Internasional
Bank Sentral Iran Tepis Trump: Devisa Negara Masih Melimpah

Media ABI, 1 September 2026 — Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati menepis pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut Iran telah bangkrut dan tidak memiliki uang. Menurut Hemmati, Iran masih memiliki cadangan valuta asing dalam jumlah besar dan telah menyediakan 18 miliar dolar AS sejak awal tahun kalender Iran.
Baca juga: Dari Ketergantungan hingga Bavar 373: Jalan Panjang Iran dalam Menjaga Langitnya
“Devisa kami ada, bahkan sangat banyak,” kata Hemmati pada Selasa dalam konferensi perbankan Islam, seperti dikutip Kantor Berita Fars.
Pernyataan itu disampaikan sebagai tanggapan atas komentar Trump yang baru-baru ini menyebut rakyat Iran tidak memiliki uang dan telah bangkrut.
Hemmati mengatakan tekanan sanksi yang terus diumumkan Washington tidak membuat Bank Sentral Iran maupun lembaga-lembaga ekonomi negara itu berhenti bekerja.
“Orang-orang Amerika setiap hari mengatakan bahwa mereka akan mengumumkan satu sanksi setiap pekan. Silakan saja. Kami juga sedang menjalankan pekerjaan kami. Bank Sentral dan bagian lain dari sistem ekonomi negara tidak tinggal diam,” katanya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent mengatakan Washington akan terus memperluas sanksi terhadap pihak-pihak yang memiliki hubungan keuangan dengan Iran. Pernyataan itu disampaikan setelah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah lembaga keuangan asing terkait Iran.
Baca juga: Iran Tidak Akan Diam terhadap Agresi dari Mana Pun
“Dari sanksi-sanksi ini, kalian akan melihat lebih banyak lagi setiap pekan,” kata Bessent.
Menurut Hemmati, kebutuhan valuta asing Iran dipenuhi melalui sejumlah sumber. Di antaranya minyak yang masih dalam perjalanan, cadangan yang tidak dapat diblokir, serta aset yang berada di luar jangkauan pemblokiran.
Sumber-sumber tersebut, menurutnya, memungkinkan Iran tetap memenuhi kebutuhan valuta asing di tengah tekanan sanksi yang terus diperketat Amerika Serikat. []
Baca juga: Bersitegang dengan Pete Hegseth, Menteri Angkatan Darat AS Mundur







