Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

WSJ: Tekanan Serangan Iran Picu AS Kurangi Kehadiran Militer di Kuwait

Published

on

Ahlulbait Indonesia, 31 Juli 2026 — Serangkaian serangan rudal dan drone Iran terhadap pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di Kuwait mulai mengubah strategi militer Washington di kawasan Teluk. The Wall Street Journal (WSJ) melaporkan Pentagon kini mempercepat pembahasan pengurangan kehadiran militernya di Kuwait setelah pangkalan-pangkalan AS berulang kali menjadi sasaran serangan.

Langkah tersebut menandai perubahan signifikan. Selama lebih dari tiga dekade sejak Perang Teluk 1991, Kuwait menjadi salah satu basis militer terbesar Amerika Serikat di Timur Tengah. Namun, menurut WSJ, perang dengan Iran membuat keberadaan pasukan dalam jumlah besar justru dinilai semakin rentan terhadap serangan rudal dan drone.

Mengutip pejabat Amerika Serikat yang mengetahui pembahasan internal Pentagon, WSJ menyebut rencana pengurangan pasukan sebenarnya telah dibahas sebelum konflik dengan Iran. Akan tetapi, intensitas serangan Iran membuat evaluasi itu dipercepat sebagai bagian dari penyesuaian strategi Washington.

Dalam beberapa bulan terakhir, Iran dilaporkan menyerang berbagai target di Kuwait, termasuk pangkalan militer Amerika. Salah satu serangan pada Maret lalu bahkan menewaskan enam personel militer AS, menunjukkan bahwa pangkalan yang selama ini menjadi simbol dominasi militer Amerika di kawasan tidak lagi sepenuhnya aman.

Perkembangan ini menjadi salah satu indikasi bahwa strategi pencegahan Iran melalui kehadiran militer besar-besaran tidak lagi berjalan seperti sebelumnya. Sebaliknya, Washington kini mempertimbangkan model penempatan pasukan yang lebih kecil dan lebih fleksibel untuk mengurangi kerentanan terhadap serangan rudal jarak jauh.

Douglas Silliman, mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Kuwait, mengakui situasi tersebut menempatkan Kuwait dalam posisi sulit.

“Serangan-serangan itu membuat masyarakat Kuwait memandang kehadiran Amerika sebagai sebuah liabilitas, tetapi pada saat yang sama juga mutlak diperlukan untuk mempertahankan Kuwait,” kata Silliman, seperti dikutip The Wall Street Journal, Jumat 31 Juli 2026.

Meski tetap mempertahankan kerja sama keamanan dengan Washington, Kuwait kini juga berupaya memperkuat pertahanannya melalui pengadaan sistem pertahanan udara baru dan memperluas kerja sama militer dengan negara lain.

Laporan WSJ menunjukkan bahwa tekanan militer Iran tidak hanya berdampak pada keamanan pangkalan-pangkalan Amerika, tetapi juga memaksa Pentagon meninjau ulang strategi yang selama puluhan tahun menjadi fondasi kehadiran militer AS di kawasan Teluk.

Continue Reading