Ikuti Kami Di Medsos

14 Manusia Suci

Ustadz Miqdad Turkan: Jangan Menitipkan Keamanan kepada Pihak Lain

Published

on

Ustadz Miqdad Turkan, anggota Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (DS ABI), menyampaikan ceramah tentang Imam Hasan al-Askari dan situasi politik pada masanya, yang ditayangkan melalui kanal Media ABI pada 21 September 2026.
Ustadz Miqdad Turkan, anggota Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (DS ABI), menyampaikan ceramah tentang Imam Hasan al-Askari dan situasi politik pada masanya, yang ditayangkan melalui kanal Media ABI pada 21 September 2026.

Media ABI, 20 Oktober 2026 – Sebuah bangsa yang menyerahkan urusan keamanannya kepada pihak asing berisiko kehilangan kedaulatan dan berada di bawah kendali pihak yang justru dapat menjadi ancaman. Kemandirian, baik bagi individu maupun organisasi, menjadi hal mendasar untuk mempertahankan kebebasan menentukan arah dan mengambil keputusan. Ketergantungan ekonomi kepada pihak lain, menurut Ustadz Miqdad, dapat membuat seseorang atau organisasi kehilangan kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri.

Pesan tersebut disampaikan Ustadz Miqdad Turkan, anggota Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (DS ABI), dalam ceramah bertema Imam Hasan al-Askari dan Situasi Politik pada Masanya, yang ditayangkan melalui kanal Media ABI pada 21 September 2026.

Ceramah tersebut disampaikan dalam rangka memperingati milad Imam Hasan al-Askari a.s. Dalam uraiannya, Ustadz Miqdad mengajak para pecinta Ahlul Bait Rasulullah SAW,. mengambil pelajaran dari keteladanan Imam Hasan al-Askari, terutama mengenai pentingnya kemandirian, kewaspadaan terhadap ketergantungan pada pihak asing, dan upaya menjaga kehormatan diri.

Rekaman ceramah dapat disaksikan melalui tautan berikut:

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Wa bihi nasta’in ‘ala umurid-dunya wad-din. Wash-shalatu was-salamu ‘ala asyrafil anbiya’i wal-mursalin.

Habibina wa syafi’ina wa qurrati a’yunina Abil Qasimi al-Mustafa Muhammad. Wa ‘ala alihi wa ashabihi al-mayamin. Amma ba’du.

Para pemirsa di mana pun berada, assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dalam rangka memperingati kelahiran Imam Hasan al-Askari a.s, pada kesempatan ini kita akan membahas Imam Hasan al-Askari dan Situasi Politik pada Masanya.

Sebagai pengantar, saya ingin mengatakan bahwa Imam Hasan al-Askari adalah imam ke-11 menurut keyakinan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah. Beliau dilahirkan di Madinah pada tanggal 10 Rabiulakhir. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau lahir pada tanggal 8 Rabiulakhir tahun 232 Hijriah. Imam Hasan al-Askari meninggal dunia pada tanggal 8 Rabiulawal tahun 260 Hijriah. Dengan demikian, usia Imam Hasan al-Askari hanya 28 tahun.

Meskipun usianya singkat, Imam Hasan al-Askari telah melakukan banyak hal. Beliau melakukan berbagai kegiatan demi keberlangsungan para pecinta Ahlulbait Rasulullah SAW., di tengah berbagai tantangan dan situasi yang sangat sulit. Imam Hasan al-Askari terbunuh di dalam penjara pada usia 28 tahun. Sebagaimana diungkapkan oleh Imam Ja’far al-Sadiq, hampir semua imam maksum dari keluarga Rasulullah SAW,. meninggal dalam keadaan terbunuh atau diracun.

Imam Ja’far al-Sadiq berkata bahwa tidak ada seorang pun di antara kami, keluarga Ahlulbait Rasulullah SAW., yang meninggal dunia kecuali terbunuh sebagai syahid atau diracun. Itulah keadaan yang dihadapi oleh para imam maksum.

Imam Hasan al-Askari dijuluki al-Askari karena beliau dan ayahnya dipaksa oleh Khalifah Abbasiyah untuk tinggal di sebuah kota bernama Samarra. Pada masa itu, Samarra dijadikan sebagai pangkalan militer oleh khalifah. Dengan demikian, para khalifah dapat mengendalikan dan mengawasi pergerakan para imam maksum, khususnya Imam al-Hadi dan Imam Hasan al-Askari.

