Daerah
Tirakatan Lintas Agama di Balikpapan, Rawat Persatuan dalam Semangat Kemerdekaan

Balikpapan, 16 Agustus 2026 — Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momentum bagi masyarakat Balikpapan untuk memperkuat persaudaraan di tengah keberagaman.
Hal itu terlihat dalam kegiatan tirakatan lintas agama yang digelar di Pendopo Carlo Bartolini, Dahor, Balikpapan, Sabtu (16/8/2026) malam. Kegiatan yang dimulai pukul 19.30 WITA tersebut diikuti masyarakat dari berbagai latar belakang keyakinan.
Tirakatan tidak hanya menjadi bagian dari tradisi memperingati kemerdekaan, tetapi juga menjadi ruang bagi warga untuk berkumpul, berdoa, dan merawat kebersamaan sebagai sesama anak bangsa.
Dalam suasana penuh keakraban, para peserta bersama-sama memanjatkan doa bagi Indonesia, mulai dari harapan akan kedamaian, persatuan, hingga kemajuan bangsa.
Rangkaian kegiatan diawali dengan doa yang dipimpin Suster Theresia. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan puisi, pemotongan tumpeng lintas agama, pertunjukan silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), serta sejumlah pertunjukan budaya.
Berbagai kegiatan tersebut menjadi bagian dari pesan yang ingin disampaikan dalam peringatan kemerdekaan: keberagaman tidak semestinya menjadi penghalang untuk membangun kebersamaan.
Dalam sambutannya, Prayitno mengatakan tirakatan merupakan salah satu bentuk rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia sekaligus penghormatan kepada para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan.
Menurut dia, momentum kemerdekaan juga perlu diisi dengan memperkuat kepedulian dan persaudaraan antarsesama warga.
Tirakatan lintas agama, kata Prayitno, menjadi sarana untuk menumbuhkan semangat bela rasa, mempererat silaturahmi, serta membangun hubungan yang lebih baik antarumat beragama.
“Semangat kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang perjuangan para pahlawan, tetapi juga bagaimana kita menjaga persaudaraan dan kebersamaan sebagai bangsa,” menjadi pesan yang mengemuka dalam kegiatan tersebut.

Rangkaian acara kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Yadi dari Ansor Kota. Doa penutup selanjutnya disampaikan Sayyid Ahmad Buftain dari DPP Ahlulbait Indonesia (ABI).
Pertemuan lintas agama tersebut menunjukkan bahwa peringatan kemerdekaan dapat menjadi ruang bersama bagi masyarakat untuk merawat persatuan tanpa menghilangkan identitas dan keyakinan masing-masing.
Di tengah keberagaman Indonesia, semangat kemerdekaan pada akhirnya bukan hanya tentang perayaan, melainkan juga tentang menjaga ruang kebersamaan, menghormati perbedaan, dan memastikan persaudaraan tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat.
Melalui tirakatan tersebut, masyarakat Balikpapan kembali diingatkan bahwa kemerdekaan yang diwariskan para pendahulu bukan hanya untuk dirayakan, tetapi juga untuk dirawat bersama.

