Kegiatan ABI
Muslimah ABI Jepara Ikut “Ngopeni Sing Ora Kopen” di RPS DM Waluyotomo

Jepara, 23 Oktober 2026 — Di Rumah Pelayanan Sosial Disabilitas Mental (RPS DM) Waluyotomo Jepara, merawat manusia adalah pekerjaan yang tak pernah benar-benar usai. Dengan 12 pegawai, panti ini melayani 103 penghuni berusia 20–50 tahun. Di tengah keterbatasan sarana dan tenaga, kebutuhan perawatan dan pendampingan terus berjalan, menuntut kesabaran serta pengabdian yang kerap luput dari pandangan.
Di tempat ini, sebuah ungkapan sederhana dari bahasa keseharian masyarakat Jawa menemukan maknanya: “Ngopeni Sing Ora Kopen Ben Kopen“, yang artinya merawat mereka yang belum memperoleh pelayanan agar mendapatkan perawatan dan pendampingan yang layak. Ungkapan itu bukan hanya slogan, melainkan semangat yang menjiwai kerja pelayanan dan rehabilitasi sosial bagi penyandang disabilitas mental yang membutuhkan dukungan.

Baca juga: Muslimah ABI Bondowoso Kenalkan Keteladanan Sayyidah Zainab kepada Siswa SMALB
Semangat tersebut mengantarkan Pimpinan Cabang (Pimcab) Muslimah Ahlulbait Indonesia (ABI) Jepara bersama Pimpinan Wilayah (Pimwil) Muslimah ABI Jawa Tengah berkunjung ke panti itu pada Kamis, 22 Oktober 2026. Kunjungan ini digelar dalam rangka memperingati wiladah Sayyidah Zainab a.s., sekaligus memetik pelajaran kehidupan dari sosok wanita suci yang dikenal karena keteguhan dan kesabarannya menghadapi berbagai ujian.
Rombongan dipimpin Ketua Pimwil Muslimah ABI Jawa Tengah, Ustadzah Khadijah Firdaus, didampingi Ketua Pimcab ABI Jepara, Novita Tri Andari; anggota Bidang Sosial Pimwil, Minarti Nailil Manar; anggota Bidang Sosial Pimcab, Syarifah Nafisah Bafaqih (Icha); serta Ketua Bidang Humas, Syarifah Aqilah Assegaf.
Pada kunjungan yang berlangsung pukul 10.30–12.30 WIB itu, rombongan menyerahkan bantuan berupa 50 pasang sandal, satu mesin pompa air Sanyo Shimizu, satu blender Miyako berkapasitas satu liter, dua pasang sepatu bot, dan 119 bungkus makanan ringan untuk mendukung kebutuhan penghuni dan pelayanan panti.
Di aula, 25 penghuni yang kondisi mentalnya telah stabil mengikuti kegiatan bersama rombongan. Kepala Panti Sundarwati, SKM, M.Kes, menyampaikan terima kasih dengan penuh haru. Bantuan tersebut, tuturnya, datang ketika panti memang sedang memerlukannya.
Dalam sambutannya, Ustadzah Khadijah mengajak para penghuni meneladani Sayyidah Zainab a.s., yang menghadapi berbagai cobaan berat, termasuk menyaksikan penderitaan dan kehilangan orang-orang terdekatnya. Dari keteguhan beliau, Ustadzah Khadijah mengajak mereka yang hadir memahami bahwa setiap manusia memiliki ujiannya sendiri. Kesabaran dan kepercayaan kepada Allah menjadi kekuatan untuk menjalaninya, dengan keyakinan bahwa setiap kesabaran memiliki balasan, baik di dunia maupun di akhirat.