Saudara sekalian, situasi politik yang dihadapi Imam Hasan al-Askari saat itu sungguh sangat sulit dan berat. Beliau hidup pada masa kekuasaan tiga khalifah Bani Abbasiyah, yaitu al-Mu’tazz, al-Muhtadi, dan yang terakhir al-Mu’tamid. Situasi yang dihadapi Imam Hasan al-Askari benar-benar sulit.

Kerusakan dan ketidakadilan terjadi di mana-mana. Peperangan dan pergolakan internal juga berlangsung di berbagai tempat. Peristiwa-peristiwa semacam ini turut disebabkan oleh kebijakan para penguasa sebelumnya. Al-Mutawakkil ‘ala Allah, salah seorang khalifah Bani Abbasiyah sebelumnya, telah memanfaatkan orang-orang asing sebagai pimpinan pasukan militer dan memberi mereka kendali dalam pemerintahan pada waktu itu.

Hal ini dilakukan al-Mutawakkil untuk memperkuat posisinya sebagai khalifah Rasulullah SAW., Al-Mutawakkil mengetahui bahwa posisinya sebagai khalifah Rasulullah bertentangan dengan kaidah dan hukum Islam. Oleh karena itu, untuk mempertahankan kekuasaannya, ketika merasa posisinya terancam, ia meminta bantuan orang-orang asing, seperti orang Turki dan India. Mereka kemudian diangkat ke posisi-posisi strategis, antara lain sebagai pimpinan militer, untuk mengatur pemerintahannya.

Namun, ketika menyadari bahwa para pimpinan yang diangkatnya justru mengkhianatinya, al-Mutawakkil berusaha memulihkan keadaan. Akan tetapi, situasi tidak dapat diubah. Pemberontakan terjadi hingga akhirnya al-Mutawakkil terbunuh dalam keadaan yang sangat mengerikan. Setelah al-Mutawakkil meninggal dunia dan digantikan oleh putranya, al-Mu’tazz, situasi sudah sangat kacau.

Keadaan benar-benar tidak terkendali. Kerusakan dan korupsi terjadi di mana-mana, perang internal berlangsung di berbagai tempat, dan kezaliman terjadi sedemikian dahsyat. Semua ini merupakan akibat dari perbuatan para khalifah Abbasiyah.

Ketika kerusakan dan korupsi merajalela, masyarakat pun terpecah menjadi beberapa lapisan. Ada kelompok masyarakat kaya yang didukung oleh pemerintah dan penguasa saat itu, sementara masyarakat miskin tersingkir dan terusir. Di antara kelompok masyarakat yang teraniaya, pihak yang paling dicurigai adalah para imam maksum, khususnya Imam Hasan al-Askari.

Situasi yang dihadapi Imam Hasan al-Askari terjadi akibat ketidakmampuan para khalifah pada zaman itu. Khalifah Bani Abbasiyah tidak mampu mengatur dan mengelola umat Islam, padahal mereka mengaku sebagai Khalifatur Rasulillah SAW., Oleh karena itu, sepanjang hidupnya, Imam Hasan al-Askari menghadapi berbagai tantangan yang sangat berat dan tidak mudah dilalui.

Salah satu tantangan yang dihadapi Imam Hasan al-Askari adalah kekuasaan khalifah yang zalim dan terus mengekang oposisi, yaitu orang-orang yang tidak sepakat dengan mereka. Para oposisi dihancurkan, dipenjarakan, bahkan dibunuh. Salah satu tokoh yang menjadi sasaran utama adalah Imam Hasan al-Askari. Mengapa hal itu dilakukan terhadap beliau? Karena Imam Hasan al-Askari dianggap memiliki pengaruh besar terhadap umat Islam pada masa itu.

Imam Hasan al-Askari adalah keturunan Rasulullah SAW., Jika masyarakat saat itu ditanya, mereka tentu akan memilih beliau sebagai khalifah Rasulullah SAW., Beliaulah yang dianggap layak memimpin umat dan menjabat sebagai khalifah Rasulullah SAW., Namun, Khalifah Abbasiyah tidak akan melepaskan kekuasaannya. Sebaliknya, mereka justru berusaha membunuh Imam Hasan al-Askari. Beliau beberapa kali dimasukkan ke penjara, kemudian dibebaskan, lalu dimasukkan kembali.

