Kegiatan ABI
DPD ABI Kota Semarang Ambil Bagian dalam Diklat Dai Kamtibmas

Semarang, 24 Oktober 2026 – Dewan Pimpinan Daerah Ahlulbait Indonesia (DPD ABI) Kota Semarang mengikuti Diklat Dai Kamtibmas yang diselenggarakan DPD LDII Kota Semarang di Astina Hall, Hotel Grasia, Sabtu (24/10). Mengusung tema “Menguatkan Toleransi, Mewujudkan Inklusi dan Membangun Kolaborasi untuk Kota Semarang”, kegiatan ini diikuti 120 peserta dari kalangan dai LDII dan perwakilan berbagai organisasi keagamaan.
DPD ABI Kota Semarang mengutus Muhammad Bilal, Ketua DPD ABI Kota Semarang, dan Ahmad Mujahid dari Departemen HMP DPW ABI Jawa Tengah. Perwakilan Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), MTA, Jamaah Ahmadiyah, dan organisasi lainnya turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Baca juga: Dari YPAC, Muslimah ABI Surabaya Memetik Pelajaran tentang Pendidikan yang Memanusiakan
Ketua DPD LDII Kota Semarang, Drs. H. Sunarto, M.Si., menegaskan bahwa diklat ini bukan semata agenda rutin tahunan, melainkan upaya membentuk dai yang menyejukkan, merangkul, peka terhadap lingkungan, dan menjadi pencerah di tengah masyarakat. Dakwah diharapkan berkontribusi dalam membangun toleransi, kerukunan, dan persatuan umat Islam.
Kepala Kesbangpol Kota Semarang, Dr. Bambang Pramusinto, S.H., S.I.P., M.Si., menilai kegiatan ini strategis untuk menjaga kerukunan di tengah keberagaman masyarakat Semarang yang berpenduduk sekitar 1,7 juta jiwa. Ia berharap dakwah yang menyejukkan dan menjunjung toleransi dapat mendukung upaya mempertahankan, bahkan meningkatkan, predikat Kota Semarang sebagai kota toleran peringkat ketiga di Indonesia.
Menurut Bambang, keberagaman suku, agama, budaya, dan aliran kepercayaan merupakan bagian dari kehidupan Semarang yang perlu dijaga bersama. Toleransi, katanya, perlu diwujudkan melalui keterlibatan warga dalam kehidupan bermasyarakat tanpa membedakan latar belakang.
Dakwah yang menyejukkan, kerukunan yang nyata
Pembahasan mengenai peran dakwah dalam masyarakat majemuk diperdalam melalui materi “Moderasi Beragama, Toleransi dan Peran Dai dalam Membangun Kerukunan serta Menjaga Kamtibmas di Kota Semarang”, yang disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Semarang, H. Muhtasit, S.Ag., M.Pd.
Muhtasit menekankan pentingnya moderasi dan toleransi dalam berdakwah.
“Dalam menghadapi masyarakat yang majemuk, seorang Dai Kamtibmas harus membangun sikap moderasi dan toleransi dalam berdakwah,” ujarnya.
Ia juga berharap para dai mampu membangun kolaborasi dengan berbagai lembaga dan masyarakat, serta menyampaikan dakwah secara santun dan menyejukkan, bukan provokatif. Menurutnya, semangat toleransi perlu tercermin dalam perilaku beragama, kehidupan bermasyarakat, hingga penyelenggaraan birokrasi.
Baca juga: Muslimah ABI Jepara Ikut “Ngopeni Sing Ora Kopen” di RPS DM Waluyotomo
Materi berikutnya, “Peran Ormas Keagamaan dalam Membangun Toleransi, Inklusi dan Kolaborasi untuk Kerukunan Masyarakat”, disampaikan Drs. H. Fakhrur Rozi, M.Ag., dosen Fakultas Dakwah UIN Walisongo sekaligus Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang.
Fakhrur Rozi menekankan bahwa kontribusi organisasi kemasyarakatan Islam perlu diwujudkan melalui langkah nyata, antara lain pelayanan sosial, penguatan ekonomi, dan resolusi konflik.
“Sebagai ormas Islam harus memberikan layanan sosial, membangun ekonomi, dan melakukan resolusi konflik agar bisa menciptakan kerukunan dan toleransi,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Semarang, KH Mustamaji, memandang kerukunan sebagai tanggung jawab bersama yang membutuhkan komitmen berbagai elemen masyarakat. Diklat ini menjadi salah satu ruang untuk memperkuat pemahaman keagamaan sekaligus kesadaran hidup berdampingan dalam keberagaman.
Selain melalui kegiatan tatap muka, panitia juga membuka akses daring untuk menjangkau para mubalig di sejumlah kecamatan. LDII berharap para dai dapat menjadi penggerak kerukunan di lingkungan masing-masing dan berkontribusi bagi masyarakat luas.
Kegiatan berlangsung lancar dengan antusiasme peserta hingga akhir acara. Keikutsertaan ABI dalam forum lintas organisasi ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus memperkuat komunikasi dan kerja sama antarelemen keagamaan di Kota Semarang.
Kerukunan tidak cukup dibangun melalui seruan, tetapi perlu dirawat melalui sikap saling menghormati, kepedulian, dan kerja sama dalam kehidupan sehari-hari. []
Baca juga: Muslimah ABI Bondowoso Kenalkan Keteladanan Sayyidah Zainab kepada Siswa SMALB







