Internasional
Panglima IRGC Peringatkan AS, Tuntutan atas Darah Pemimpin Syahid Tak Akan Pernah Padam

Ahlulbait Indonesia, 10 Juli 2026 — Panglima Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat dan pihak-pihak yang disebut sebagai musuh Republik Islam serta Poros Perlawanan. Menurutnya, pembunuhan terhadap pemimpin syahid tidak akan mampu memadamkan keyakinan rakyat maupun menghentikan arah perjuangan yang telah dibangun selama puluhan tahun. Penegasan itu disampaikan dalam pesan resmi yang dipublikasikan Sepah News, Jumat, 10 Juli 2026, seusai rangkaian pemakaman yang dihadiri jutaan pelayat dari Iran, Irak, dan berbagai negara.
Dalam pesan tersebut, Panglima IRGC menegaskan bahwa tuntutan atas darah pemimpin syahid akan tetap menjadi komitmen yang tidak akan pernah dilupakan hingga para pelaku, pihak yang memerintahkan, serta pendukung pembunuhan tersebut dimintai pertanggungjawaban. Menurutnya, tuntutan itu merupakan hak yang sah dan akan terus diperjuangkan sampai keadilan ditegakkan.
Baca juga: Dari BrahMos hingga Sabang: Saatnya Indonesia Berhenti Menjadi Bangsa Pembeli
Selain menegaskan sikap tersebut, Panglima IRGC menyampaikan penghargaan kepada rakyat Iran, pemerintah, aparat keamanan, panitia penyelenggara, serta seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan prosesi penghormatan terakhir. Menurutnya, besarnya partisipasi masyarakat menunjukkan bahwa wafatnya pemimpin syahid tidak melemahkan tekad bangsa Iran maupun Poros Perlawanan, tetapi justru memperkuat solidaritas dan kesinambungan perjuangan.
Panglima IRGC menggambarkan prosesi pemakaman sebagai kebangkitan iman, manifestasi kesetiaan terhadap budaya Asyura, sekaligus pembaruan baiat terhadap cita-cita yang diperjuangkan pemimpin syahid. Kehadiran masyarakat dari berbagai lapisan, katanya, bukan hanya menarik perhatian dunia, tetapi juga memperlihatkan ketahanan politik dan sosial Republik Islam di tengah tekanan eksternal.
Menurut Panglima IRGC, rangkaian pemakaman telah berkembang menjadi simbol persatuan nasional dan regional. Kehadiran jutaan pelayat dari Iran, Irak, dan berbagai penjuru dunia dipandang sebagai penegasan eratnya hubungan antarbangsa Muslim sekaligus memperlihatkan kuatnya dukungan terhadap Poros Perlawanan yang selama ini menjadi salah satu pilar strategi kawasan Teheran.
Ia menyebut gelombang kehadiran masyarakat sebagai “gema tuntutan atas darah pemimpin syahid” yang lahir dari keyakinan agama dan semangat perjuangan. Dalam pandangannya, syahadah bukan akhir sebuah perjalanan, melainkan awal babak baru yang memperkuat martabat, ketahanan, dan kesinambungan perjuangan.
Pesan tersebut juga memberikan perhatian khusus kepada pemerintah dan rakyat Irak. Panglima IRGC menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan prosesi penghormatan di Najaf dan Karbala yang dinilai berhasil memperlihatkan persatuan dua bangsa Muslim di hadapan dunia. Menurutnya, kebersamaan itu menjadi cerminan solidaritas yang terus dipertahankan di tengah dinamika kawasan.
Baca juga: Syahid Imam Ali Khamenei Akan Dimakamkan di Dekat Raudhah Suci Imam Ridha
Ia kembali menegaskan bahwa tuntutan atas darah para syuhada bukan reaksi emosional sesaat, melainkan komitmen jangka panjang yang akan tetap hidup dalam memori kolektif bangsa Iran dan seluruh pendukung Poros Perlawanan.
“Tuntutan atas darah para syuhada dan penghukuman terhadap pelaku, pihak yang memerintahkan, serta para pendukung kejahatan ini merupakan tuntutan yang pasti, sah, dan tidak akan pernah dilupakan,” demikian substansi pernyataan Panglima IRGC dalam pesan resminya.
Menutup pesannya, Panglima IRGC memastikan Garda Revolusi bersama seluruh angkatan bersenjata Iran dan unsur-unsur Poros Perlawanan akan terus melanjutkan jalan yang ditinggalkan pemimpin syahid di bawah komando Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Imam Sayyid Mojtaba Khamenei. Menurutnya, darah para syuhada akan tetap menjadi sumber kebangkitan, persatuan, dan keteguhan bagi bangsa Iran serta seluruh kekuatan yang berada dalam Poros Perlawanan.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu sikap resmi IRGC yang paling tegas sejak berakhirnya rangkaian pemakaman nasional. Selain menegaskan keberlanjutan arah strategis Republik Islam, pesan itu memperlihatkan bahwa pergantian kepemimpinan tidak mengubah komitmen Iran terhadap Poros Perlawanan maupun tuntutan pertanggungjawaban atas pembunuhan pemimpin yang mereka sebut sebagai syahid. []
Baca juga: Arab Saudi, UEA, dan Qatar Terlibat dalam Serangan Terbaru terhadap Infrastruktur Iran