Imam Hasan al-Askari berkali-kali hidup dalam penjara. Tujuannya adalah membatasi beliau agar tidak dapat berkomunikasi dengan masyarakat. Itulah situasi yang dihadapi Imam Hasan al-Askari.

Dalam sebuah riwayat, seorang wazir atau perdana menteri Khalifah Abbasiyah ditanya oleh anaknya mengapa ia begitu menghormati Imam Hasan al-Askari, padahal imam tersebut dijadikan musuh oleh pemerintah.

Sang anak mempertanyakan mengapa wazir itu begitu menghormati Imam Hasan al-Askari. Sang wazir menjawab, “Dzāka imāmu al-Syī‘ati al-Hasanu ibn ‘Aliyyin al-Hādī, al-ma‘rūfu bi-Ibni al-Ridā.” Kemudian ia berkata, “I‘lam yā bunayya, law zālati al-khilāfatu ‘an Banī al-‘Abbās, mā istahaqqahā ahadun min Banī Hāshim ghayruhu.”

Maksud perkataan sang wazir kepada putranya adalah bahwa Imam Hasan al-Askari merupakan pemimpin Syiah, yakni Hasan bin Ali al-Hadi yang dikenal sebagai putra Imam Ridha. Ia kemudian berkata, “Ketahuilah, wahai anakku, seandainya kekhalifahan lepas dari tangan Bani Abbas, tidak ada seorang pun dari Bani Hasyim yang lebih berhak menerimanya selain Imam Hasan al-Askari.”

Apa alasannya? Sang wazir menjelaskan, “Li-fadlihi wa ‘afāfihi wa hadyihi wa ṣiyānati nafsihi wa zuhdihi wa ‘ibādatihi wa jamī’i akhlāqihi wa ṣalālihi.” Ia menjelaskan bahwa Imam Hasan al-Askari layak menjabat sebagai khalifah karena keutamaan dan kemuliaannya, kesuciannya, kemampuannya menjaga diri, kezuhudannya, ibadahnya kepada Allah Swt., serta akhlak dan kesalehannya.

Pernyataan tersebut merupakan pengakuan seorang wazir, seorang menteri dari salah satu penguasa Bani Abbasiyah. Hal itu menunjukkan betapa agung kedudukan Imam Hasan al-Askari di mata umat dan betapa mulia kepribadian beliau. Beliau memiliki pengaruh yang sangat besar di tengah umat. Karena itu, Khalifah Abbasiyah mengambil langkah-langkah antisipasi agar Imam Hasan al-Askari tidak melakukan perlawanan atau pemberontakan. Jika hal itu terjadi, kekuasaan Bani Abbasiyah bisa runtuh.

Itulah salah satu tindakan penguasa Abbasiyah terhadap Imam Hasan al-Askari.

Tindakan kedua, ketika masyarakat berada dalam keadaan kacau dan keamanan tidak terjamin, muncul kelompok-kelompok keagamaan yang mungkin juga dibentuk pemerintah untuk menyaingi posisi Imam Hasan al-Askari. Kelompok-kelompok tersebut diciptakan dan didanai untuk membangun opini serta menyebarkan isu yang menjatuhkan kepribadian Imam Hasan al-Askari.

Hal seperti itu kerap dilakukan pemerintah dalam keadaan kacau. Ada tokoh-tokoh tertentu yang diciptakan, dibiayai, dan didukung oleh penguasa untuk menjatuhkan lawan politiknya. Itulah yang terjadi pada masa itu. Imam Hasan al-Askari menghadapi penguasa zalim dengan berbagai kekejamannya, sekaligus menghadapi kelompok-kelompok Islam yang berusaha mencemarkan nama baik dan menjatuhkan kepribadian beliau.

Tantangan ketiga, Imam Hasan al-Askari adalah seorang imam yang memiliki tanggung jawab menjaga risalah dan agama Allah Swt. Karena itu, dalam situasi sulit tersebut, beliau senantiasa menjaga para pengikutnya. Bahkan, beliau jarang bertemu dengan mereka demi keselamatan mereka.

Siapa pun yang berhubungan dekat dengan Imam Hasan al-Askari dapat menjadi sasaran penguasa. Orang yang dekat dengan beliau dapat dikucilkan, dibunuh, atau dipenjarakan. Oleh karena itu, Imam Hasan al-Askari pernah menyampaikan pesan kepada para pengikutnya demi menjaga keselamatan mereka di mana pun berada.

