim digunakan dalam memperingati Agustus. Akademisi Prof. Dr. Ir. Tries Edy Wahyono mengatakan 17 Agustus 1945 dan 18 Agustus 1945 merupakan dua momentum yang berbeda. Menurutnya, 17 Agustus berkaitan dengan kemerdekaan bangsa Indonesia, sedangkan 18 Agustus berkaitan dengan berdirinya negara.

Baca juga: DPD ABI Kediri Hadiri FGD SETARA Institute Bahas Indeks Kota Toleran

Tries merujuk sejumlah dokumen sejarah untuk menjelaskan pandangannya, antara lain teks Sumpah Pemuda, lirik Indonesia Raya, pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945, teks Proklamasi, dan Pembukaan UUD 1945. Menurut dia, istilah “bangsa” yang muncul dalam sumber-sumber tersebut penting untuk melihat bagaimana sejarah kemerdekaan dan pembentukan negara dipahami.

Bagi warga Kediri Raya yang selama ini menggelar peringatan tersebut, pembahasan itu sudah berlangsung cukup lama. Juwaini mengatakan kegiatan serupa telah dilakukan sembilan kali sejak 2018.

“Kediri menjadi pelopor pertama di Indonesia yang secara swadaya memperingati Hari Berdirinya NKRI,” kata Juwaini.

Peringatan tahunan itu berjalan beriringan dengan upaya membawa gagasan tersebut ke tingkat yang lebih luas. Juwaini menyebut masyarakat Kediri Raya telah melakukan audiensi dan berkirim surat kepada DPR serta pemerintah pusat. Petisi juga pernah disampaikan kepada Presiden.

Mereka mendorong agar penggunaan frasa sejarah mengenai 17 dan 18 Agustus diluruskan, sekaligus mengusulkan 18 Agustus ditetapkan sebagai Hari Berdirinya NKRI dan menjadi hari libur nasional.

Baca juga: DPD ABI Kediri Hadiri Peringatan Hari Lahir Pancasila di Situs Persada Soekarno

Menjelang siang, rangkaian acara di Situs nDalem Pojok ditutup setelah diskusi kebangsaan selesai. Namun bagi warga yang datang, peringatan itu tidak berhenti pada acara sehari. Mereka ingin perdebatan tentang dua tanggal pada Agustus 1945 tetap dibicarakan dan mendapat tempat dalam ingatan publik.

Di tempat yang menyimpan jejak sejarah Bung Karno itu, peringatan 18 Agustus kembali digelar. Bukan untuk menggantikan 17 Agustus, melainkan untuk mengingat bahwa setelah Proklamasi dibacakan, ada proses sejarah lain yang berlangsung sehari sesudahnya hingga negara Indonesia berdiri. [HMP Kediri]

Baca juga: Festival KUNO-KINI 2026 Padati Simpang Lima Gumul, Ketua DPD ABI Kediri Tampilkan Antalogi Puisi Palestina