Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Washington Post Soroti Biaya Perang Iran yang Ditutup-tutupi Trump

Published

on

Dewan Editorial The Washington Post menyoroti biaya perang terhadap Iran, tekanan terhadap pasukan Amerika, dan tuntutan agar pemerintahan Trump lebih terbuka kepada publik.
Dewan Editorial The Washington Post menyoroti biaya perang terhadap Iran, tekanan terhadap pasukan Amerika, dan tuntutan agar pemerintahan Trump lebih terbuka kepada publik.

Media ABI, 1 September 2026 – Pemerintahan Donald Trump dinilai tidak terbuka kepada publik Amerika mengenai biaya sebenarnya dari perang terhadap Iran, termasuk dampaknya terhadap kesiapan militer Amerika Serikat yang kini menghadapi tekanan akibat pengerahan pasukan berkepanjangan dan menyusutnya persediaan persenjataan.

Penilaian itu disampaikan Dewan Editorial The Washington Post dalam editorial berjudul “The true cost of the Iran war”, yang terbit pada 31 Agustus 2026. Subjudul editorial tersebut menegaskan bahwa para jenderal memiliki alasan kuat untuk mengkhawatirkan sumber daya militer yang semakin terkuras.

Menurut surat kabar itu, perang terhadap Iran dimulai dengan pengawasan yang minim dan kemudian dijalankan dengan tingkat kerahasiaan yang tinggi. Pemerintah, tulis dewan editorial, secara sistematis berusaha menyembunyikan dari rakyat Amerika biaya sebenarnya dari perang yang dipilih Trump, termasuk konsekuensinya terhadap kesiapan militer.

Baca juga: Bank Sentral Iran Tepis Trump: Devisa Negara Masih Melimpah

Sorotan tersebut berkaitan dengan laporan mengenai kekhawatiran sejumlah pemimpin militer AS terhadap perang yang terus berlanjut. Mereka memperingatkan Menteri Perang Pete Hegseth bahwa operasi besar dan berkepanjangan terhadap Iran tidak dapat dipertahankan tanpa risiko melemahkan kemampuan Amerika menghadapi ancaman di kawasan lain, termasuk di dalam negeri.

Kekhawatiran itu juga tercermin dalam sebuah dokumen tertanggal 14 Agustus. Sejumlah komandan yang membawahi pasukan Amerika di Eropa, Asia, dan Amerika Latin, bersama seorang perwira tinggi Angkatan Laut, menyampaikan keberatan terhadap perintah untuk meningkatkan pengerahan pasukan dalam perang terhadap Iran.

Meski keberatan, mereka tetap akan menjalankan perintah tersebut.

Juru bicara Departemen Perang AS Sean Parnell mengatakan perbedaan pendapat seperti itu lazim terjadi di lingkungan militer dan terus diketahui oleh Hegseth. Parnell juga membantah sebagian besar laporan mengenai persoalan tersebut.

Bagi Dewan Editorial The Washington Post, kekhawatiran para komandan bukan tanpa alasan. Pasukan Amerika disebut telah dikerahkan secara berlebihan, dengan dampak yang mulai terasa terhadap moral personel. Pada saat bersamaan, persediaan sejumlah persenjataan penting terus menyusut.

Editorial tersebut mencatat sekitar seperempat pesawat nirawak Reaper milik Pentagon telah digunakan. Satu-satunya kapal induk Angkatan Laut AS yang sebelumnya berada di Pasifik juga dipindahkan ke Timur Tengah pada awal bulan ini. Situasi itu disebut turut menimbulkan kekhawatiran di kalangan sekutu Washington.

Namun, persoalan yang dipersoalkan dewan editorial tidak berhenti pada keterbatasan sumber daya.

Baca juga: Dari Ketergantungan hingga Bavar 373: Jalan Panjang Iran dalam Menjaga Langitnya

Enam bulan setelah perang dimulai, surat kabar itu kembali mempertanyakan dasar keputusan Trump membawa Amerika Serikat ke dalam konflik. Menurut editorial tersebut, Trump memulai perang preemptif tanpa menjelaskan secara meyakinkan bahwa langkah itu diperlukan bagi kepentingan nasional Amerika.

Trump juga dinilai tidak pernah mengemukakan strategi dan tujuan akhir perang secara jelas serta tidak meminta persetujuan Kongres.

Pemerintah dan para pendukungnya berpendapat bahwa pengungkapan informasi mengenai tekanan terhadap militer dapat melemahkan daya tangkal Amerika. Dewan Editorial The Washington Post memiliki pandangan berbeda. Menurut mereka, persoalan itu justru tidak dapat dilepaskan dari cara Trump memandang perang.

Editorial tersebut menyinggung keberhasilan operasi Amerika yang menyingkirkan Nicolás Maduro di Venezuela. Dewan editorial menilai keberhasilan itu tampaknya membuat Trump percaya bahwa perubahan kekuasaan di Teheran juga dapat dicapai dengan mudah.

Perhitungan itu, menurut editorial tersebut, kini berhadapan dengan kenyataan yang berbeda. Perang tidak menghasilkan jalan keluar cepat, melainkan berkembang menjadi konflik yang semakin sulit dilepaskan.

Baca juga: Trump: Perang Melawan Iran Hanya Konflik Kecil bagi Amerika

Dalam situasi seperti itu, The Washington Post menilai Trump ingin kembali menaruh persoalan Iran di belakang agenda politik, setidaknya hingga pemilihan paruh waktu berlangsung.

Bagi Dewan Editorial The Washington Post, persoalan perang Iran pada akhirnya tidak hanya menyangkut berapa banyak senjata yang digunakan atau seberapa berat beban yang harus ditanggung pasukan Amerika. Yang juga dipertaruhkan adalah keterbukaan pemerintah kepada publik mengenai perang yang telah dimulai atas keputusan presiden.

Tanpa mengetahui biaya dan konsekuensi sebenarnya dari perang tersebut, pemilih Amerika, menurut editorial itu, tidak akan memiliki dasar yang cukup untuk meminta pertanggungjawaban dari para pemimpin yang mereka pilih. []

Baca juga: Bersitegang dengan Pete Hegseth, Menteri Angkatan Darat AS Mundur