Beliau berpesan, “Ketahuilah, jangan sampai ada seorang pun di antara kalian yang memberi salam kepadaku. Jangan pula memberikan isyarat dengan jari yang menunjukkan bahwa akulah imam kalian. Sesungguhnya, kalian tidak akan dapat mengamankan diri kalian.”

Pesan itu menggambarkan betapa sulitnya situasi yang dihadapi beliau. Bukan hanya keberadaan Imam Hasan al-Askari yang terancam, melainkan juga keselamatan siapa pun yang mencintai beliau, mencintai Ahlulbait Rasulullah, dan memiliki ikatan dengan beliau. Mereka pun tidak pernah aman dari ancaman penguasa.

Pada saat yang sama, Imam Hasan al-Askari juga harus mempersiapkan keadaan untuk masa berikutnya. Beliau mengetahui bahwa dirinya adalah imam ke-11, sedangkan imam ke-12 adalah imam yang dijanjikan Allah Swt. untuk mengakhiri seluruh ketidakadilan di muka bumi. Karena itu, Imam Hasan al-Askari harus mempersiapkan umat agar siap menjalani keadaan ketika mereka tidak dapat berkomunikasi langsung dengan beliau maupun dengan imam ke-12, yaitu Imam al-Mahdi a.s.

Dalam situasi sulit itu, Imam Hasan al-Askari menggunakan sistem yang sangat penting, yaitu sistem perwakilan. Siapa pun yang memiliki masalah atau ingin bertemu dengan beliau tidak harus berjumpa langsung. Jika persoalannya berkaitan dengan agama, mereka dapat menyampaikannya melalui orang-orang tertentu yang dipercaya untuk menjadi tempat bertanya dan membantu menyelesaikan persoalan agama. Sistem perwakilan inilah yang dibentuk oleh Imam Hasan al-Askari.

Dengan strategi tersebut, para pecinta beliau dapat lebih terlindungi dari ancaman dipenjarakan oleh penguasa. Di sisi lain, Imam Hasan al-Askari juga mampu menyelamatkan putranya, Imam al-Mahdi a.s. Peran Imam Hasan al-Askari dalam dakwah Islam sangat penting. Seandainya bukan karena strategi dan kecerdasan beliau, bisa jadi keberlangsungan para imam maksum akan berakhir. Rencana Allah untuk menghadirkan seorang pemimpin pada akhir zaman yang akan menegakkan keadilan di dunia pasti akan gagal. Namun, berkat kebijakan Imam Hasan al-Askari, keselamatan Imam al-Mahdi a.s. dapat terjaga.

Imam Hasan al-Askari bukan hanya mengajar, tetapi juga memberikan pelajaran kepada umat tentang cara menyikapi keadaan ketika mereka tidak dapat berjumpa dengan imam yang hadir secara lahiriah.

Saudara sekalian, sebelum Imam Hasan al-Askari meninggal dunia, para pengikut Syiah masih dapat bertemu dengan para imam mereka meskipun menghadapi ancaman. Namun, ketika Imam Hasan al-Askari menjadi imam ke-11, penguasa berusaha mengekangnya. Siapa pun yang berkomunikasi dengan beliau akan dianggap sebagai pengikutnya dan dapat diperlakukan sebagai orang yang layak dibunuh.

Keadaan yang dihadapi Imam Hasan al-Askari dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya tidaklah mudah. Bahkan ketika beliau berada di penjara, penguasa tidak membiarkannya begitu saja. Ada orang-orang yang dikirim ke penjara untuk mengawasi dan mengamati gerak-gerik beliau. Pada akhirnya, beliau wafat sebagai syahid karena diracun oleh penguasa pada zaman itu.

Saudara-saudara sekalian, para pemirsa di mana pun Anda berada, apa kesimpulan yang dapat kita ambil dari uraian ini?

Pertama, dalam kondisi apa pun, baik sebagai individu maupun sebagai organisasi, kita jangan pernah bersandar kepada orang lain. Jangan menitipkan keamanan kita kepada pihak lain. Jika kita memercayai pihak asing tanpa kewaspadaan, tanpa disadari mereka dapat menguasai kita. Saluran-saluran dan tempat-tempat strategis dapat dikuasai oleh mereka. Ketika musuh mengambil tindakan terhadap kita, pihak yang kita andalkan itu tidak akan membela atau melindungi kita.