Baca juga: Muslimah ABI Jepara Kunjungi Ketua Fatayat NU: Merawat Keragaman dan Persaudaraan
Doa penutup mengakhiri rangkaian acara, tetapi kehangatan perjumpaan berlanjut. Beberapa penghuni melantunkan surah-surah pendek yang mereka hafal. Bingkisan makanan disambut dengan gembira. Sapaan dan percakapan sederhana mencairkan suasana, menghadirkan kedekatan yang tumbuh tanpa banyak kata.
Di Balik Kerja Perawatan
Setelah kegiatan di aula, para pengurus meninjau tempat tinggal penghuni. Di balik perjumpaan yang hangat, tersimpan tantangan pelayanan yang tidak ringan. Penghuni yang kondisinya telah stabil menempati kamar berdua dengan kasur dan kamar mandi. Sementara itu, penghuni yang belum stabil ditempatkan terpisah berdasarkan jenis kelamin, dengan pengaturan ruang yang mempertimbangkan keselamatan.
Dengan jumlah pegawai yang terbatas, pekerjaan perawatan menuntut tenaga sekaligus ketahanan emosional. Mayoritas pegawai merupakan lulusan SMA. Setiap hari, mereka menjalankan tugas yang berat, termasuk membantu memandikan penghuni yang membutuhkan pendampingan intensif.
Di tengah kesibukan itu, panti juga memberi ruang bagi keberagaman keyakinan. Setiap penghuni bebas menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaannya. Perawatan, dengan demikian, tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga menyangkut penghormatan terhadap martabat dan hak setiap manusia.
Baca juga: DP3AP2KB Jepara Sambut Positif Usulan Kemitraan Program Kerja Muslimah ABI
Dari Ruang Rehabilitasi, Lahir Karya
Kehidupan di Waluyotomo tidak hanya berkisar pada perawatan. Panti juga berupaya membuka ruang bagi penghuni untuk mengembangkan kemampuan dan menghasilkan karya. Salah satunya melalui batik Ciprat yang telah memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) dari Kementerian Hukum dan HAM serta menjadi koleksi Museum Batik Kota Pekalongan. Dalam sepuluh bulan terakhir di bawah kepemimpinan Sundar, penjualan batik tersebut mencapai Rp56 juta. Sebagian keuntungan diberikan kepada penghuni pembuat karya, dengan pengelolaan uang dilakukan oleh petugas panti.
Selain membatik, penghuni terlibat dalam pembuatan dan penjualan telur asin serta penanaman sayuran. Hasil panen yang masih terbatas dimanfaatkan untuk konsumsi sendiri. Panti juga mengolah sampah secara mandiri dan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Semarang untuk pemeriksaan kesehatan berkala.
Berbagai kegiatan itu memperlihatkan sisi lain rehabilitasi sosial: bukan hanya mendampingi mereka yang membutuhkan perawatan, tetapi juga memberi kesempatan untuk berkarya dan berkontribusi. Batik, telur asin, dan kebun sayuran menjadi bagian dari proses itu, tempat kemampuan diasah dan hasil kerja memperoleh penghargaan.

Merawat, Menumbuhkan Harapan
Kunjungan dalam peringatan wiladah Sayyidah Zainab a.s. itu mempertemukan keteladanan dengan kehidupan sehari-hari. Nilai keteguhan, kesabaran, dan pengabdian menemukan wujudnya dalam tangan-tangan yang merawat, dalam kesediaan mendampingi, serta dalam kesempatan yang diberikan kepada penghuni untuk mengembangkan kemampuan.
Di Waluyotomo Jepara, “Ngopeni Sing Ora Kopen Ben Kopen” bukan hanya tentang filosofi pelayanan, melainkan ikhtiar untuk memastikan bahwa setiap manusia memiliki kesempatan tumbuh, berkarya, dan menjalani kehidupan dengan bermakna.
Barangkali, kemanusiaan memang paling terasa dalam hal-hal yang tidak gemuruh: pekerjaan yang dilakukan berulang kali, perhatian yang diberikan dengan tulus, dan harapan yang tetap dijaga agar tak padam. []
Baca juga: Pimcab Muslimah dan DPD ABI Kediri Gelar Pelatihan Jelly Art di SLB-C Dharma Wanita