Sebuah bangsa yang menyerahkan urusan keamanannya kepada orang asing harus menyadari bahwa bangsa itu pasti akan disingkirkan dan dikendalikan oleh musuh. Demikian pula kita sebagai pecinta Ahlulbait Rasulullah SAW.

Kedua, kita harus memiliki kemandirian, baik sebagai individu maupun sebagai organisasi. Ketika sebuah organisasi tidak memiliki kemandirian dan ekonominya bergantung kepada pihak lain, percayalah, keberadaan kita seolah-olah tidak ada bedanya dengan ketiadaan kita. Kita tidak akan dapat menentukan siapa diri kita dan tidak akan mampu melakukan sesuatu kecuali jika diarahkan oleh pihak yang mengendalikan kita.

Kemandirian sangat penting. Itulah yang dilakukan Imam Hasan al-Askari. Beliau tidak meminta bantuan kepada sembarang pihak, melainkan mengandalkan orang-orang yang diyakininya sebagai pengikut setia. Sebuah negara yang tidak memiliki kemandirian ekonomi dan hanya mengikuti tekanan pihak asing harus menyadari bahwa ketika pihak asing itu meninggalkannya, negara tersebut baru akan menyadari bahwa ia tidak memiliki apa-apa. Pada akhirnya, negara itu akan terus bergantung kepada pihak asing tersebut.

Kenyataannya, kita melihat bagaimana negara-negara Arab meminta perlindungan kepada Amerika. Namun, ketika menghadapi berbagai persoalan, Amerika pun dapat meninggalkan mereka. Negara-negara Arab itu hanya dijadikan sapi perah oleh penguasa-penguasa zalim seperti Amerika dan Israel.

Karena itu, saudara sekalian yang dimuliakan Allah, sebagai pecinta Ahlul Bait Rasulullah SAW.,kita harus memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Kita akan menghadapi banyak tantangan dan kesulitan. Namun, ingatlah bahwa tantangan dan kesulitan merupakan sunatullah yang harus kita hadapi. Kita tidak boleh bergantung kepada kekuatan lain, melainkan harus mengandalkan diri sendiri dan bertawakal kepada Allah SWT.

Hal itu dicontohkan oleh saudara-saudara kita di Iran dan Yaman, serta oleh saudara-saudara kita di Palestina dan Lebanon. Mereka menunjukkan keagungan, kemuliaan, dan harga diri yang harus kita jaga. Jangan sampai, ketika menghadapi kesulitan, kita menjual harga diri dan kemandirian kita hingga kehilangan kedaulatan.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW., pernah bersabda, “Utlubul hawa’ija bi ‘izzatil anfus.” Mintalah kebutuhanmu dengan tetap menjaga kehormatan diri.

Dalam situasi apa pun, kita pasti akan menghadapi keadaan yang sulit. Kita perlu mencari jalan keluar, tetapi solusi yang kita tempuh tidak boleh merendahkan harga diri kita sebagai pecinta Ahlul Bait Rasulullah SAW., dan pengikut Imam Hasan al-Askari. Kita tidak boleh menyerah pada keadaan. Sebaliknya, kita harus tetap menjaga kehormatan dan harga diri sebagai seorang pecinta.

Dalam sebuah riwayat, Imam Hasan al-Askari mengatakan bahwa siapa pun yang menanam kebaikan akan menuai kebahagiaan, sedangkan siapa pun yang menanam keburukan akan menuai penyesalan.

Kita harus menanamkan kebaikan, membangun rasa percaya diri, dan membangun komunitas kita sendiri dengan kemampuan kita sendiri. Kita tidak boleh menggantungkan diri kepada pihak lain.

Dengan demikian, kita akan senantiasa mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan dari Allah SWT. Sebaliknya, apabila kita mempercayakan keamanan dan ekonomi kepada pihak lain, kita pasti akan hidup dalam kehinaan. Bangsa mana pun yang hidupnya bergantung kepada negara lain, baik ekonominya maupun keamanannya, akan menjadi bangsa yang hina di hadapan bangsa-bangsa lain.

Mudah-mudahan apa yang kita sampaikan ini bermanfaat bagi kita semua.

Wa akhirul kalam, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. []